MANGUPURA, BALI EXPRESS - Seiring perkembangan teknologi dan pengaruh tren budaya luar, seni arsitektur Bali yang tertuang dalam konsep tata bangunan perumahan di Bali, semakin terdesak. Gaya arsitektur bangunan minimalis kini kian jadi pilihan warga, terutama pengembang perumahan.
Pakar arsitektur Bali I Prof I Nyoman Nyoman Gelebet, mengatakan, saat ini tidak bisa dipungkiri tren arsitektur minimalis sudah menggusur arsitektur Bali. Hal tersebut diakui Gelebet, tidak terlepas dari konsep arsitektur minimalis yang lebih murah dari segi biaya, karena saat ini orientasi orang adalah praktis dan ekonomis.
Selain dari segi biaya yang lebih murah dibandingkan arsitektur Bali, proses pembangunan dan perawatan arsitektur minimalis, juga lebih murah. Karena arsitektur minimalis tidak menggunakan detail atau bahan-bahan seperti yang ada pada arsitektur Bali.
Dikatakannya, arsitektur minimalis hanya berorientasi pada fungsi dari bangunan, tanpa melihat fungsi lain dari bangunan tersebut. Sedangkan untuk arsitektur Bali, lanjutnya, lebih mengedepankan pada unsur keindahan dan penjiwaan dari bangunan yang dibangun. “Karena arsitektur Bali menekankan pada keindahan dan penjiwaan setiap detailnya, sehingga bangunannya memiliki taksunya tersendiri,” lanjut Gelebet.
Adapun konsep dari arsitektur Bali adalah Atma, Angga, dan Kaya, yakni tiga unsur penjiwaan. Pada prinsipnya arsitektur Bali harus memiliki tiga konsep tersebut. Unsur Kaya tercermin pada aktivitas yang dilakukan pada bangunan tersebut. Unsur Angga yang mencerminkan keperluan fisik dari bangunan tersebut. Terakhir unsur kejiwaan, dimana setiap bangunan memiliki jiwa yang tercermin dalam unsur Atma.
Untuk konsep minimalis, ketiga unsur tersebut tidak ada. Lantaran konsep minimalis hanya menampilkan detail yang sederhana, dan tidak memasukkan unsur apapun. Sehingga lebih murah, baik dari segi perawatan ataupun biaya yang harus dikeluarkan.
Selain itu, lanjut Gelebet, arsitektur minimalis juga turut menggerus pakem dari arsitektur Bali yang tidak terlepas dari Asta Kosala-Kosali. Pakem yang terdapat delapan unsur yang harus dipenuhi, jika ingin membuat bangunan Bali.
Mulai dari orientasi, yakni penentuan arah dan tata letak bangunan sesuai dengan fungsinya. Selanjutnya prosesi atau proses dari pembuatan bangunan Bali, dimulai dari Bale Daja sebagai bangunan utama. Dilanjutkan dengan dapur, Bale Semanggen untuk ruang kerja, dan terakhir adalah tempat pemujaan. “Proses ini juga tidak terlepas dari proses kehidupan seseorang. Sehingga dalam membuat rumah dikenal dengan konsep Somah, Umah, dan Sanggah. Artinya seseorang harus kawin dulu, baru punya rumah, dan dilanjutkan dengan membangun tempat suci,” paparnya.
Lalu unsur dimensi dan proporsi bangunan, yakni terkait tata letak dan ukuran bangunan yang disesuaikan dengan fungsi dan besar kecilnya keluarga yang akan tinggal di rumah tersebut. Setelah memiliki dimensi dan proporsi, unsur lainnya adalah kontruksi dari bangunan ini yang menggunakan konsep tali temali, sehingga bangunan Bali pada umumnya tahan gempa.
Setelah itu, ada unsur proteksi terhadap bangunan, dimana bangunan Bali yang dirancang sudah memiliki sistem proteksinya sendiri, sehingga bangunan tersebut relatif aman dari gangguan yang berasal dari luar bangunan. “Salah satu contohnya adalah Jineng. Tempat penyimpanan padi ini sengaja dirancang dengan atap yang lancip. Ini berfungsi untuk mencegah air hujan masuk ke dalam jineng, sehingga padi akan aman. Selain itu, pada tiang dibuat ada pemisahnya, sehingga tikus tidak bisa masuk dari luar,” urainya.
Selanjutnya yang terakhir adalah dekorasi untuk bangunan Bali. Dikatakan Gelebet, tidak perlu diberikan ornamen tambahan untuk hiasan. Bahan baku yang digunakan untuk bangunan tersebut sudah mengandung unsur keindahan, seperti kombinasi antara bambu, kayu seseh, dan ilalang, sudah menampilkan keindahan. “Hal ini membuat bangunan Bali sudah mampu menghias dirinya sendiri dengan ornamen yang digunakan dalam proses pembangunannya,” ungkapnya.
Dengan adanya konsep tersebut, banyak orang menganggap arsitektur Bali sangat mahal, sehingga konsep ini secara perlahan ditinggalkan, digantikan dengan yang lebih murah dan mudah.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya