Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Dam Oongan; Pembangunannya Sisakan Kisah Pilu

I Putu Suyatra • Selasa, 28 April 2020 | 21:36 WIB
Sejarah Dam Oongan; Pembangunannya Sisakan  Kisah Pilu
Sejarah Dam Oongan; Pembangunannya Sisakan Kisah Pilu


DENPASAR, BALI EXPRESS - Dam Oongan atau Bendungan Oongan di Banjar Wongan, Kelurahan Tonja, Denpasar, memiliki kisah  menyedihkan. Seperti apa kisahnya?  Mangku Lingsir Pura Ulun Suwi Bugbugan, Jro Mangku Wayan Sarga membeberkan kisahnya.


Mangku Lingsir Pura Ulun Suwi Bugbugan, Jro Mangku  Wayan Sarga, menceritakan, konon ada seorang Raja dari Kerajaan Pemecutan bernama Cokorda Pemecutan. Raja tersebut memiliki patih yang amat setia bernama Ki Sawunggaling. Pada suatu masa, sawah-sawah di wilayah Kerajaan Kesiman kekeringan hingga membuat rakyatnya mengungsi ke Kerajaan Badung. “Dahulu tidak ada saluran air.  Wilayah itu adalah alas (hutan). Maka, dengan petunjuk dari Ida dibuatlah saluran irigasi dengan cara membendung air sungai,” tuturnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin.



Meski sudah membuat bendungan, tapi sawah-sawah milik petani  tetap tidak kebagian air. Melihat kondisi itu, patih Ki Sawunggaling mencari cara dan melakukan semedi untuk memohon petunjuk. Semedi dilakukan di wilayah Dam Oongan. Saat melakukan semedi, Ki Sawunggaling mendapat pawisik (petunjuk) untuk membangun bendungan dengan pondasi manusia. Sebab, Ki Sawunggaling adalah patih yang setia dan memiliki budi baik, maka ia bersedia berkorban untuk menjadi pondasi pembangunan dam tersebut kala itu.


 Namun, Ki Sawunggaling tak sendiri, istrinya pun dengan setia mengikuti langkah sang suami untuk menjadi korban. Demi kemakmuran rakyatnya, pasangan suami istri ini pun secara sukarela menyerahkan diri untuk dijadikan pondasi dam yang kini disulap menjadi taman rekreasi oleh Pemkot Denpasar.


“Karena Ki Sawunggaling tidak mau menyusahkan orang lain, maka ia merelakan dirinya, diikuti oleh istrinya. Secara logika, siapa sih yang mau mati seperi itu, apalagi untuk dijadikan pondasi. Karena kesetiaannya dan juga keinginannya untuk kemakmuran rakyat, ia pun rela. Ia mengorbankan diri sebagai wujud pengabdiannya kepada Tuhan,” cerita Jro Mangku Sarga saat ditemui di rumahnya di Kawasan Jalan Nusa Indah.



Tepat pada Purnama Kapat, digelarlah upacara besar. Saat itu Ki Sawunggaling dan istrinya terjun ke sungai bersamaan dengan ditancapkannya batang pohon dap-dap di dasar sungai. Dalam sekejap, pasangan pengantin itu menghilang. Suasana haru menhantarkan pengabdian Ki Sawunggaling dan istrinya. Kesedihan pun menyelimuti sang raja. Sebab ia harus merelakan abdinya yang setia. Dan benar saja, saat itu air sungai mulai naik memenuhi aliran dan dapat mengairi sawah petani. “Begitu ditancapkannya dap-dap ke tanah, patih dan istrinya langsung terjun dan menghilang. Bersamaan dengan itu, air mulai besar, sawah-sawah saat itu mulai dapat air,” sambungnya.



Untuk menjadi pengingat, maka bendungan tersebut diberi nama Dam Oongan. Dam yang berarti bendungan, sementara Oongan atau Wongan (wong) adalah manusia. Jadi Dam Ooang dapat diartikan sebagai bendungan yang dibangun dari tubuh manusia untuk menghasilkan aliran air yang mengaliri sawah-sawah milik petani.



Sejak saat itu, berkat pengabdian Ki Sawunggaling dan istrinya dengan mengorbankai diri sebagai pondasi bendungan, rakyat Kesiman tidak lagi kelaparan. Sebab sawah-sawah petani  tidak kekeringan lagi dan panen selalu berhasil.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #denpasar