Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Usil di Hutan Pingit Bisa Diajak Menuju Dimensi Lain

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 29 Agustus 2020 | 14:52 WIB
Usil di Hutan Pingit Bisa Diajak Menuju Dimensi Lain
Usil di Hutan Pingit Bisa Diajak Menuju Dimensi Lain



TABANAN, BALI EXPRESS - Selain terkenal dengan cerita siat petengnya (duel di alam gaib), di kawasan Pura Luhur Dalem Pesiatan di Desa Adat Dauh Pala, Tabanan,  juga terdapat kawasan suci berupa hutan atau disebut wana. 


Bagi pangempon maupun warga sekitar, percaya jika hutan yang berada di sisi barat pura, memiliki aura yang sangat mistis dan penuh misteri.


Melihat kawasan hutan seluas sekitar 9 are,  memang terkesan angker. Bali Express (Jawa Pos Grup) yang didampingi  Kelihan Pura Luhur Dalem Pesiatan, I Komang Mardika menuju kawasan hutan, merasakan suasana mencekam, meski berada di kawasan tersebut sore hari.


Disebutkan Komang Mardika,   memang terbilang kecil untuk sebutan hutan, namun banyak cerita aneh tapi nyata yang menyelimutinya. 


Komang Mardika, 60, menuturkan, warga  dilarang mengambil apa saja yang ada dalam kawasan wana tersebut. Apalagi, dengan maksud mencuri kayu atau buah yang ada disana. Niscaya, orang yang masuk kesana bakal tidak menemukan jalan keluar. 


"Seperti yang diceritakan panglingsir, ada warga yang mau mengambil buah tanpa izin. Setelah itu dia bingung  mencari jalan keluar. Setelah meminta maaf, akhirnya diperlihatkan jalannya. Setelah kejadian itu, warga tidak berani sembarangan masuk ke hutan ini lagi," ucap Komang Mardika, kemarin. 


Kemungkinan, katanya lagi, orang tersebut dibawa menuju dimensi lain, sehingga seolah-olah hutan menjadi sangat luas. Padahal kenyataannya, luasnya kurang dari 10 are. "Ini kejadian nyata. Jangankan warga, kami para pangempon saja tidak berani masuk kesana sembarangan," sambungnya. 


Yang lebih aneh lagi, sisi luar hutan yang ditumbuhi pagar alami tidak melebar dan luasnya seperti itu saja dari dahulu. "Di sebelah barat pura itu ada jalan setapak menuju Palinggih Jero Dukuh. Jalan itu memang dirabat, tapi pagar alami itu tidak melebar menutupi jalan setapak. Saya tahu pasti, karena waktu dirabat itu, saya masih berumur 20 tahun.  Pagar alami dari tumbuh-tumbuhan itu tidak melebar, padahal tidak ada pemangkasan sama sekali," paparnya. 


Lebih lanjut dikatakan Komang Mardika, di wana tersebut terdapat beberapa pohon yang dipercaya memiliki unsur magis, diantaranya seperti Kayu Keladi. Posisi kayu ini persis di depan pintu masuk di jaba sisi pura menuju madya.


Kayu ini disebutkan sudah berumur ratusan tahun dengan batang yang berdiameter kurang lebih 2 meter, namun di bagian sisinya justru berlobang sangat besar, bahkan dari bawah hingga ke tengah pohon. Uniknya, meski dengan kondisi yang menganga sangat besar, pohon tersebut masih tetap hidup sampai sekarang. 


Selain itu, ada juga Pohon Te'ep yang lokasinya di pojok barat daya. Di bawah pohon ini terdapat sebuah gundukan yang kadang tanahnya dalam hari-hari tertentu bertambah tinggi dengan sendirinya. Praktis, warga atau para pangempon sering menghaturkan canang maupun segehan di bawah pohon ini.


Lalu, ada lagi di dekat Palinggih Jero Dukuh, terdapat Pohon Boni yang berukuran besar. Diakui Komang Mardika, yang malinggih disana disebutkan menyukai anak-anak kecil. 


"Pernah suatu ketika ada anak-anak yang tinggal di sekitar pura menaiki pohon untuk mengambil buah Boni. Nah, pada saat mereka bergelantungan, salah satu anak jatuh dari atas ketinggian 5 meteran. Tapi, anak itu tidak terjadi apa-apa, tidak ada yang patah, apalagi cedera berat. Katanya, yang malinggih disana sangat suka dengan anak-anak kecil," terang Komang Mardika. 


Selain wana yang disucikan itu, terdapat juga sebuah Kul-kul atau kentongan yang disakralkan. Saat ini, di Bale Kul-kul Pura Luhur Dalem Pesiatan, terdapat tiga buah Kul-kul, padahal lumrahnya setiap Bale kul-kul itu ada dua buah.


"Ceritanya dahulu sebelum ada bale, Kul-kul itu digantung di Pohon Bunut. Lokasinya juga di barat, atau dekat hutan. Anehnya, setiap cabang yang digantungi Kul-kul itu selalu mati. Begitu terus, sampai akhirnya dibuatkan lah Bale Kul-kul," imbuh Mardika. 


Mengingat karena umur Kul-kul yang sudah tua itu, dan tidak berani membuangnya, maka Kul-kul tua itu tetap ditaruh di Bale Kul-kul sampai sekarang.  "Tapi, setiap piodalan, yang dipukul hanya dua saja. Yang membuat saya takjub, saat Kul-kul yang terbuat dari kayu Ketewel dan Camplung itu dipukul atau dibunyikan, suaranya sampai terdengar ke rumah saya di Banjar Tegal Delodan. Padahal, jarak dari pura ke rumah itu cukup jauh," pungkasnya.(tamat)



Editor : I Komang Gede Doktrinaya