DENPASAR, BALI EXPRESS - Saat pandemi virus Korona atau Covid-19, masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), rajin cuci tangan, menjaga jarak, hingga berjemur karena sinar matahari mampu membunuh virus. Namun, masih banyak yang keliru soal waktu dan cara berjemur yang tepat.
Pelatih Yoga dan Ketua Cabang Kanda Pat, Ngurah Bagus, mengatakan, sejauh ini memang banyak perdebatan tentang waktu terapi matahari yang baik. Ada yang mengatakan dari pukul 10.00 sampai 14.00, ada juga yang bilang sebelum pukul 10.00. "Kalau saya sendiri sering kali terapi diantara pukuk 06.00 sampai demgan 10.00 dan pukul 16.00 sampai dengan matahari terbenam," ujar penulis buku Terapi Laut ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Tabanan.
Dijelaskan Ngurah Bagus, awal mula buku Terapi Laut ditulis ketika pada suatu hari dalam meditasi, memohon pada Ida Sanghyang Widhi Wasa agar diberikan pengetahuan tentang penyembuhan murah bagi masyarakat.
Kemudian malam harinya, dalam mimpinya mendengar suara dari Barat Daya (sthana dari Dewa Rudra) agar ia mempelajari terapi alam semesta. "Ketika bangun tidur saya berusaha memahami arti mimpi tersebut, namun tidak bisa," tutunya.
Akhirnya ia pun memutuskan pergi ke toko buku untuk melihat-lihat buku dan melihat buku yang berisi ulasan tentang proses terjadinya alam semesta. Dimana di dalamnya berisi bahwa dalam ajaran Hindu, alam semesta terbentuk dari Panca Mahabhuta, yaitu pertiwi (tanah), apah (air), teja (panas), bayu (tenaga), dan akasa (ruang).
"Dari situ saya lalu mempelajari tentang terapi magnet bumi, terapi air, terapi matahari, terapi prana, dan terapi suara. Dan, akhirnya terciptalah buku berjudul Terapi Laut - Menyingkap Rahasia Penyembuhan Alam Semesta," lanjutnya.
Ia menyebutkan intisari dari buku adalah datanglah ke laut dan nikmati lima jenis terapi gratis, yakni terapi tanah atau pasir, terapi air garam, terapi matahari pukul 06.00 sampai dengan pukul 10.00, terapi udara atau prana, dan terapi suara alam. Weda merekomendasikan bahwa Laut dengan dewanya, yaitu Dewa Baruna adalah solusi bagi penghancuran berbagai macam penyakit, baik sekala seperti virus atau pun niskala, seperti black magic.
"Salah satu terapi yang ada pada terapi laut itu adalah terapi matahari yang saat ini banyak orang lakukan dengan tujuan menghancurkan virus Korona," paparnya.
Ia sendiri mengaku kurang setuju dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa berjemur di bawah pukul 10.00 bisa menyebabkan keriput dan kanker kulit. Sebab, menurutnya yang dialami tidak demikian.
"Saya dari SD sampai sekarang justru sering berjemur diantara pukuk 06.00 sampai dengan pukuk 10.00 atau pukul 16.00 sampai dengan matahari terbenam. Dan, sampai saat ini kulit saya tidak keriput, tidak ada kanker kulit, dan juga tidak keropos tulang," jelasnya.
Bahkan, ayahnya yang sudah puluhan tahun biasa berjemur di pantai antara pukul 06.00 sampai dengan pukul 10.00, terlihat awet muda dan sistem imun tubuh sangat kuat hingga jarang sakit. "Sejak kelas 2 SMP sampai hari ini, saya hampir tidak pernah minum obat dokter lagi. Kekuatan imun yang bagus dapat membuat kita terhindar dari berbagai bahaya virus, termasuk virus Korona atau Covid-19," sambung Ngurah Bagus.
Selain itu, ada cara tradisional, yakni pengasapan (fogging) yang dinamai pasepan yang dibuat Ngurah Bagus. Ada bahan-bahan alami yang digunakan sebagai 'disinfektan alami'. Ngurah Bagus mengemasnya dengan nama 'Balinese Traditional Fogging'.
Bahkan, hanya dalam waktu dua hari permintaan 'Balinese Traditional Fogging' meningkat dengan pesat. Balinese Traditional Fogging yang dibuat Ngurah Bagus terdiri dari kayu pasepan, sindrong jangkep, bawang merah, bawang putih, garam kotak, dan tembakau, serta menyan. "Pasepan ini digunakan untuk menetralisasi pengaruh krimi, seperti bakteri, virus, dan kuman lainnya," tegas Ngurah Bagus kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Tabanan. Satu paket 'Balinese Traditional Fogging' tersebut dibandrol seharga Rp 20.000. Namun ada juga permintaan khusus bahan pasepan yang dipasupati dan diberikan mantra penguat, sehingga kasiatnya menjadi ribuan kali lipat.
"Permintaan untuk pasepan khusus ini cukup tinggi walau harganya naik menjadi Rp 35.000," imbuhnya.
Tak hanya itu saja. Kata dia, mulai ada permintaan agar bahan pasepan mengandung kekuatan raga prayascita dan karang paumahan prayascita. Kemudian ada permintaan lain lagi, yaitu membuat bahan pasepan yang mengandung kekuatan penghancur pepasangan, panyengker karang, dan anugerah Dewi Lakshmi."Akhirnya permintaan tersebut kita penuhi, meskipun dengan harga yang berbeda, yakni bahan pasepan yang mengandung kekuatan raga prayascita dan karang prayascita, dan somyaning Bhuta, harga Rp 50.000. Bahan pasepan yang mengandung kekuatan penghancur pepasangan, sengker karang, dan anugerah Dewi Lakshmi, harga Rp 100.000," tuturnya.
Ia pun berharap 'Balinese Traditional Fogging' bisa bermanfaat bagi seluruh masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ini.