Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kayu Jelema di Pura Bolo Diyakini Sembuhkan Penyakit Sekala Niskala

I Putu Suyatra • Senin, 16 Maret 2020 | 18:21 WIB
Kayu Jelema di Pura Bolo Diyakini Sembuhkan Penyakit Sekala Niskala
Kayu Jelema di Pura Bolo Diyakini Sembuhkan Penyakit Sekala Niskala


GIANYAR, BALI EXPRESS - Sebuah pura unik terdapat di Banjar Gagah, Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali. Namanya Pura Bolo. Konon berawal dari kata 'Bala' yang berarti prajurit. Pura ini diyakini sebagai  tempat peristirahatan Rsi Markandya sebelum ke Pura Pucak Payogan, Ubud. ‘


 


Selain namanya yang unik, Pura Bolo  diyakini menyimpan “berkah” yang luar biasa bagi yang menderita sakit 'tidak karuan' atau diakibatkan sekala dan niskala. Sebab, di kawasan suci ini ada  pohon Kayu Jelema, yang  getahnya berwarna merah mirip darah, dan kulitnya  bisa dijadikan obat.


 


Khususnya dijadikan boreh (racikan ramuan untuk lulur). Sampai saat ini, pohon Kayu Jelema setinggi  50 meter dengan diameter 2 meter ini, masih berdiri tegak di jaba sisi pura.



Pemangku Pura Bolo, Jero Mangku Nyoman Rebit Sukarya saat ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group ) pekan lalu, menjelaskan sejarah Pura Bolo  didapatkan dari cerita lelingsirnya terdahulu. Diakuinya, secara tertulis sejarah pura memang tidak  lengkap, karena di beberapa buku hanya menyebutkan secara sepintas saja keberadaan pura. “Menurut cerita lelingsir terdahulu, Pura Bolo ini ada kaitannya dengan sejarah Rsi Markandya dari daerah Taro hingga ke Pura Pucak Payogan di Ubud.  Katanya pura ini dahulu bernama Pura Bala, yang berarti seorang prajurit, panjak, kemudian lama-lama menjadi Pura Bolo,” paparnya.



Pura Bolo merupakan Pura Dang Kahyangan yang terdapat di Banjar Gagah, Desa/Kecamatan Tegallalang, Gianyar. Letaknya pun berdiri tepat di atas perbukitan, sehingga saat menuju areal pura harus menaiki tangga berundag mencapai 60 anak tangga. Pura yang piodalannya  bertepatan pada Anggara Kasih Dukut ini, terdiri atas tiga mandala, sama seperti pura pada umumnya.



Disinggung soal Kayu Jelema, Jero Mangku Sukarya menyampaikan beberapa tahun lalu sempat ada perkumpulan spiritual datang dari Pulau Jawa. Mereka mencari Pura Bolo karena arahan guru spiritualnya, sehingga dicarilah melalui google. Saking penasaran, mereka akhirnya menemukan pura yang mirip seperti diarahkan gurunya tersebut.



Kemudian kelompok spiritual  itu datang ke Pura Bolo. “Mereka datang berlima untuk sembahyang di sini. Kalau saat ini bisa disebut dengan Tirta Yatra. Saat tiba di jaba pura, mereka melihat pohon kayu yang besar tersebut. Mereka awalnya mengatakan Pohon Sepuh karena sama dengan apa yang mereka sempat lihat di Jawa,” paparnya.



Saat itu pun dijelaskan juga bahwa warga setempat memang sering menggunakan kulit pohon tersebut dijadikan boreh, dan obat. Sampai saat ini warga di Desa Tegallalang sangat kental keyakinannya, ketika sakit akan nunas tamba (obat) di Pura Bolo dengan nunas kulit  Kayu Jelema tersebut.



Diungkapkannya,  rata-rata warga  yang memiliki sakit kulit, dan sakit yang tidak diketahui penyebabnya, setelah nunas tamba berangsur pulih dan  sehat. Selain warga di Tegallalang, ada juga yang dari luar Tegallalang dan luar kabupaten untuk nunas tamba.  “Kalau pamedek berobat ke orang pintar, kemudian disuruh mencari kerikan Kayu Jelema, pasti mereka akan nunas di sini,” paparnya.



Jero Mangku Sukarya mengaku tidak ada patokan soal sarana yang harus dibawa saat nunas kulit Kayu Jelema. Namun, semuanya harus didasari rasa tulus ikhlas.



“Ada yang menggunakan canang saja, ada juga yang menggunana pajati. Kami dari pangayah dan desa juga tidak ada mengarahkan menggunakan sarana khusus,  karena hanya ketulusan pamedek yang tangkil,” imbuhnya.



Begitu juga dengan hari dan waktu nunasnya, Jero Mangku  Sukarya mengatakan  tidak ada ketentuan khusus.



“Menurut cerita lelingsir, di Pura Bolo merupakan tempat matamba (berobat) untuk sakit sekala niskala. Dan,  Kayu Jelema ini yang jadi  inti bisa mengobati mereka yang sudah lama berobat kemana-mana, namun tidak kunjung sembuh, akibat sakit sekala ( medis) dan niskala (nonmedis), " urainya.


Namun, semua itu tergantung juga karma seseorang. "Kayu Jelema ini sebagai sarana,  dan kembali kepercayaan serta keyakinan ke masing-masing pamedek yang tangkil,” tandasnya.
Untuk mencari Pura Bolo atau Kayu Jelema tidaklah susah. Memerlukan waktu sekitar 30 menit dari Pusat Kota Gianyar, dan hanya 5 menit dari Pusat Kecamatan Tegallalang. Tepat di Pasar Tegallalang, menuju arah barat sekitar 500 meter akan menemukan perempatan yang di sisi jalan ada Balai Banjar. Selanjutnya di perempatan tetsebut tempuh jalur ke utara atau ke kanan, dan  dari arah pasar sekitar 700 meter sudah sampai di jaba Pura Bolo. Tandanya pun kentara karena terlihat  pohon Kayu Jelema yang dikelilingi kain putih hitam alias poleng. 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar #pura unik #hindu #pura #sejarah pura