Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kala Caplokan Hari Baik Memancing

I Putu Suyatra • Kamis, 28 Mei 2020 | 18:52 WIB
Kala Caplokan Hari Baik Memancing
Kala Caplokan Hari Baik Memancing


DENPASAR, BALI EXPRESS - Bagi yang merasa bosan berada di rumah dalam masa pandemi Covid-19, memancing adalah salah satu 'obat' mujarab pengusir kebosanan. Agar tak sia-sia memancing, ada yang mesti diperhatikan.



Sebelum berangkat memancing, persiapan wajib dilakukan, seperti merakit kail pancing, menyiapkan joran terbaik dan mencari umpan yang tepat sesuai ikan yang akan dicari. Namun, bagi para pemancing awam, hari baik biasanya dilupakan dan asal pergi begitu saja, dan lebih berpatokan kepada cuaca terang atau hujan. Nah, dalam Hindu Bali sendiri, hari baik bagi para pemancing itu memang ada, biasanya tertera dalam kalender Bali dinamai Kala Caplokan.



Menurut penyusun kalender Bali yang juga ahli wariga, Dr I Gede Sutarya, SST Par MAg,  secara umum, penentuan hari baik atau buruk dalam kalender Bali tersebut berdasarkan wariga. Wariga sendiri ditentukan berdasarkan lima kerangka, pertama adalah sasih, kemudian berturut-turut penanggal-pangelong, wuku, wewaran dan dauh. Tapi, selain kelima kerangka itu, tambahan lainnya adalah kletegan bayu atau subyektivitas pelaku kegiatan menurut hati nuraninya.



Sama dengan Kala Caplokan itu sendiri, menurut Dr Gede Sutarya, penentuannya tergantung dari lima kerangka itu. Dan setiap bulannya hari baik maupun buruk tidak selalu sama jatuhnya dengan versi kalender Masehi. "Misalnya Kala Caplokan di kalender Bali itu jatuhnya tanggal 28 Mei. Tapi, di tanggal 28 Juni, belum tentu ada Kala Caplokannya. Penentuan itulah berdasarkan lima kerangka itu tadi," beber Gede Sutarya yang juga Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar ini.



Ditambahkannya, ketika para pemancing berangkat mencari ikan saat tepat di hari yang terdapat Kala Caplokannya, tidak harus menggelar upakara dengan banten sedemikian rupa. "Kembali ke subyektivitas itu atau kletegan bayu si pemancing juga. Kalau dirasa waktu itu feelingnya akan banyak mendapat ikan, tidak ada salahnya berangkat memancing. Kala Caplokan di kalender itu hanya referensi bahwa di hari tersebut, merupakan hari yang baik untuk menangkap ikan. Atau bisa juga hari yang bagus untuk membuat jala maupun alat penangkap ikan dan sebagainya," jelas Gede Sutarya kepada
Bali Express (Jawa Pos Grup) akhir pekan kemarin di Denpasar.



Salah satu pemancing yang juga admin salah satu komunitas angler di media sosial, I Putu Adi Bhawa Mahatmika, mengatakan, ia sangat mempercayai soal hari baik menurut penanggalan kalender Bali tersebut. Terutama saat ada Kala Caplokan. "Kalau Kala Caplokan, setahu saya hari baik untuk pemancing dan nelayan untuk merakit pancing, jala maupun alat menangkap ikan lainnya. Makanya banyak teman-teman, juga saya, membeli atau membuat pancing dan sebagainya saat Kala Caplokan itu," bebernya.




Selain berpegangan dengan hari baik itu, dia juga mengikuti hitungan manda atau pasang surut air. Ilmu yang ia dapatkan tersebut memang berdasarkan penuturan orang tua terdahulu yang kebetulan, di lingkungan keluarganya, beberapa ada yang satu hobi juga. "Kalau sekarang di zaman modern ada aplikasi untuk melihat pasang surut air, jadi bisa diketahui dengan mudah jam berapa air itu pasang, maupun sebaliknya," tambah Adi Bhawa.




Sebagai orang Hindu Bali, Adi Bhawa sangat berpegangan dengan apa yang sudah diwariskan atau dirancang oleh orang-orang terdahulu dalam setiap aktivitas, salah satunya memancing ini. Lanjutnya, sudah pasti ada hitung-hitungan matang, agar kegiatan bisa berjalan dengan lancar dan hasilnya menjadi baik. "Ya tapi sekarang ini istirahat dulu memancingnya, karena pandemi Covid-19 ini. Apalagi banyak pantai dan lokasi memancing yang ditutup. Yang terpenting kita harus ikuti aturan yang ada, demi kita semua," tandas Adi Bhawa.



Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #mancing