GIANYAR, BALI EXPRESS –Potensi Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, yang menonjol adalah seni lukisnya, selain seni tari dan tabuh. Sehingga Sayan dijuluki sebagai gudang atau rumahnya seni lukis young artist, seperti diungkapkan Sekretaris Kelompok Sadar Wisata Desa (Pokdarwis) Sayan, Ni Made Gandhi Sanjiwani, pekan kemarin.
Dikatakannya, Desa Sayan yang baru ditetapkan sebagai Desa Wisata melalui SK Bupati Gianyar Nomor 762/E-02/HK/2020 pada 27 April 2020, sesungguhnya merupakan desa global yang telah mendunia sejak tahun 1928-an. Eksistensi ini ditunjukkan dari beberapa jenis tari dan musik tradisional Sayan yang masuk ke dalam daftar dokumentasi ilmuwan legendaris dunia.
“Salah satunya Colin McPhee Estate, Etnomusikologi dari California mendokumentasikan Angklung anak-anak Sayan tahun 1928, Gambelan Pajogedan Sayan tahun 1931-1938, dan Tari Kebyar Duduk oleh seniman Sayan legendaris I Wayan Sampih tahun 1932 - 1935," urainya.
Miguel Covarrubias, seniman, Ilmuwan Etnis, Sejarawan Seni dari Meksiko pun, lanjutnya, mendokumentasikan Tari Pendet khas Sayan di Pura Dalem Sayan tahun 1930 – 1934.
Pemudi alumnus Pascarsajana UGM ini, menuturkan, dominansi kehidupan seni – budaya di Sayan luar biasa. Sebab, sekitar tahun 1942 berhasil membuat wisatawan asal Amerika bernama Nyonya Bety menghadiahi seperangkat gambelan kepada pelaku seni gambelan di Desa Sayan.
“Menurut penuturan panglingsir desa, Sayan menjadi wilayah yang pertamakali memiliki perangkat gambelan Bali tinimbang desa sekitarnya kala itu. Catatan ini menjadi bukti hubungan harmonis antara masyarakat Sayan dan dunia yang telah terjalin sejak dahulu,” paparnya.
Ditambahkannya, yang tidak kalah menarik adalah aliran seni lukis Young Artist yang dibawa dan dikembangkan oleh Arie Smith, pelukis legendaris dunia kepada anak-anak di Desa Sayan telah mendunia sejak tahun 1960-an.
Menariknya, Young Artist menjadi satu – satunya aliran lukisan otentik di dunia yang menjadi living culture dan hanya bisa ditemukan di Desa Sayan, Ubud.
“Beberapa Sayan Young Artist Masters diantaranya, Ketut Soki, Ketut Tagen, Nyoman Cakra, Nyoman Tulus, Nyoman Sujana. Maka, Desa Sayan dijuluki sebagai Home of Young Artist. Dimana kita dapat melihat proses penggarapan langsung dari masyarakat lokal (Young Artist Masters), bahkan dapat mengikuti workshop secara langsung,” imbuh perempuan asli Sayan tersebut.
Karena berkembangnya trend wellness tourism di dunia, lanjut Ni Made Gandhi Sanjiwani, hingga saat ini menjadikan Sayan sebagai pusat wisata kesehatan dunia, seperti Yoga, Spa, dan Traditional Healing. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari spirit alam yang sangat kuat dari Desa Sayan. Dilewati oleh Sungai Ayung dan Laoh dipadu dengan lanskap persawahan yang masih sangat luas Subak Bija, kemudian didukung oleh energi spiritual yang dahsyat, telah menciptakan Taksu (aura magis) tersendiri bagi alam Sayan.
“Taksu alam Desa Sayan ini seperti tidak nampak (intangible), namun dapat dirasakan betul, sehingga mampu menarik wisatawan dari berbagai belahan dunia, khususnya segmen niche market (pasar terbatas) datang dan tinggal di wilayah Sayan. Keunikan ini kami sebut sebagai Spirit of Destination. Tidak heran, Presiden Amerika Barack Obama saat kunjungannya ke Bali memilih Sayan sebagai tempat menginap,” sambungnya lagi.
Ni Made Gandhi Sanjiwani juga mengaku salah satu spot Film Eat, Pray, Love dibintangi oleh artis Julia Roberts menjadikan Sayan sebagai salah satu spot film.
Di Sayan, beberapa masyarakat lokal secara swadaya telah mengembangkan aktivitas wisata traditional healing, birthday reading, meditasi ke alam, dan yoga. Salah satu diantaranya Jero Made Kontenshi, Sayan Healer Master yang telah banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya