Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mohon Berkah dan Maaf Lakukan Padasevanam

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 30 Mei 2020 | 06:42 WIB
Mohon Berkah dan Maaf Lakukan Padasevanam
Mohon Berkah dan Maaf Lakukan Padasevanam

Sungkeman adalah ritual awal masa Hindu di Indonesia. Tradisi dengan cara mencuci kaki orang tua ini dengan air dan bunga adalah bentuk bakti seorang anak. Ritual membersihkan kaki orang tua dan mencium, merupakan bentuk bakti keempat seperti tertuang dalam Bhagavata Purana VII, 5.23 yang menyebutkan : Sravanam kirtanam visnoh, smaranam padasevanam, arcanam vandanam, dasyam, sakhyam, atamavidanam. Dari isi Bhagavata Purana itu, sungkeman berarti Padasevanam. Ketua Bidang Kebudayaan dan Kearifan Lokal PHDI Pusat, Jro Mangku I Wayan Sudarma, menjelaskan, Padasevanam secara harfiah, pada itu artinya kaki, sevanam artinya pemujaan atau pelayanan. Padasevanam, lanjutnya, merupakan wujud bakti seorang umat kepada Ida Sang Hyang Widhi.
Menurut pria  yang akrab dipanggil Jro Mangku Danu ini, pada awalnya perkembangan Hindu di Indonesia menggunakan pemujaan dengan arca. Pemujaan sendiri juga melalui proses memandikan arca dengan menggunakan susu, yogurt, ghee, air gula dan madu atau dikenal dengan panca amerta. “Dahulu air dari memandikan arca itu kemudian dilungsur (dimanfaatkan) dan dikenal dengan wangsuhpada. 'Wangsuh' artinya cucian dan 'pada' artinya kaki. Inilah konsep awal Tirta Wangsuhpada yang kita kenal di Bali sekarang,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin di Denpasar.
Posisi kaki arca pada masa lampau, lanjutnya, juga sejajar dengan hidung umat, ketika melakukan pemujaan kepada Tuhan. Umat ketika melakukan tradisi ini mengucapkan mantram pendek  'Om Namane Smaranam Padame Sharanam'. “Arti dari mantra adalah Oh Hyang Widhi, semoga hamba senantiasa ingat namamu dan senantiasa bersujud di kaki padmamu,” terangnya.
Dijelaskannya, konsep Padasevanam itu kemudian berubah seiring zaman dengan mulai mendominasinya pemujaan  menggunakan palinggih, sehingga Tirta Wangsuhpada diletakkan di atas palinggih seperti dikenal masa sekarang. Kemudian dari tradisi tersebut, umat Hindu sekarang, usai sembahyang ngalungsur (memohon) Tirta Wangsuhpada. "Di Bali sendiri, umat Hindu juga mengalami perubahan konsep pemujaan dengan menggunakan cakupan tangan Anjali,” terang pria yang juga menjadi pemangku di Pura Dukuh Aji Patapan di Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli.
Meskipun sudah mengalami perubahan, konsep Padasevanam atau sungkem ini masih dilakukan dalam beberapa ritual Hindu di Bali, seperti dalam padiksan, dimana seorang murid menyentuhkan ubun-ubunnya di kaki sang nabe (guru). “Kemudian mulai terlihat praktik mencuci kaki orang tua dan menciumnya di waktu tertentu. Selain itu, juga masulub (berjalan di bawah jenazah) ketika keluarga ada meninggal. Itu juga contoh praktik sungkeman di Bali. Sungkeman itu bukan tradisi impor , namun murni ajaran leluhur kita sejak dahulu,” sambungnya.
Ditegaskannya, sungkeman  ada juga pada teks Grehasta Winaya yang merupakan ajaran tentang etika rumah tangga, kewajiban orang tua, kewajiban suami istri maupun anak. Tentang sungkeman, dalam Grehasta Winaya terdapat tulisan A'pan sira sampun ngamolihaken pangaskara Widhi wenang ta sira mangarpanaken padya arga camaniya'. Arti dari kalimat pada Grehasta Winaya itu dijabarkan, karena engkau telah mendapatkan upacara Samskara Widhi adalah kewajiban bagimu untuk membasuh kaki dan bersujud.
"Kemudian dalam teks Indik Padiksan juga dijelaskan konsep sungkeman ini dengan istilah Anuhun Pada. Istilah ini memiliki arti sisya diksita melakukan sungkeman pada kaki guru atau nabenya sebagai tanda bakti,” ujarnya.
Sebagai sebuah wujud bakti, melakukan Padasevanam diakuinya  bisa memberikan manfaat luar biasa. Membiasakan diri dengan Padasevanam akan membuat umat dapat karunia dari Tuhan, leluhur, orang tua hingga guru. Selain berupa karunia, melalui sungkeman umat bisa memohon diberikan berkah dan maaf. Adapun berkahnya mulai dari Ayu Werdhi (umur panjang), Werdi Pradnyan (memohon ilmu pengetahuan), Sukha Sriyam (rasa bahagia dan kemakmuran), Dharma Sentana (keturunan yang selalu berbahagia), Santute (rasa damai luar biasa, juga Sapta Werdayah (ada minimal tujuh karunia yang bisa didapat dari berkah melakukan Padasevanam). “Begitu besar makna dari melakukan Padasevanam. Jangan sampai hanya dilakukan ketika masulub saja (saat orang tua meninggal), karena kala itu mereka sudah tidak bisa memberi berkah,” bebernya.
Ditambahkannya, Padasevanam  bisa dilakukan sejak anak mulai bisa memahami manfaat ritual ini. Bagusnya ketika otonan ataupun hari raya semisal Galungan ketika keluarga besar berkumpul.
Tata cara sungkeman dilakukan dengan menyiapkan air bersih berisi bunga, selanjutnya ayah duduk di kanan dan ibu di kiri. Kegiatan ini bisa dilakukan dimana saja, di dalam rumah maupun halaman rumah. Sang anak selanjutnya membasuh kaki kedua orang tuanya hingga bersih dan kemudian mengeringkannya dengan handuk bersih. Sebelum sungkem, anak berdoa mengucapkan mantra di depan orang tua sambil sikap panganjali. Mantranya :  Om Guru Brahma Wisnu, Guru Dewa Maheswara, Guru Shaksat Param Brahma, Tasmei Shri Guruwe Namah.
( Ya Tuhan kami memujaMu sebaga Brahma Wisnu Maheswara yang merupakan guru semesta alam. Demikian pula semua guru kerohanian yang sesungguhnya merupakan perwujudanMu sendiri. Hamba bersembah sujud di kaki padmaMu).
Tahap selanjutnya, anak melakukan sungkeman atau Padasevanam dengan mencium kaki kedua orang tuanya. Dalam proses ini, lanjutnya,  ucapkan mantra 'Om Namane Smaranam, Om Padame Sharanam (  Om Hyang Widhi semoga hamba selalu ingat kepada orang tua hamba dan semoga hamba selalu bisa bersujud di kaki kedua orang tua hamba). Tahap terakhir adalah orang tua memegang pundak sang anak, seraya mengucapkan mantram : Om Sarwesam Swasti Bhawantu, Om Sarwesam Santih Bhawantu, Om Sarwesam Sukham Bhawantu, Om Sarwesam Suputram Bhawantu, Om Sarwesam Sadhunam Bhawantu, Om Sarwesam Gunawan Bhawantu, Om Sarwesam Purnam Bhawantu. Mantra dari orang tua ini bermakna : Om Hyang Widhi limpahkanlah keselamatan, limpahkanlah kedamaian, limpahkanlah kebahagiaan, semoga menjadi putra yang suputra, semoga menjadi putra yang baik hati, semoga menjadi putra yang bermanfaat. Om Hyang Widhi anugerakanlah kesempurnaan pada anak-anak hamba. Usai mengucapkan mantra itu, maka orang tuanya lanjut memberi pesan dan harapan kepada anaknya

Editor : I Komang Gede Doktrinaya