DENPASAR, BALI EXPRESS - Dalam masa pandemi ini, aktivitas masyarakat sangat dibatasi. Tak terkecuali saat Pangerupukan yang merupakan rangkaian Hari Raya Nyepi. Dan, tahun ini dipastikan Pangerupukan kembali tanpa ada arak-arakan Ogoh-ogoh sesuai dengan instruksi Gubernur Bali serta Majelis Desa Adat (MDA) Bali. Tujuannya agar tidak menimbulkan kerumunan dan menjadi klaster penyebaran Covid-19.
Nah, untuk mengobati hal itu dan juga diharapkan kreativitas tetap tumbuh di kalangan anak muda, Sekaa Tetuna-Teruni (STT) Bhuana Putra, Banjar Buaji Penatih, Kelurahan Penatih Dangin Puri, menggelar lomba ogoh-ogoh secara virtual. Uniknya, yang dilombakan ini adalah ogoh-ogoh mini dengan tema yang dibebaskan.
Wayan Agus Indra Pratama selaku Ketua STT saat diwawancarai Minggu (14/2) mengatakan, Ogoh-ogoh mini yang diambil mengingat untuk ukuran yang besar, sudah tidak mungkin dilakukan saat ini.
"Jadi nanti personal saja atau peserta membawa nama masing-masing, bukan atas nama STT. Ogoh-ogoh yang didaftarkan boleh lebih dari satu dengan maksimal tinggi 1 meter dari panggung," ungkap Agus Indra.
Sasaran peserta, sebut Agus Indra, untuk seluruh Bali. Muda-mudi se-Bali dipersilakan untuk ikut serta dalam lomba nanti. Pendaftaran ditutup 25 Februari. Untuk penilaian, dilangsungkan 1-3 Maret dan disiarkan secara live streaming di media sosial STT Bhuana Putra.
"Untuk bahannya, wajib memakai bahan ramah lingkungan dan tanpa strerofoam atau gabus. Dan, yang paling penting, Ogoh-ogoh yang dibuat tidak mengandung unsur politik, pornografi maupun SARA," tegasnya.
Diakuinya, lomba ini pertama kali diadakan. Oleh karena itu, target dari panitia, minimal bisa menggaet 80 peserta.
"Jadi para peserta nantinya memposting foto, sinopsis singkat dan jelas serta menyertakan vidio berdurasi minimal 5,9 detik terkait Ogoh-ogoh yang mereka buat. Nantinya, postingan tersebut dikaitkan dengan media sosial STT Bhuana Putra di Instagram," paparnya.
Diharapkannya, dengan lomba ini, kreativitas anak muda dalam berkarya dapat tumbuh, sekaligus mengajegkan budaya agar tetap lestari, meskipun dalam situasi pandemi seperti sekarang.
"Tidak ada batasan untuk berkarya. Terpenting bagaimana mengemas agar tetap berinovasi di tengah pandemi," tandasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya