GIANYAR, BALI EXPRESS - Di masa pandemi Covid-19, masyarakat Desa Taro, Kecamatan Tegalallang, Gianyar, dibuat ketar ketir lantaran biaya pakan untuk pelestarian sapi putih (lembu putih) yang dibantu pengelola objek wisata setempat minim. Dalam hal ini diharapkan peran serta pemerintah maupun perusahaan swasta atau BUMN bisa membantu dengan menyalurkan dana CSR.
Perbekel Desa Taro, Wayan Warka menerangkan, berdasarkan sejarah pelestarian sapi putih memiliki kaitan erat dengan Pura Gunung Raung Taro dan kisah kedatangan Rsi Markandeya. Dan karena pelestarian sapi putih di wilayah Banjar Adat Taro Kaja (Desa Taro Kaja) berkembang objek wisata hiburan gajah maka pelestarian aapi putih juga dibantu oleh pengelola Elephant Safari Park.
"Sekitar 15 persen keuntungan objek wisata hiburan gajah ini diberikan untuk Desa Taro Kaja untuk mendukung pembangunan dan biaya berbagai upacara di Pura Kahyangan di Wilayah Desa Taro," ujarnya.
Disamping itu, dana kompensasi tersebut juga digunakan untuk menutupi biaya perawatan (pemeliharaan) dan pembelian pakan sapi putih yang disucikan oleh masyarakat Desa Taro Kaja. Hanya saja pada masa pandemi Covid-19, wisatawan yang berkunjung ke objek wisata hiburan gajah di Desa Taro Kaja itu sangat minim, sehingga otomatis berdampak pada tersendatnya penyaluran dana kompensasi untuk biaya pemeliharaan dan pelestarian Sapi putih di Desa Taro Kaja.
Terlebih sejak masa pandemi Covid-19, kas Desa Taro Kaja telah terkikis untuk biaya pemeliharaan dan pembelian pakan untuk 54 ekor sapi putih yang masih dilestarikan masyarakat Desa Taro Kaja.
"Sehingga kami berharap pemerintah dan sektor swasta maupun BUMN ikut membantu pelestarian Sapi Putih di Desa Taro sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan," imbuhnya.
Sementara itu staf Yayasan Lembu Putih, Ketut Daging mengatakan jika setiap bulannya, 54 ekor sapi putih tersebut menghabiskan biaya pakan berkisar Rp 27,5 Jut. "Sehingga kalau dikalkulasikan perhari biaya pakan sapi putih mencapai Rp 800.000," sebutnya.
Kata dia, kalkulasi biaya pakan itu hanya untuk pembelian rumput gajah. Selama pandemi Covid-19 sapi putih Desa Taro ini sudah sangat jarang diberikan makanan tambahan seperti polar dan konsentrat karena minimnya bantuan dari donatur.
Adapunb jumlah pekerja yang memelihara sapi putih adalahbsebanyak 7 orang. Dan sejak masa pandemi Covid-19, tenaga yang memelihara sapi putih ini bekerja secara bergilir.
Editor : I Putu Suyatra