Dalam Lontar Sundarigama, Pagerwesi merupakan momentum pemujaaan kepada Dewa Siwa, dalam hal ini Sang Hyang Pramesti Guru. Bhatara Guru merupakan manifestasi Tuhan yang di palinggih rong telu, berstana di rong tengah.
Dalam konsep kawitan atau leluhur, di rong utara adalah Hyang Dewata dan di rong sebelah selatan adalah Hyang Dewati. Sementara dalam konsep Tri Murti, rong utara adalah Dewa Wisnu, selatan Dewa Brahma, dan di tengah adalah Dewa Siwa.
Demikian banyak referensi mengenai eksistensi Bhatara Guru. Guru adalah panutan. Umat Hindu di Bali mengenal Catur Guru, yakni Guru Rupaka tak lain orang tua. Kemudian Guru Pengajian, guru yang memberikan kita pengetahuan dan pendidikan. Lalu Guru Wisesa, yakni pemerintah. Sedangkan Guru Swadyaya, Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Ini adalah bentuk penghormatan umat Hindu kepada pihak-pihak yang begitu berjasa. Sehingga baik orang tua, guru yang mendidik dan mengajari kita, pemerintah, hingga Tuhan begitu dimuliakan,” ungkap Ketua Aliansi Pemuda Hindu Bali I Wayan Suartika, S.Ag., M.Ag, Minggu (31/1).
Nah, di masa sekarang ini bagaimana bentuk aktualisasi diri Pagerwesi? Suartika menerangkan, Pagerwesi menjadi momentum untuk menguatkan sraddha dan bhakti sebagai umat Hindu. Sraddha, dalam hal ini merupakan konsep keyakinan umat. Sedangkan bhakti, merupakan implementasi dari konsep-konsep yang telah digariskan oleh agama.
“Tak hanya Pagerwesi, setiap hari suci yang diperingati oleh umat Hindu, tentunya sarat makna. Tak hanya soal seremonial, melainkan lebih jauh dari itu sebagai momentum untuk aktualisasi diri,” jelasnya.
Dahulu, kata dia, Pagerwesi cukup tenget di beberapa tempat. Sebab, dari pengartian Pagerwesi, yakni pagar besi dalam sehari itu masyarakat percaya tak boleh keluar rumah. Sehingga hanya diam di rumah.
“Saya masih ingat, ketika kecil sekolah libur karena kita diminta diam di rumah. Tak disarankan lewat pagar pekarangan,” katanya.
Menurutnya, hal itu tak bisa disalahkan. Pasalnya, masyarakat memaknainya demikian. Terpenting, tak mengakibatkan salah persepsi hingga tata laku.
“Diam di rumah, memantapkan hati untuk menyucikan diri, fokus melakukan pemujaan kepada Hyang Bhatara Guru tentunya sangat baik. Sejenak merenungi diri dan melaksanakan pengendalian, walau hanya sehari. Itu juga sangat bagus,” jelasnya.
Waktu tersebut, lanjut lulusan Pascasarjana IHDN Denpasar (kini UHN I Gusti Bagus Sugriwa) ini, termasuk juga untuk mengeratkan hubungan dengan orang tua yang ada di rumah. Sebab, sesuai yang dijelaskan di awal, orang tua adalah salah satu guru yang sangat perlu dan patut dimuliakan.
“Jadi, ini juga merupakan momentum untuk melayani orang tua kita. Tak hanya bapak atau ibu, bisa kakek, nenek dan sebagainya. Ini merupakan kesempatan yang baik,” tandasnya.
Dikatakan Suartika, mungkin selama enam bulan (210) hari sebagai anak, kita disibukkan dengan berbagai kegiatan. Ada yang asyik dengan pergaulan, sekolah, dunia kerja, dan lainnya. Sehingga sedikit waktu berinteraksi dengan orang tua. Oleh karena itu, lanjutnya, jangan sia-siakan kesempatan yang baik ini.
Pagerwesi juga menurutnya momentum untuk introspeksi diri, melihat ke dalam diri. Apa saja yang sudah dibuat selama ini. Menimbang berbagai kesalahan maupun kekeliruan. Sehingga, selanjutnya bisa menghindari pola pikir, tata laku, dan ucapan yang tak semestinya.
“Evaluasi diri kuncinya. Orang bijak, tak tabu untuk mengevaluasi diri. Sebab kita manusia, tentu tak lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Ibarat pepatah, agar kita tak jatuh di lubang yang sama. Kesalahan dan kekeliruan kita, hendaknya tak lagi terulang,” katanya.
Di era kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini, menurutnya, tentu ada sisi positif dan negatif. Positifnya pengetahuan bisa lebih mudah didapatkan. Sebab dunia maya menyajikan referensi melimpah.
“Kita juga dituntut untuk menggunakan logika dan kejernihan berpikir. Mana sumber yang bisa dipercaya dan tidak. Jadi, tak asal menerima informasi dan langsung percaya. Kita hendaknya hati-hati dan waspada,” ujarnya.
Jika tak memilih dan memilah informasi dengan baik, maka bisa tersesat. Kesesatan informasi juga bisa memicu perdebatan. Dalam perdebatan yang tak terkendali, kadang muncullah ujaran yang tak pantas.
“Kita sebaiknya belajar dari berbagai kasus yang timbul karena perdebatan yang tidak sehat. Bukan berarti tak boleh beradu argumentasi, namun hendaknya dasar perdebatan harus dipahami. Kemudian dalam berdebat, hindari kata atau kalimat yang tidak patut. Ini adalah salah satu bentuk pengendalian diri,” imbaunya.
Suartika berharap, dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, para pemuda Hindu kian berkualitas. Sebab, pengetahuan merupakan pembentuk kecerdasan. Semakin banyak pemuda Hindu yang cerdas, tentu semakin baik.
“Kita mengenal Moksartam Jagadhita, yakni keharmonisan dunia. Cita-cita itu sukar diwujudkan dengan hanya kata-kata, melainkan harus diikuti dengan implementasi yang nyata. Sehingga pengetahuan dan teknologi sebagai jembatan untuk menata hidup dan kehidupan agar lebih baik lagi,” harap pria asal Besakih, Karangasem ini. Editor : I Komang Gede Doktrinaya