Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Made Kara Kerap Didatangi Roh Meminta Dibuatkan Topeng

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 21 Juli 2020 | 15:52 WIB
Made Kara Kerap Didatangi Roh Meminta Dibuatkan Topeng
Made Kara Kerap Didatangi Roh Meminta Dibuatkan Topeng

SANUR, BALI EXPRESS -Profesi sebagai pembuat tapel atau topeng tidak bisa dianggap remeh. Tak sembarang orang bisa melakoninya. Seperti yang juga dilakoni I Made Kara, butuh pengalaman dan kemampuan khusus. Bahkan, tak jarang pembuat tapel yang diistilahkan Atapukan atau Patapukan berdasarkan Prasasti Blanjong ini, berurusan dengan hal gaib atau mistis.



I Made Kara adalah salah satu Atapukan yang berasal dari Banjar Puseh Kangin, Desa Sanur Kauh. Pria ini memiliki ciri khas pada tapel yang dihasilkan, dan bisa dibilang lain dari pada yang lain. Lantaran pria 60 tahun ini, membuat tapel berdasarkan kekuatan spiritualnya.


Saat Bali Express (Jawa Pos Group) menyambangi kediamannya, Made Kara tengah mengerjakan salah satu tapel. Dengan senang hati pria ramah ini menceritakan perjalanan hingga dirinya bisa menjadi seorang Atapukan. “Kalau dibilang pengalaman masih belum lama. Saya membuat topeng itu dari tahun 2012. Basik saya sebenarnya melukis,” tutur Made Kara.


Yang membuat hasil karyanya itu unik adalah kekuatan spiritual yang ia tekuni diaplikasikan ke dalam tapel yang dibuat. Sebelum memahat potongan-potongan kayu, ia terlebih dulu bermeditasi untuk menyucikan diri di merajan rumahnya. Setelah itu, barulah ide dituangkan ke dalam pahatan.


Uniknya lagi, karya yang dia buat sekaligus bercampur hal mistis. Sebab, ide atau tapel yang akan dibuat, muncul dari diskusi spiritual dengan roh-roh suci yang diajaknya berkomunikasi lewat meditasi tersebut. “Mereka sering datang dan meminta, seperti merengek dalam bahasa Bali : ‘gaenang tiang besik’ (buatkan saya satu). Ya lalu saya buatkan saja,” tutur Made Kara.


Ia pun pernah diminta tolong membuat tapel perwujudan I Gede Mecaling. Bahkan, pernah didatangi juga oleh Patih Gajah Mada serta Kebo Iwa dalam meditasinya itu.


Karena menekuni dunia spiritual itulah, karya dari Made Kara penuh dengan taksu. Pahatannya juga memiliki ciri khas tersendiri. Meskipun pakem atau pola tapel hampir sama dengan tapel pada umumnya di Bali.


Dengan keunikan dan nilai spiritual, maka ada saja kejadian mistis yang pernah dialaminya ketika proses membuat tapel. Seperti hujan angin yang datang tiba-tiba saat ia tengah membuat tapel Semar di rumahnya. Hal yang membuat ia akhirnya menghentikan aktivitasnya membuat tapel ketika itu. “Dalam hati saya bertanya-tanya, ada apa ini. Apakah hanya cuaca saja,” tuturnya.


Setelah hujan angin reda, dengan rasa penasaran, Made Kara kemudian melanjutkan kembali pahatannya sekaligus memastikan, apakah hanya kejadian alam yang terjadi secara kebetulan. Namun, begitu memulai lagi pekerjaannya, hujan angin kembali datang secara tiba-tiba. “Setelah bermeditasi, akhirnya pembuatan tapel selesai tanpa adanya gangguan alam,” tegasnya.


Lain lagi cerita yang pernah dialaminya ketika sebuah pura yang berlokasi di Banjar Intaran dekat rumahnya. Di depan pura tersebut, terdapat pohon Kaliombo yang diameternya besar dan hendak dirobohkan, karena dikhawatirkan bisa menimpa rumah warga.


Saat itu, Made Kara bersikeras supaya kayunya jangan dibuang, dan ia meminta sebagai bahan membuat tapel. Pada saat itu, Made Kara juga berjanji, jika tapel sudah selesai, akan diserahkan ke pura.


Selanjutnya Kayu Kaliombo itu dipotong menjadi 10 bagian berukuran 20x20 cm. Potongan kayu tersebut ia pahat menjadi 10 karakter, diantaranya topeng Sidakarya, Gajah Mada, Ngurah Jelantik, Kancing An, Kancing Wu, Subandar serta Panglima Perang Cina. Karena sudah berjanji, setelah tapel semuanya selesai, akhirnya tapel itu diserahkan ke pura tepat pada saat piodalan.


“Saat piodalan ada pementasan arja. Namun, salah satu pemangku pura mengalami karauhan dan mengambil salah satu tapel, yakni Kancing Wu. Dalam karauhan (trance) itu, pemangku menuturkan keberadaan beliau (Kancing Wu) memang ada. Proses karauhan itu lumayan lama, sekitar 30 menit,” cerita Made Kara mengenang kejadian tersebut.


Disinggung mengenai berapa lama proses pembuatan untuk satu buah tapel,  Made Kara menyebut tergantung dari mood, selayaknya undagi tapel. Namun, pernah pula dalam satu momen, pernah menyelesaikan satu tapel hanya dalam waktu satu hari.


Sedangkan untuk jenis kayu yang dipergunakannya, biasanya berjenis kayu Pule, Suar, Camplung, Jepun Jawa hingga Dadab Wong. “Yang jelas, kayu itu harus yang umurnya sudah tua. Itu sudah hal lumrah,” terang pria yang juga mantan guide Jepang ini.


Adapun tapel yang paling berkesan baginya, yakni ketika pembuatan tapel berbentuk Patih Gajah Mada. Karena tapel itu menjadi yang pertama baginya mengaplikasikan secara nyata gambaran meditasinya terkait karakter wajah dari patih yang terkenal dari Kerajaan Majapahit tersebut. “Kalau waktu pertama kali belajar itu, saya terapkan di pohon Jepun. Kebetulan d irumah ukurannya cukup besar, saya pahat saja,” paparnya.


Dengan gayanya itu, Made Kara pun tak mematok harga atas karyanya tersebut, karena memang tapel buatannya tidak ia komersilkan secara khusus. Bahkan, di rumahnya, ia membuka wadah atau perkumpulan tempat belajar menopeng bernama Rumah Topeng Atapukan De Kara. Rumah topeng ini juga didukung penuh Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra. “Siapapun boleh datang kesini. Mau tua, muda, laki, perempuan, wisatawan domestik maupun luar negeri, silakan datang. Disini tidak ada istilahnya guru dan murid, semua sama-sama belajar. Karena ini salah satu contoh nyata dalam melestarikan budaya. Anak-anak saya juga ikut,” tandasnya.

Editor : I Komang Gede Doktrinaya