DENPASAR, BALI EXPRESS - Catur Marga adalah salah satu ajaran dalam Agama Hindu, yang menuntun dan memberikan empat jalan pilihan menuju Moksa. Lantas, sebagai umat awam bagaimana cara memilihnya agar bisa menjalaninya dengan baik?
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), umat Hindu diajarkan tentang Moksa. Moksa sebagai tujuan tertinggi agama yang bisa dicapai jika seseorang sudah bisa melepaskan ikatan duniawi. Kedengarannya amat mudah,namun dalam praktiknya sangat susah. Apalagi bagi umat awam yang tidak fokus dalam bidang spiritual. Tak bisa dipungkiri, melepaskan keterikatan duniawi tidaklah semudah yang diucapkan atau ditulis di buku. Berkaitan dengan masalah tetsebut,
Hindu memberikan umatnya pilihan sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki. Hal ini menandakan tidak adanya tekanan tertentu kepada umat, harus melalui sebuah cara agar bisa mencapai Moksa. "Pilihan jalan yang harus ditempuh ini dikenal dengan Catur Marga yang terdiri dari empat bagian, yakni Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga, dan Yoga Marga," papar dosen UNHI, Prof Dr I Wayan Suka Yasa, MSi kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin di Denpasar.
Ditegaskan pria yang juga seorang pemangku ini, masing-masing bagian memiliki makna yang berbeda. Bhakti Marga dengan jalan bakti cinta kasih kepada Tuhan. Karma Marga lebih kepada kerja keras secara fisik, tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbal hasil berupa kemasyuran, kejayaan, dan lainnya. Jnana Marga melalui belajar dan berpikir dengan arif bijaksana, dan Yoga Marga dengan cara bertapa dan yoga, dan melaksanakan pengendalian diri. “Keempatnya berbeda, sehingga seseorang bisa memilih sesuai bakat dan kemampuannya,” ujarnya.
Suka Yasa.
Menurut pria yang juga Direktur Pasca Sarjana UNHI ini, dalam penerapan ajaran Catur Marga seseorang tidak bisa memilih salah satu saja, lantaran dalam menjalani kehidupan seseorang sadar ataupun tidak akan menerapkan lebih dari satu jalan.
‘
Dicontohkannya, seorang pelukis yang memilih jalan Bhakti Marga dalam lukisannya, namun dalam proses pembuatannya dia perlu berpikir alias Jnana Marga, dan tangannya aktif melukis, yakni Karma Marga. “Nah si pelukis sudah menerapkan tiga cara, mulai dari Bhakti Marga, Jnana Marga, dan Karma Marga. Namun, perbedaannya yang paling menonjol adalah si pelukis dominan ke Bhakti Marga sebab rasa bakti pada Tuhan dia tunjukkan lewat hasil seninya,” sambungnya.
Dominan ke salah satu jalan ini, lanjutnya, tidak terlepas dari bakat maupun kemampuan seseorang. Seseorang yang berbakat dalam berpikir dan analisa, lanjutnya, akan lebih dominan menjalankan Jnana Marga dalam hidupnya. Orang yang punya ketekunan dalam pertapaan, maka Yoga Marga akan dominan terlihat bagi orang lain. “Begitu pun orang yang suka bekerja utamanya fisik, maka cenderung ke Karma Marga, sedangkan seniman dominan ke Bhakti Marga,” ungkap pria asal Tabanan tersebut.
Bagi Prof I Wayan Suka Yasa, menjalankan tidak hanya satu jalan dalam Catur Marga, tidak terlepas dari adanya ajaran Mokshatharm jagadhita ya ca iti dharma. Ajaran yang memiliki makna tujuan hidup untuk mencapai kesejahtraan hidup di dunia maupun di akhirat. "Ini berarti sebagai umat Hindu dituntut untuk bisa sejahtera di dunia sebelum akhirat. Bagaimana bisa Moksa kalau hidup tidak sejahtera. Kalau misalnya sembahyang terus, tetapi tidak kerja kan tidak bisa makan," paparnya.
Maka dari itu, lanjutnya, Catur Marga sadar tidak sadar dijalankan, tidak hanya satu jalan saja, tetapi bisa lebih dari satu. “Memang secara teori pasti pilih satu, tetapi praktik yang dilihat. Pasti kelihatan dominan salah satu saja, namun menjalankan yang lain pula,” imbuhnya.
Ditambahkannya, sebagai jalan menuju Moksa, seseorang wajib menjalankan swadharmanya dengan disiplin dan sebaik mungkin. "Pilihan jalan, baik itu Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga ataupun Raja Marga yang ingin dominan dijalani umat, harus benar-benar dilaksanakan secara profesional," ujarnya. Tekanan pada setiap jalan dari Catur Marga, lanjutnya, disesuaikan dengan kemampuan diri, jangan memaksakan untuk terlalu keras pada diri sendiri. “Ingat kesejahteraan di dunia harus didahulukan. Bagaimana kita misalnya mau sembahyang memuja Tuhan, jika sedang sakit, apalagi karena tidak makan,” ungkapnya.
Karena itu tidak bisa menilai orang yang jarang sembahyang bahwa orang tersebut tidak baik.
Seringkali penilaian kurang pas itu terjadi dewasa ini. Padahal, menurutnya bisa saja orang yang terlihat malas sembahyang, karena lelah bekerja dengan tulus dan ikhlas. "Kerja dengan tulus dan disiplin itu baginya adalah juga sebuah cara berdoa kepada Tuhan," urainya. Ketika melaksanakan pekerjaan dengan disiplin dan memikirkan Tuhan saat bekerja, lanjutnya, maka dia sejatinya sudah bersembahyang. “Kita kan tidak tahu bathin manusia, dalam melakukan kesehariannya berketuhanan. Sudah ada empat jalan, siapa tahu yang dominan memang ke Karma Marganya,” bebernya.
Dikatakannya, seseorang tidak bisa menilai pilihan kemana seseorang dominan pada ajaran Catur Marga.
Ditekankannya, sebagai umat Hindu melihat Catur Marga tidak sebagai bagian terpisah-pisah, karena dalam praktik di kehidupan nyata tidak demikian. "Catur Marga adalah sebuah kesatuan yang harus dipraktikkan dalam keseharian, dimana seseorang bisa memilih sesuai bakatnya, dan jalan mana yang lebih menonjol," ungkapnya.
Dia pun mengingatkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, hendaknya melaksanakan kegiatan yang baik, baik Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga, dan Raja Marga dengan disiplin. Sebab, jika satu saja salah diterapkan oleh seseorang, maka akan berpengaruh kepada jalan lain yang dilaksanakan. “Catur Marga ibarat sebuah bangunan, tersusun dari beberapa bagian, satu saja yang salah kan bisa menimbulkan efek ke yang lain,” pungkasnya.