Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Panjer; Berawal dari Aksi Anak Buangan yang Menakjubkan

I Putu Suyatra • Selasa, 16 Februari 2021 | 23:23 WIB
Sejarah Desa Panjer; Berawal dari Aksi Anak Buangan yang Menakjubkan
Sejarah Desa Panjer; Berawal dari Aksi Anak Buangan yang Menakjubkan


DENPASAR, BALI EXPRESS - Pura Pakuon diyakini sebagai cikal bakal nama Desa Panjer, Denpasar, Bali. Sejarahnya berawal dari pembuangan seorang selir ke hutan Pakon dan aksi menakjubkan seorang anak raja yang dibuang sejak dalam kandungan. Seperti apa kisahnya?



Diceritakan seorang raja yang memerintah di Kerajaan Toh Jaya bernama Arya Tegeh Kori atau yang lebih dikenal dengan Arya Benculuk. Raja telah memiliki seorang permaisuri, akan tetapi di belakang rupanya raja juga memiliki selir bernama Luh Semi. Hubungan terlarang keduanya pun lambat laun mulai terendus, sehingga mengundang kemarahan permaisuri. Saat itu, perempuan yang menjalin hubungan kasih dengan raja tersebut sedang hamil muda. Yang mengejutkan, perempuan selingkuhan raja itu merupakan putri dari patih kerajaan bernama Patih Dukuh Melandang.



Mengetahui hal itu, permaisuri memerintahkan sang patih untuk mengusir dan membunuh Luh Semi. Ketaatannya terhadap tugas dan kewajiban sebagai abdi kerajaan, membuat Patih Dukuh Melandang tidak punya pilihan lain, meski harus membunuh anaknya sendiri.



Luh Semi diajak ke hutan belantara di daerah Tonja menyusur ke arah selatan hingga ia menemukan pohon kayu besar, di tempat inilah Patih Dukuh Melandang berhenti untuk melakukan tugasnya. Dicobanya untuk menghabisi nyawa Luh Semi, akan tetapi beberapa kali gagal, karena dihalangi anjing hitam besar. Berkali-kali coba dihunus pedang untuk membunuh Luh Semi, kembali aksi tersebut digagalkan anjing hitam tersebut.



Merasa takut gagal dalam menjalankan tugas dari permaisuri, timbul pikiran untuk membunuh anjing dan mengambil jantungnya. Setelah anjing tersebut mati, dibuatkan kuburan menyerupai kuburan manusia. Sampai saat ini tempat ini dikenal sebagai Setra (kuburan) Buung Keneng di daerah Kesiman. Buung berarti batal dan Keneng berarti pikiran.



“Setra inilah yang dikenal dengan nama Buung Keneng yang artinya berubah pikiran, dalam artian tidak jadi membunuh Luh Semi,” ungkap Bendesa Adat Panjer Anak Agung Ketut Oka Adnyana, mengawali ceritanya ketika ditanya mengenai sejarah Desa Panjer.



Dilanjutkan, untuk menghilangkan jejak, Dukuh Melandang memboyong Luh Semi ke arah selatan hingga menemukan hutan yang dikelilingi pohon paku. Di tempat inilah Dukuh Melandang menyembunyikan Luh Semi, dan meninggalkannya seorang diri.



Patih Dukuh Melandang pun kembali ke kerajaan dan melapor kepada permaisuri, bahwa Luh Semi telah dibunuh dengan bukti keris penuh darah yang dikatakan dipakai membunuh Luh Semi.



Sementara kehamilan Luh Semi semakin hari kian membesar. Pada suatu hari melahirkan seorang putra. Luh Semi masih tinggal di hutan yang dikelilingi alas paku, hingga sang putra tumbuh menjadi anak-anak. Tempat ini akhirnya disebut dengan Pakubon yang berarti tempat tinggal. Lama kelamaan nama Pakubon dikenal sebagai Pakuon, hingga dibuatkan pura yang diberi nama Pura Pakuon. Pura ini diempon krama yang tinggal di Jalan Nusa Indah, Abian Kapas, Denpasar.



Nah, pada suatu hari, seorang Raja Dalem Klungkung yang berencana melakukan persembahyangan ke Pura Sakenan di Pulau Serangan. Dalam perjalanannya dia melewati hutan Nyanggelan yang tidak jauh dari alas Pakuon. Di tengah perjalanan rombongan kerajaan ini merasa kelelahan, dan memutuskan beristirahat, karena melihat ada tempat beristirahat di hutan Pakuon.



“Karena melakukan perjalanan yang cukup jauh, semua panjak juga merasa lelah, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat,” jelasnya.



Ketika beristirahat segala sarana upacara berupa pengawin, tombak, tedung, dan lelontekan harus ditancapkan agar tetap berdiri. Namun anehnya tidak satu pun sarana upacara itu bisa ditancapkan. Satu per satu pengiring Raja Dalem Klungkung telah mencoba nenancapkan, namun gagal. Hingga datanglah anak kecil yang dengan mudahnya menancapkan sarana upacara tersebut, baik itu pengawin, tombak, tedung, dan lelontekan. Masing-masing sarana upacara itu di-ancer (tancap) ke tanah.



“Tiba-tiba datang anak kecil yang mampu menancapkan sarana upacara tersebut. Nah lama kelamaan ancer-ancer ini jadilah Panjer,” jelasnya.



Menyadari hal tersebut, sang raja tahu bahwa anak kecil ini bukanlah anak biasa melainkan keturunan ningrat. Merasa berterimakasih, raja menemui orang tua si anak. Di alas Pakuon raja menemui Luh Semi dan menceritakan asal-usul anak tersebut yang merupakan keturunan dari Raja Arya Tegeh Kori. Si anak pun diajak ke Kerajaan Gelgel di Klungkung. Lalu Raja Klungkung memanggil Raja Arya Tegeh Kori untuk menceritakan, bahwa anak tersebut merupakan keturunanya. “Raja Klungkung memberitahu Raja Arya Tegeh Kori dan meminta untuk mengakui dan mengasuh anaknya. Nah sejak itulah daerah ini disebut dengan Panjer,” paparnya.



Hingga saat ini, cerita asal-usul nama Panjer diperkuat dengan adanya Pura Benculuk di Tatasan, Tonja Kesiman dan Pura Pakuon di Ijo Gading Tukad Yeh Aya, Panjer. (win)



Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #denpasar