Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Legenda di Balik Keberadaan Candi Pari dan Sumur di Sidoarjo

I Putu Suyatra • Rabu, 18 Maret 2020 | 00:15 WIB
Legenda di Balik Keberadaan Candi Pari dan Sumur di Sidoarjo
Legenda di Balik Keberadaan Candi Pari dan Sumur di Sidoarjo


SIDOARJO, BALI EXPRESS - Candi Pari dan Candi Sumur menjadi salah satu warisan budaya di Jawa Timur. Kedua candi ini terletak di Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Candi yang dibangun pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit ini masih dilestarikan hingga kini.


Bali Express (Jawa Pos Group) dibuat takjub melihat kemegahan Candi Pari. Sempat dipugar pada 1994-1999 oleh BP3 Jawa Timur, candi berbahan bata merah ini terlihat kokoh. Meski strukturnya sederhana, namun aura magisnya sangat kental. Di dalamnya masih tersimpan beberapa arca yang bentuknya tak lagi utuh. Lantainya juga berbahan bata. Ada tempat meletakkan dupa bagi pengunjung yang ingin sekadar melakukan penghormatan, bahkan meditasi.



Semin, penjaga Candi Pari menuturkan, ada legenda terkait pembangunan candi era Raja Hayam Wuruk tersebut. Konon, zaman itu hidup seorang pertapa bernama Kyai Gede Penanggungan. Ia tinggal bersama sang adik, Nyai Ijingan yang sudah menjanda. Sang kyai berputri dua orang, diberi nama Nyai Lara Walang Sangit dan Nyai Lara Walang Angin. Sedangkan Nyai Ijingan berputra seorang, Jaka Walang Tinunu.


Suatu ketika, Jaka Walang Tinunu memancing bersama dua sahabatnya, Satim dan Sabalong. Sekian lama menunggu kailnya disantap ikan, tiba-tiba muncul ikan Deleg. Tak disangka, ikan itu adalah jelmaan seorang manusia. Ikan Deleg itu pun menampakkan wujud aslinya, seorang pemuda tampan. Jaka Walang Tinunu pun takjub. Karena pemuda itu sangat ramah, keduanya pada akhirnya bersahabat. "Kepada sang pemuda, karena menjelma menjadi ikan Deleg, kemudian dipanggil Jaka Pandelegan," kata pria 63 tahun ini, saat ditemui belum lama ini.


Singkat cerita, Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan bekerja sama membuka sawah di sekitar pertapaan Kyai Gede Penanggungan. Keduanya sangat ulet bekerja. Tiada waktu untuk berleha-leha. Nyai Lara Walang Sangit dan Nyai Lara Walang Angin kerap memperhatikan keduanya. Meski malu-malu, ternyata Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan sama-sama menaruh hati.


Mengetahui hal ini, Kyai Gede Penanggungan berupaya mencegah ikatan cinta dua pasang pemuda dan pemudi itu. Sedangkan Jaka Walang Tinunu terlanjur jatuh hati pada Nyai Lara Walang Sangit. Demikian pula Jaka Pandelegan jatuh hati pada Nyai Lara Walang Angin. Apa daya, rasa cinta di antara mereka kian tumbuh subur. Kian dilarang, kian menguat. Hingga akhirnya dua pasang kekasih itu memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke pelaminan.



Kontan saja Kyai Gede Penanggungan tak merestui hal itu. Namun pernikahan tetap berjalan. Selepas menikah, mereka tetap giat bekerja. Alhasil, sawah yang digarap tumbuh subur. Panen pun melimpah. Berita hasil sawah yang melimpah ini sampai ke telinga Maharaja Sri Rajasanagara alias Hayam Wuruk. Saat itu masyarakat tengah susah. Para petani menghadapi paceklik.



Sang raja kemudian mengirim utusan kepada Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan. Pesannya, agar hasil panen dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan tak keberatan. Mereka kemudian membagi-bagikan hasil panen ke warga lainnya.



Raja keempat Majapahit itu pun senang. Sebagai penghargaan, keduanya dipanggil ke istana. Tujuannya akan diangkat sebagai keluarga kerajaan. Sayang, permintaan itu ditolak. Berbagai bujuk rayu pun dilancarkan oleh raja. Keduanya tetap pada pendirian. Hingga akhirnya, sang raja turun sendiri mendatangi tempat tinggal Jaka Pandelegan. Tiada disangka, Jaka Pandelegan menghindar dan menghilang di lumbung padi miliknya. Sedangkan, Nyai Lara Walang Angin menghilang di sumur, dekat dengan lumbung. Ternyata keduanya memilih moksa. "Keduanya hilang, musnah," ujar Semin.



Melihat kenyataan itu, sang raja sedih. Namun di sisi lain kagum dengan keteguhan hati Jaka Pandelegan beserta istrinya. Oleh raja, kemudian diperintahkan membangun candi. Candi tempat menghilang Jaka Pandelegan kini dikenal bernama Candi Pari. Sementara tempat sang istri dikenal dengan nama Candi Sumur. "Dalam istilah kami, pari itu adalah padi. Kedua candi ini dipercaya berpasangan. Candi Pari adalah lanang (laki-laki), sedangkan Candi Sumur wedok (perempuan)," jelasnya.



Berbeda dengan Candi Pari yang telah  dipugar seluruhnya, Candi Sumur hanya sebagian. Di tengah candi memang ada lubang persegi yang oleh masyarakat sekitar dianggap sumur. Jarak antara kedua candi ini sekitar 50 meter.



Candi Pari berangka tahun 1293 saka atau 1371 masehi. Di halaman candi terdapat prasasti penanda selesainya pemugaran. Prasasti berbahan marmer itu ditandatangani Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, I Gede Ardika.



Di dalam candi, saat awal penemuan, terdapat beberapa arca. Yakni dua arca Mahadewa, dua arca Agastya, tujuh arca Ganesha, dan dua arca Buddha. Arca-arca tersebut telah diamankan di Museum Nasional, Jakarta. Kini Candi Pari dan Candi Sumur menjadi salah satu destinasi yang bisa dikunjungi, baik untuk berwisata sejarah, maupun pendidikan.



Ditanya hal mistis yang pernah terjadi di kawasan Candi Pari, Semin yang telah menjadi penjaga sejak 2004 mengaku tak mengalami. Namun, konon ada beberapa pengunjung yang pernah melihat sosok lelaki dan perempuan di sekitar tempat itu. "Ada yang mengaku, begitu masuk melihat laki-laki dan perempuan yang menyambut. Tapi kalau saya sendiri tak pernah mengalami hal-hal aneh," tutup Semin.


 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu