Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Selain Mawinten, Penari Rangda Harus Kuasai Kanuragan

I Putu Suyatra • Rabu, 10 Februari 2021 | 05:25 WIB
Selain Mawinten, Penari Rangda Harus Kuasai Kanuragan
Selain Mawinten, Penari Rangda Harus Kuasai Kanuragan


Ada  hal penting yang wajib hukumnya diperhatikan sebelum menarikan rangda agar tidak terjadi kecelakaan atau musibah yang tidak diinginkan. Sebelum digelar, penyelenggara wajib menggelar ritual dan persembahan kepada Tuhan sesuai dengan pakemnya.



 



WIWIN MEILIANA, Denpasar



SELAIN ritual, unsur lain yang mempengaruhi kelancaran acara adalah kesiapan penari rangda. Hal ini disampaikan oleh budayawan tari topeng Prof. Dr. I Wayan Dibia.



Seorang penari rangda harus terlebih dahulu melakukan upacara pawintenan (upacara pembersihan). Pawintenan ada tiga jenis sesuai dengan tingkatannya yakni tingkat nista, madya dan mandala. Seorang penari wajib memilih salah satu tingkatan sesuai dengan kemampuan. Biasanya penari akan mengambil jenis pawintenan yang tingkatannya lebih kecil yakni nista atau pawintenan sekar. Namun, Prof. Dibia menegaskan jika pawintenan yang dilakukan oleh penari tidak menjamin tidak adanya gangguan saat mesolah. “Mawinten merupakan hal wajib yang harus dilakukan penari sebelum menari tetapi ini bukan jaminan untuk tidak mendapat gangguan saat mesolah,” ungkapnya.



Justru yang menjadi kunci kelancaran dari Tarian Rangda adalah pragina atau penari itu sendiri. Sebelum menari, pragina harus siap secara mental spiritual. Begitu juga dengan orang-orang yang berada di dalamnya untuk memproteksi ritual tersebut harus benar-benar siap secara mental spiritual.  “Kalau penari merasa tidak siap, berarti ia tidak yakin untuk melakukan ritual tersebut sehingga inilah yang menyebabkan masuknya gangguan ketika ritual berlangsung,” imbuhnya.



Bertolak dari pengalamannya sebagai penari sakral, bahwa seorang penari yang akan mesolah tidak boleh dalam keadaan cemer atau cuntaka. Meski dikatakan bahwa penari sakral bebas dari keadaan cuntaka akan tetapi ia pernah merasakan sendiri bahwa keadaan tidak “suci” itu dapat mempengaruhi kesiapan dalam mesolah. Tidak memakan ajengan bawi sebelum mesolah juga menjadi salah satu pantangan lain yang harus dilakukan oleh penari. “Itu artinya penari tidak siap dan melakukan tarian dengan terpaksa maka berkaca dari pengalaman ini jangan pernah mesolah dalam kondisi tidak suci,” jelasnya.



Terlebih saat ini banyak penari-penari muda yang berumur belasan tahun sudah dilepas untuk melakukan tarian-tarian sakral dengan resiko tinggi. Guru besar di Institut Seni Indonesia Denpasar ini mengatakan jika anak-anak muda mungkin secara fisik dan teknik menguasai gerakan-gerakan tarian tersebut tetapi tidak siap secara mental spiritual. Jangan sampai  karena ingin tampil lalu melakukan sesuatu dengan tidak konsentrasi penuh maka hasilnya pun akan tidak masikmal dan mendatangkan cidera-cidera seperti beberapa kasus-kasus yang terjadi. “Kalau ditanya mungkin saja ia mengatakan siap tetapi tokoh-tokoh spiritualnya yang harus melihat kondisi si anak apakah siap mental atau tidak, sehingga bisa mendeteksi lebih awal,” paparnya.



Lebih jelas Prof. Dibia menyebut bahwa untuk dapat menjadi penari Rangda selain menguasai teknik menari juga harus menguasi kanuragan. Hal ini untuk mencegah gangguan-gangguan yang muncul ketika mesolah sebab tarian ini akan mengundang kekuatan secara niskala untuk mencoba kekebalan kanuragan. Biasanya gangguang dapat secara langsung dirasakan dari orang yang ingin mengetes kekuatan kanuragan dengan langsung masuk ke kalangan, juga bisa dirasakan secara niskala yang sulit dijelaskan secara ilmiah. “Kalau hanya menari, tentu siapapun yang mengasai teknik menari bisa melakukannya tetapi kalua sudah berbicara pada kekuatan dilain dimensi sebaiknya penari harus memiliki kanuragan sehingga jika kekuatan ini tidak dimiliki maka tidak disarankan mencoba menari rangda,” paparnya.



Dengan kesiapan mental spiritual yang baik, maka gangguan secara niskala seharusnya dapat dideteksi lebih awal. Disinilah dibutuhkan kepekaan dari penari untuk merasakan wangsit-wangsit yang diberikan sebagai tanda adanya gangguan. Misalnya sebelumnya mesolah, tapel yang biasanya digunakan terasa sangat berat ataupun bisa melalui perasaan yang tidak nyaman atau tidak enak ketika akan mesolah. Ketika sudah dalam kondisi ragu penari disarankan untuk tidak melanjutkan prosesi tarian dan bisa dialihkan kepada penari senior yang secara batin dan kanuragan lebih siap. “Ini bukan hal aneh ketika penari merasa ragu sebaiknya memang tidak mengikuti prosesi metebekan demi keselamatan penari dan tidak mencederai ritual yang berlangsung,” lanjutnya.



Secara pakem Tarian Rangda memiliki satu gerakan khas yaitu ngelayak dan nyogroh mendekat ke penonton baik di sisi kiri dan kanan. Selebihnya gerakan merupakan kemampuan improvisasi dari penari. Sedangkan  Napak Pertiwi merupakan ritual ketika adanya pembaruan dari petapakan di suatu banjar atau desa. “Napak Pertiwi ini dilakukan ketika suatu desa melakukan pembaruan terhadap petapakan dan untuk mengembalikan kekuatan rangda itu harus dilakukan Napak Pertiwi, dan Napak Pertiwi ini bukanlah bagian dari pakem Tarian Rangda,” ungkapnya.



Pihaknya berharap ke depan penyelenggara dapat mempersiapkan ritual-ritual secara benar, mempersiapkan fisik dan mental spiritual penari dan penyelenggara agar ritual yang dilakukan mencapai tujuan yang diharapkan.



Editor : I Putu Suyatra
#bali #tari bali #hindu