Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Desa Adat Panjer Punya Ritual Maburu, Takut kalau Tak Digelar

I Putu Suyatra • Selasa, 16 Februari 2021 | 23:33 WIB
Desa Adat Panjer Punya Ritual Maburu, Takut kalau Tak Digelar
Desa Adat Panjer Punya Ritual Maburu, Takut kalau Tak Digelar


DENPASAR, BALI EXPRESS - Desa Adat Panjer, Denpasar, Bali memiliki ritual unik yang masih lestari hingga sekarang. Padahal, desa adat ini berada di daerah perkotaan. Namanya ritual maburu. Ritual ini digelar saat tawur kesanga sebelum Hari Raya Nyepi.



Bendesa Adat Panjer Anak Agung Ketut Oka mengatakan, prosesi ritual Maburu ini diawali dengan prosesi tawur yang dilaksanakan tiga hari sebelum Nyepi. Prosesi ini bermakna, Ida Bhatara yang berstana di Panjer melakukan paruman di Bale Agung. Kemudian prosesi selanjutnya yakni melakukan pamelastian di Pura Segara yang dilakukan dua hari sebelum Nyepi. Kemudian prosesi yang dilakukan sehari sebelum Nyepi yakni menghaturkan upakara dan ngider di Bale Agung sebanyak tiga kali. Dalam prosesi ini akan ada pengadeg yang kesurupan dan berlari menuju Pura Tegal Penangsaran.



Ketika para pengadeg kerauhan dan berlari ke Pura Tegal Penangsaran untuk maburu dalam konteks mencari simbol-simbol atau niyasa dalam perwujudan babi hitam pekat yang baru berumur satu bulan, ayam, dan itik.



Dalam konteks sastra agama, babi hitam, ayam, dan itik merupakan simbol Tri Guna yang ada dalam manusia. Tri Guna merupakan tiga sifat manusia yang meliputi Satwam, Rajas dan Tamas.



“Tujuan dari prosesi ini adalah mengembalikan sifat-sifat manusia dari sifat raksasa menjadi sifat Dewa,” jelasnya.



Lalu, apakah pelaksanaan ritual ini pada Maret mendatang, atau menjelang Hari Raya Nyepi tahun ini, yang juga masih dalam masa pandemi Covid-19 akan tetap digelar?



Menurut Jero Bendesa, bahwa pihak prajuru adat telah melakukan paruman guna membahas ritual Maburu yang akan jatuh pada Maret 2021 mendatang. Dalam paruman itu diputusakan, ritual Maburu bakal tetap dilaksanakan, namun dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Keputusan ini pun diambil, lantaran pihaknya tidak ingin ketika ritual ini tidak dilangsungkan, malah menimbulkan mrana atau grubug.



“Ritual ini setiap tahun rutin kami lakukan. Belum pernah absen, meski di tengah pandemi. Justru kami takut akan timbul sesuatu yang tidak diinginkan jika ritual ini tak dilangsungkan,” pungkasnya. (win)



Editor : I Putu Suyatra
#bali #tradisi bali #hindu #denpasar #tradisi hindu #tradisi unik