TABANAN, BALI EXPRESS-Di sebelah timur Terminal Pesiapan, Tabanan, terdapat sebuah pura yang memiliki cerita unik yang kental dengan cerita mistis. Nama tempat suci tersebut adalah Pura Luhur Dalem Pesiatan yang masuk wawidangan Desa Adat Dauh Pala, Tabanan.
Kelihan Pura Luhur Dalem Pesiatan I Komang Mardika, 60, mengatakan, sejarah berdirinya Pura Luhur Dalem Pesiatan tertera dalam sebuah lontar di Puri Kompyang dengan catatan tahun 1700 atau abad ke-17. Berdirinya pura juga tidak lepas dari kejadian masa lampau, yakni pertempuran antara Puri Tabanan dengan Puri Penebel.
“Jadi disinilah dahulu tempat berperangnya atau masiat kedua puri tersebut. Setelah itu, berdirilah kahyangan atau tempat suci dengan nama Pura Luhur Dalem Pesiatan. Bukti fisik berdirinya pura tidak ada sampai sekarang,” ucap pria yang tinggal di Banjar Delod Peken, Tabanan, kemarin.
Dikatakan Komang Mardika.nama Pesiatan itu sangat kental dengan urusan adu tanding. Mengingat, selain sebagai tempat berperangnya manusia, lokasi ini juga dipergunakan sebagai tempat mengadu kesaktian.
“Istilahnya memasiat peteng. Penekun Ilmu Pangleakan mengetes kekuatannya. Lokasinya persis di sebelah utara pura. Ada lahan kosong yang dijadikan arena atau tempat mengadu kesaktian Sedangkan areal pura adalah wantilannya,” tuturnya.
Bahkan, lanjutbya, bukti-bukti masiat peteng itu sering dilihat para pangayah saat piodalan akan dilaksanakan. Pohon-pohon kelapa yang banyak berdiri, lanjut Komang Mardika, tidak pernah tumbuh dengan baik. Daun-daunnya banyak yang kering dan mati, bahkan ada juga pohon-pohon lain yang mati. Di rumput ambengan juga sering didapati bercak-bercak darah.
“Sering juga pangayah yang lain mendapati ada banten upakara penebusan. Tidak tahu siapa yang punya. Kalau belakangan ini jarang mendapati, kalau dahulu sering tetlihatbpemandangan seperti itu,” beber Komang Mardika yang akrab disapa Pak Agus ini.
Di sisi lain, lanjutnya, kawasan pura ini dipakai sebagai tempat untuk nunas pica (benda bertuah). Hanya saja, banyak oknum yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi sampai melompati panyengker pura.
Pintu pura memang dikunci rapat-rapat. Mungkin karena panyengker-nya kurang tinggi, jadi gampang dilompati. "Tapi ya itu, mereka sembunyi-sembunyi melakukannya. Kadang saya melihat ada banten pajati pagi atau siang harinya, entah siapa yang punya. Kalau marah siapa yang harus dimintai pertanggung jawabannya. Paling jro mangku hanya membuat panyapsap serta banten kecil. Tapi itu kadang-kadang saja, tidak sering,” paparnya.
Selain cerita soal adu ilmu Pangleakan, cerita mistis juga sangat kental. Diakui Komang Mardika, ada banyak duwe ida ( makhluk gaib) bhatara yang sering menampakkan diri berupa macan, ular serta burung cak.
Cerita unik dan mistis pernah dialami seorang warga, terjadi puluhan tahun silam ketika lokasi di sekitar pura masih berupa sawah.
Awalnya, salah seorang warga yang menjadi petani menaruh sapinya dekat pura, karena esok harinya akan dipakai untuk matekap (membajak sawah).
Pagi-pagi buta si petani hendak mengambil sapi yang ditinggalkan di areal jaba pura tersebut, namun yang dibawa ke sawah malah macan yang disebutkan duwe itu. Tanpa sadar dan curiga, petani itu membajak sawah. Ketika matahari sudah muncul, barulah disadarai yang dipakai matekap itu ternyata seekor macan. Sontak, petani itu lari tunggang langgang, dan kejadian itu diceritakan kepada penduduk desa.
Ada lagi soal cerita tukang yang sering didatangi makhluk gaib saat beristirahat malam hari di bedeng. Puluhan tahun lalu, banyak perumahan yang dibangun di sekitar pura yang dahulunya adalah sawah. Areal persawahan tersebut, kata Komang Mardika, masuk wilayah Subak Pesiapan.
Nah, jika ada yang berniat membangun sebuah tempat tinggal, dilakukan upacara untuk mengembalikan fungsi lahan. Mengembalikan atau istilahnya ngamantukang serta nunas pamuput itu, wajib dilakukan di Pura Luhur Dalem Pesiatan. “Tukang itu sering didatangi makhluk aneh aneh. Atas petunjuk warga, dia akhirnya minta maaf disini (di pura),” imbuhnya.
Selain cerita mistis tersebut, lanjutnya, di lingkungan pangayah juga terdapat kepercayaan yang jika dilanggar bakal mendapat hal buruk. Ketika mendekati piodalan yang jatuh pada Wrespati Uye atau dua hari sebelum Tumpek Kandang, para pangayah tidak ada yang berani bepergian terlalu jauh untuk menghindari kejadian buruk di jalan.
“Saya sendiri jelang mendekati piodalan, tidak berani kemana-mana. Lima hari saya diam di rumah saja. Ada juga kepercayaan, jika pangayah berbohong bilang tidak bisa ngayah, padahal tidak repot sama sekali, bakal kena hal buruk. Dan, itu memang benar adanya,” tegasnya.
Selain itu, ada pantangan juga tidak boleh bicara sembarangan, takabur atau congkak di dalam pura. Pura Luhur Dalem Pesiatan diempon 86 KK (kepala keluarga) yang tersebar di Tabanan. Seperti dari Dauh Pala, Dukuh, Jambe Baleran, Angkah Gede, Telaga Tunjung Kaja serta Jangkahan.
Palinggih yang berada di areal utamaning mandala atau jeroan, yakni gedong sebagai tempat berstana Ida Bhatara Luhur Dalem Pesiatan, Palinggih Ratu Nyoman Sakti, Gedong Simpen, Pasamuan, Palinggih Ratu Made. Kemudian Pasimpangan Pura Luhur Muncak Sari, Palinggih Ratu Mas, Bedugul Kaler dan Bedugul Kelod.
Sedangkan palinggih yang berada di luar jeroan adalah Palinggih Ratu Nyoman Pecalang di jaba tengah, Palinggih Ratu Pengadangan di jaba pura, dan Palinggih Nyoman Dukuh di areal hutan atau wana yang berada di barat pura.
Selain palinggih, di areal jeroan terdapat sebuah pohon Beringin besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Uniknya, salah satu akar pohon Beringin ini menjuntai ke bawah sampai menyentuh tanah. Saking besarnya akar, lambat laun malah menjadi pokok atau batang selayaknya pohon yang tertanam.
Pura ini disebutkan Komang Mardika, termasuk pura kuno. Namun, karena perkembangan zaman akhirnya dipugar. Karya Ngenteg Linggih terakhir kalinya dilakukan sembilan tahun silam.
Editor : Chairul Amri Simabur