GIANYAR, BALI EXPRESS-Setiap pura memiliki bentuk ukiran dan sejarah tertentu saat dibuat. Model tersebut sampai saat ini masih dipertahankan. Bila ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki, restorasi adalah pilihan utama.
Restorasi dipilih, seperti dilakukan Desa Adat Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, untuk memperbaiki candi yang ada di Pura Desa setempat.
Tujuannya untuk mempertahankan seni ukir para leluhur terdahulu, dan sebagai bentuk penghormatan pada perjuangan leluhur dalam proses pembuatannya. Apalagi dalam proses pembuatan sangat berat, seperti pencarian bahan batu padas saat pembangunan, yang konon dicari secara gotong-royong ke Sungai Ayung di barat Desa Sayan.
Bendesa Adat Sayan, dr Tjokorda Gede Ardana Sukawati, menjelaskan, ada dua candi yang direstorasi. “Restorasi yang pertama adalah candi sebagai pamedal di Pura Puseh. Sedangkan yang kedua adalah candi pamedal yang ada di Pura Desa. Tapi tempatnya sama, masih satu areal pura,” jelasnya saat ditemui, kemarin.
Dipilihnya renovasi dengan proses restorasi, lanjut Tjokorda Gede Ardana, karena ingin mempertahankan bentuk bangunan, dan yang terpenting mempertahankan nilai sejarah yang ada. Mulai dari bentuk candi, ukiran, hingga bahan yang dipergunakan.
“Sebab, para orang tua kami terdahulu bukan main susahnya mencari bahan candi, dan bentuknya hingga seperti ini,” paparnya. Umur candi sudah berabad-abad yang lalu. Bahkan, dari bentuk dan ukiran tidak terlalu banyak, hanya dibangun dari bahan-bahan batu padas yang didapat dari Sungai Ayung.
“Selain itu, kami juga bermaksud menjaga kesakralan dari candi yang ada di pura ini. Meski ada beberapa yang diperbaiki, tapi tidak dibongkar atau diperbaiki dengan bahan yang baru. Kami bongkar dan pasang kembali dengan bentuk semula,” terang Tjokorda Gede Ardana.
Terkait proses pengerjaan restorasi tersebut, pria yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Gianyar ini, menyampaikan, memerlukan waktu sekitar tiga bulan. “Tidak ada ukiran, tapi itu hanya batu padas gelodongan dipasang di candi. Semua hampir sejenis, entah apa sebabnya para orang tua kami memilih tidak mengisi ukiran penuh. Apa yang ada, itu yang kami pertahankan,” imbuhnya.
Dijelaskannya, tinggi candi yang direstorasi sekitar 25 meter, jika dihitung dari dasar candi. Sementara bagian candi yang dinilai sudah rusak, diganti dan ditambal dengan bahan yang sama. Sehingga tidak mengurangi bentuk maupun arsitektur yang ada sebelumnya. Sebab, mempertahankan sejarah tersebut sebagai bentuk rasa hormat dan bhakti kepada leluhur yang membuatnya terdahulu.
Disampaikan juga, prosesi piodalan, pemeliharaan areal pura, termasuk pembersihan candi dilakukan masing-masing banjar. Setiap piodalan menjadi tanggung jawab dua banjar setiap enam bulannya. Sehingga segala arsitektur yang ada di sana tetap terjaga dengan baik.
Tjokorda Gede Ardana menambahkan, areal Pura Desa dan Puseh setempat terdiri dari tiga mandala. Mulai dari utama mandala, madya mandala, dan nista mandala. Ia berharap segala bentuk bangunan, fungsi, dan maknanya dapat dipertahankan hingga generasi berikutnya, karena bangunan yang kuno lebih memilikin taksu, daripada pembuatan yang baru atau membongkar dengan bangunan baru.
Keberadaan Pura Desa dan Puseh , lanjutnya, tidak terlepas dengan keberadaan Puri Sayan, yang lokasinya dekat dengan pura, sekitar 10 meter. Tjokorda Gede Ardana memaparkan, sejarah Puri Sayan, yang disebut berawal dari sebagai pamacek jagat (penguasa wilayah) dengan jumlah warganya berawal sekitar 50-an orang. Mengingat di wilayah Desa Sayan merupakan tempat yang digunakan hidup secara nomaden pada zaman tersebut, hingga akhirnya membuat Pura Khayangan Tiga di areal Desa Sayan.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya