MANGUPURA, BALI EXPRESS - Ada lima pura dalam satu area, jarang ditemui di Bali, seperti yang ada di Pura Griya Sakti Teges di Banjar Tagtag, Sibang Gede, Abiansemal, Badung, Bali. Pura ini banyak didatangi oleh orang yang berbeda kawitan.
Setiap pura memiliki perbedaan, umumnya dikarenakan sebagai pura keluarga, pura umum ataupun pura desa adat. Perbedaan tersebut membuat panyungsung pura berlatar dari orang berbeda, kecuali pura umum yang bisa didatangi oleh semua orang untuk bersembahyang. Namun, Pura Griya Sakti Teges jadi sedikit berbeda dengan pura pada umumnya. Pasalnya,
terdapat lima pemujaan yang berbeda, berada dalam satu kawasan di Pura Griya Sakti Teges yang terletak di Banjar Tagtag, Sibang Gede, Abiansemal, Badung. Mulai dari Merajan Keluarga, Pura Kawitan, Pura Ida Batari Sakti Ratu Mas, Pura Siwa, dan Pura Sakti Manuaba.
Menurut pemangku Pura Griya Sakti Teges, Jro Mangku I Made Suriana, 58, Pura Griya Sakti Teges dahulunya adalah sebuah griya yang juga memiliki seorang sulinggih, sehingga nama griya tetap disandang pada nama pura. Namun, sudah beberapa generasi tidak ada lagi keluarga yang menjadi sulinggih. Dia tidak bisa menjelaskan alasan pastinya, namun sampai saat ini masih banyak peralatan upacara yang digunakan oleh seorang sulinggih tersimpan dengan baik di rumahnya.
Pria yang telah 20 tahun menjadi pemangku tersebut menerangkan sejarah pura tidak diketahui pasti, sebab catatan tertulisnya tidak ada.
Dari kelima pura yang ada, Pura Siwa dan Pura Ida Batara Sakti menjadi dua pura yang unik. Pura (Merajan) Keluarga dan Pura Kawitan adalah pura yang berhubungan dengan keluarga Jro Mangku I Made Suriana, sedangkan Pura Sakti Manuaba merupakan pasimpangan Pura Pusat Kawitannya di Tegalalang, Gianyar.
“Kalau dua pura lainnya, Pura Siwa dan Pura Ida Batara Sakti itu berbeda, tidak terkait dengan keluarga,” ujar Jro Mangku I Made Suriana kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Dijelaskannya, di Pura Ida Batara Sakti Ratu Mas ada tapakan (sosok yang disakralkan) Barong Banaspati Raja dan Rangda Ratu Mas.
"Tapakan sudah didapati sejak dahulu, dan jarang sekali digunakan untuk masolah. Pada saat piodalan ageng, tapakan pura ini hanya dipundut. Kalau ada karya besar kadang baru masolah, ,” terangnya.
Bila tapakan masolah (menari), lanjutnya, seekor babi kecil alias kucit dipersembahkan atau disambleh.
Jro Mangku I Made Suriana tidak mengetahui alasan mempersembahkan kucit ini yang sudah menjadi tradisi. Di samping itu, orang tuanya dahulu tidak pernah menceritakan alasan penggunaan babi ini, juga tentang cerita keunikan tapakan di Pura Ida Batara Ratu Sakti Mas.
Jro Mangku I Made Suriana menjelaskan, Pura Siwa statusnya tertinggi dari kelima pura, dan menjadi tempat sembahyang bagi siapapun.
Walaupun yang menjadi penyungsung utama hanya 22 Kepala Keluarga (KK), namun ketika piodalan di Pura Siwa banyak orang luar desa yang datang. Bahkan hingga datang dari kabupaten lainnya di Bali, seperti Tabanan dan Jembrana.
Keistimewaan Pura Siwa, lanjutnya, tidak memandang soroh atau caturwarna pun untuk bisa datang sembahyang. Pamedek yang datang pun dahulunya tidak tahu keberadaan pura ini. Dikatakannya, banyak pamedek yang tiba-tiba datang ke pura setelah mendapat petunjuk niskala. Petunjuknya bahwa mereka harus mencari Siwa.
"Siwa lebih tinggi dari kawitan, semua berasal dari Beliau, sehingga siapa pun boleh datang memujanya, tidak dibatasi soroh ataupun ikatan keluarga," urainya.
Bahkan, ada pamedek yang akhirnya menangis karena akhirnya bisa sampai ke Pura Siwa yang piodalannya jatuh saat Anggara Kasih Julungwangi. "Ada juga yang mengalami masalah dalam keluarga, dan jalan keluarnya harus sembahyang ke Pura Siwa," tuturnya.
Jro Mangku I Made Suriana tidak mengetahui jelas kenapa semua itu bisa terjadi. Dirinya hanya meyakini tentang Siwa sebagai keutamaan dalam memuja dan lebih tinggi dari kawitan, sehingga siapapun bisa datang bersembhayang dan berdoa pada Beliau.
Lantaran ada lima pura , maka ada lima kali piodalan. Piodalan di Pura Siwa pada Anggara Kasih Julungwangi, Pura Ida Batara Ratu Mas Sakti pada Anggara Kasih Tambir, Pura Ibu di Buda Cemeng Menail, Pura Kawitan ketika Saniscara Umanis Watugunung, dan Pura Sakti Manuaba saat Anggara Kasih Medangsia.
“Hanya saat piodalan di Pura Siwa semua pura dihias dan dihaturkan banten tiap palinggihnya, karena ini pemujaan kepada Beliau yang tertinggi dan panjak-panjaknya (manifestasinya),” terang Jro Mangku I Made Suriana.
Walau dalam satu area selama puluhan tahun bahkan lebih, diakuinya tidak ada efek negatif pada pangempon pura ataupun pada penghuni griya dari keluarga Jro Mangku I Made Suriana. "Semuanya baik-baik saja, tidak pernah terjadi hal-hal aneh akibat menyatunya lima pura dalam satu area," urainya.
Pura ini diakui punya rencang (sosok penjaga gaib) yang dilihat oleh beberapa orang yang lewat di depan pura. “Bukan saya yang lihat, jadi percaya tidak percaya konon orang dengan ukuran besar dan anak-anak kecil jadi rencang pura di sini. Sejumlah orang lewat, tanpa sengaja melihatnya. Jadi, kepastiannya saya tidak tahu,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra