Banyak keunikan ada di Pura Taman Ganter, Mengwi, Badung. Ada tugas khusus yang telah ditetapkan bagi warga yang menjadi pangayah secara turun temurun.
Dari geografis keberadaan Pura Taman Ganter, Mengwi, cukup unik, yakni berada di perbatasan Kabupaten Badung serta Tabanan. Desa adatnya masuk ke wilayah Badung, tapi banjar dinasnya ke Tabanan. Pura Taman Ganter erat kaitannya dengan Puri Mengwi.
"Jadi, Raja Puri Mengwi pertama membuat Dewa Greha disini (Pura Taman Ganter). Itu diceritakan di dalam Babad Mengwi. Tahun berdirinya pura ini sesuai dengan babad tersebut adalah tahun 1677," ucap Kelian Pura Taman Ganter, Ketut Suteja, didampingi
Jro Mangku I Made Mandia, 70, kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di kawasan Pura Taman Ganter, Mengwi, Badung.
Dikatakan Ketut Suteja, 47, terdapat satu palinggih di areal jeroan pura yang tidak mengalami pemugaran dari awal berdirinya pura ini. "Bisa dibilang ini pura kuno, pemrakarsanya adalah Raja Mengwi pertama," tegasnya.
Dituturkan Ketut Suteja, ada cerita unik mengenai pasukan poleng yang ada kaitannya dengan Pura Taman Ayun yang menjadi pangempon Pura Taman Ganter ini.
Dikatakannya, dahulu ada sebuah jembatan di salah satu areal Pura Taman Ayun, kemudian Raja Mengwi bersabda, siapa pun yang bisa melewati jembatan tersebut, akan dijadikan parekan oleh Puri Mengwi. Dan, warga di Banjar Ganter tersebut berhasil melewatinya, dimana pada saat melewati tersebut, warga Banjar Ganter itu memakai baju poleng. Tak diceritakan berapa jumlah orang yang menyebrangi jembatan.
"Makanya, setiap piodalan di Pura Taman Ayun, ada pangayah yang memakai baju poleng, dan itu berasal dari Banjar Ganter," terangnya. Sayangnya, lanjut Suteja, cerita terkait pasukan poleng itu tidak tercatat dalam babad maupun lontar. Suteja hanya diceritakan secara turun temurun oleh pendahulunya.
Saat piodalan di Pura Taman Ganter yang jatuh pada Anggara Manis Wuku Klurut, setiap 6 bulan sekali, pangempon pura tidak semua warga di Banjar Ganter. Pangempon pura berasal dari keluarga di 34 pamesuan (rumah). "Itu khusus di Banjar Ganter saja. Di luar banjar juga ada. Bahkan sampai ada di Desa Munggu Badung, Desa Sulaga, Desa Keladi Kaja, Desa Banjar Sayan, dan lainnya," bebernya.
Lalu, kenapa warga di luar Banjar Ganter ikut juga menjadi pangempon pura tersebut?
Jro Mangku I Made Mandia menjelaskan erat kaitannya dengan keberadaan Palinggih Ratu Nyoman di areal jeroan pura.
Palinggih tersebut disebutkan memiliki taksu untuk menyembuhkan warga yang berobat penyakit non-medis. "Mereka yang pernah sakit non medis dan berobat disini berjanji, jika sakitnya hilang, mereka siap menjadi pangempon di pura. Setelah sembuh, janji itu mereka tepati," tegas Jro Mangku Mandia.
Soal hal gaib atau mistis, Jro Mangku Mandia mengaku sering merasakan. Salah satunya disebutkan dalam satu momen, ketika Jro Mangku Mandia bersama beberapa pangempon mekemit, mendengar langkah kaki yang begitu keras, namun sumbernya tidak diketahui darimana berasal. Kata Jro Mangku Mandia, fenomena itu adalah parerencang duwen Ida mamargi atau sedang berjalan-jalan.
"Selain suara kaki tersebut, ada juga sosok ular poleng (loreng). Hanya saja sosoknya terlihat di waktu-waktu tertentu saja, dan tidak sembarangan orang yang bisa melihatnya," urainya. Dan, yang paling unik adalah para pangempon pura, khususnya di Banjar Ganter tersebut tidak dipilih oleh warga, melainkan secara turun temurun.
Tugas-tugasnya pun sudah ditetapkan sejak dahulu. Jika tugas itu diambil oleh orang lain, meskipun itu pangempon pura, maka bisa celaka. "Contohnya tukang gedig ( membunyikan) kul-kul. Dari dahulu sampai sekarang, keluarga yang bersangkutan saja boleh naik ke bale dan memukul kul-kul. Ini cerita nyata, bapak saya dahulu pernah naik ke bale kul-kul, karena dilihat ada ayam bertelur disana. Tapi, bukan saat itu bapak saya mendapat celaka. Tak beberapa lama, bapak saya saat ke ladang, katanya seperti ada yang mendorong dengan keras, padahal sedang berjalan sendiri," beber Suteja yang juga diakui Jro Mangku Mandia.
Dilanjutkan Jro Mangku Mandia, ada juga tradisi unik di Pura Taman Ganter ketika H-1 menjelang piodalan. Pada saat pembersihan pralingga Ida Bhatara yang berupa batu, seperti Lingga Yoni, warga berebut nunas ( mohon) air yang dipergunakan untuk membersihkan pralingga tersebut.
"Saat pembersihan pralingga, tidak dibersihkan begitu saja. Pralingga disiram dengan air suci, dibawahnya dibalut dengan kain merah dan ada kukusan juga. Nah, air yang mengucur dari kukusan itu direbut oleh warga," tegasnya.
Selain itu, ada 17 tombak bersejarah yang disakralkan di Pura Taman Ganter. Tombak itu disebutkan kedua tokoh tersebut sudah ada sejak zaman kuno, bahkan dipergunakan saat perang oleh warga Banjar Ganter terdahulu dalam melindungi Kerajaan Mengwi.
"Mata tombaknya itu tidak karatan sama sekali, meski umurnya ratusan tahun. Pati (gagangnya) tidak rusak dan masih utuh sampai sekarang. Kayu yang dipakai gagang, kata tetua dahulu adalah kayu peradah. Dan, oncernya (hiasan di pangkal mata tombak) memakai bulu burung gagak," tandas Jro Mangku Mandia.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya