DENPASAR, BALI EXPRESS – Workshop Ngareka Baligrafi digelar di Lantai 1 Gedung Ksirarnawa, Art Center Provinsi Bali, Rabu (10/2). Kegiatan sastra ini diikuti 25 peserta dari mahasiswa beberapa perguruan tinggi di Bali. Ngareka Baligrafi adalah memadukan unsur seni rupa dengan aksara Bali sehingga indah dan menarik.
Workshop Baligrafi menghadirkan dua pembicara Praktisi Baligrafi I Kadek Suardita, S.Pd. H., dan Made Reland Udayana Tangkas, S.S., M.Hum., dosen STAHN Mpu Kuturan, sementara Made Susila Putra, S.Pd., M.Pd., dosen STAHN Mpu Kuturan sebagai pangenter (moderator).
Made Susila Putra memberikan pengetahuan dasar dalam karya seni Baligrafi, yaitu pengetahuan dasar aksara, baik dalam penyesuain, penempatan detail, seperti gantungan, gempelan dan lainnya.
Baligrafi bagian dari seni rupa menggunakan dasar-dasar seni yang digunakan untuk mewujudkan sebuah karya seni rupa (Baligrafi), diantaranya titik, garis, bidang, bentuk, ruang, warna, tekstur, gelap terang, dan lainnya.
“Kami memberikan dasar-dasar yang simple, karena Baligrafi ini juga bagian dari unsur-unsur seni rupa,” terangnya.
Menurutnya, untuk bisa Ngareka Baligrafi, para peserta harus memahami terlebih dulu unsur seni rupa, lalu memahami unsur aksara. Setelah itu, baru memadukan aksara dengan unsur seni rupa untuk menjadi sebuah karya Baligrafi.
“Baligrafi itu seni menulis menggunakan aksara Bali. Singkatnya membuat kaligrafi dengan menggunakan aksara Bali. Ini mesti difamiliarkan, karena belum terlalu banyak yang mempu melakukannya. Maka itu, perlu dikembangkan, yang mulai start dari kegiatan Bulan Bahasa Bali ini dalam workshop ini,” ungkapnya.
Menurutnya, belajar Ngareka Baligrafi ini sangat penting, karena sebuah budaya Bali yang tidak dimiliki oleh daerah lain, bahkan negara lain. Ini merupakan akar budaya yang kuat, sehingga perlu dipelajari.
“Saat ini pariwisata masih down, maka ini menjadi kesempatan supaya belajar lagi tentang budaya-budaya yang belum tergali. Apalagi pemerintah Bali sudah menerapkan aksara Bali pada nama-nama intansi, maka itu sebagai sebuah cara untuk belajar aksara Bali dan Baligrafi,” ucapnya.
Sementara Made Reland Udayana Tangkas dalam makalahnya yang berjudul Baligrafi; Petemuan, Aksara, Sastra dan Rupa, mengawali pembicaraannya dengan menjelaskan awal mula Baligrafi yang diperkenalkan berawal dari sebuah Festival Baligrafi Internasional 2013 di Museum Gunarsa.
Baligrafi penting dilakukan, karena merupakan budaya Bali yang adiluhung. Apalagi di zaman globalisasi ini Ngareka Baligrafi sebagai ajang untuk melestarikan Budaya Bali.
Sedangkan Penjabat Pelaksana Teknis Bulan Bahasa Bali 2021, Made Mahesa Yuma Putra SS MSi, menyebut Ngareka Baligrafi ini merupakan kegiatan workshop yang disambut antusias genarasi muda.
Disampaikannya, peserta yang berminat cukup banyak, namun karena dalam suasana pendemi Covid-19, peserta kemudian dibatasai hanya 25 saja. “Penerapan protokol kesehatan menjadi bagian dari Krialoka, seperti memakai masker, mencuci tangan, cek suhu dan menjaga jarak,” jelasnya.
Krialoka Ngareka Baligrafi ini bertujuan untuk melestarikan aksara, bahasa dan sastra dalam bentuk penulisan naskah dalam lontar. Baligrafi ini sebagai suatu rangkain huruf atau sastra yang memiliki suatu makna.
“Penulis Baligrafi ini memang sangat langka, makanya dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2021 ini melaksanakan workshop. Intinya untuk mengajak masyarakat agar tertarik untuk membuat suatu rangkaian aksara yang bermakna,” tandasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya