Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Kuntul Bumi Dibangun Berdasar Nazar Pejuang Kemerdekaan

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 2 Maret 2021 | 15:06 WIB
Pura Kuntul Bumi Dibangun Berdasar Nazar Pejuang Kemerdekaan
Pura Kuntul Bumi Dibangun Berdasar Nazar Pejuang Kemerdekaan

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Pura Kuntul Bumi merupakan salah satu pura kahyangan jagat yang ada di Bali. Tak banyak yang mengetahui keberadaan pura ini, lantaran lokasinya di tengah kawasan hutan lindung lereng sisi utara Pura Pucak Luhur (Gunung Kutul) Desa Pucaksari, Buleleng. 


Pura yang jaraknya sekitar 53 km dari Kota Singaraja ini, secara geografis terletak di wilayah Desa Telaga, Kecamatan Busungbiu. Areal pura ini tidaklah luas. Hanya sekitar satu are saja. 


Keveradaan pura ini juga tidak terlepas cerita sejarah penjajahan Belanda. Disebutkan jika pada saat itu ada seorang pejuang bernama I Nyoman Kresnantaka. Ia bertugas sebagai penghubung antar-wilayah.


Sebagai pejuang angkatan 1945, Kresnantaka kerap menggunakan pohon-pohon besar sebagai tempat peristirahatan, persembunyian, maupun perlindungan dari serangan tentara NICA yang bermarkas di Desa Kekeran saat itu.


Dalam menjalankan tugasnya, ia selalu berpindah-pindah. Dari satu pohon ke pohon yang lain. Melintasi kawasan hutan di wilayah itu. Sampai akhirnya bersandarlah ia pada sebuah pohoh besar. 


Saat itu situasi tengah genting dan ia bernazar, apabila ia selamat dari serangan musuh, maka ia akan membangun sebuah palinggih disana. Pohon besar yang dimaksud adalah pohon Jelema. 


Pohon itu tumbuh di tengah hutan lindung lereng sebelah utara Gunung Kutul. Getah dari pohon itu berwarna merah darah. Itulah sebabnya disebut pohon kayu Jelema. Pohon ini diyakini dapat memberikan berkah tersendiri dalam setiap proses kehidupan manusia di dunia. 


Keluarga pangempon pura, Dewa Gede Pustaka menceritakan, dari perjalanannya menjalankan tugas dan kewajiban sebagai penghubung antar-wilayah, Kresnantaka akhirnya selamat. Karena itu, pada tahun 1958, Kresnantaka secara khusus mengadakan upacara atau ritual di bawah pohon tersebut. Sehingga pada suatu saat Kresnantaka menerima wahyu tepat dari pohon itu. 


“Disebutkan pada saat itu, beliau diminta untuk berjanji agar tetap menjaga tempat itu. Baik dari kelestarian dan kesuciannya,” kata Dewa Gede Pustaka. 


Kemudian pada tahun 200, pohon besar itu tumbang akibat tersambar petir. Sehingga setahun kemudian, tepatnya tahun 2002 dibangun sebuah palinggih di tempat tumbuhnya pohon besar itu. Palinggih dimaksud adalah Palinggih Gedong Sari. Disamping itu, didirikan juga sebuah palinggih berupa tugu. 


Kondisi pura sebelumnya tidaklah seperti saat ini. Pangayah Pura Kuntul Bumi, Kadek Pasek Sujana menambahkan, dahulu di areal itu adalah hutan lebat. Tidak ada palinggih seperti saat ini. 


Disebutkan pula ider-ider yang dipasang pada pura itu adalah bendera merah putih. Bendera itu dipasang memanjang mengelilingi pura. “Kalau pura lain kan biasanya kain putih atau putih kuning. Kalau ini beda. Karena ini merupakan pura perjuangan,” tegasnya.


Di kawasan ini ada Palinggih Gedong, Palinggih Surya dan Panunggu Karang. Odalannya pada Sukra Ugu. Kadek Pasek Sujana mengatakan, banyak yang datang dari luar desa. Yang datang biasanya memohon kelancaran karier, terutama untuk yang berjualan. Tapi bisa juga memohon sentana atau anak disana. Beda-beda. "Kalau memohon apapun dengan ketulusan pasti akan dikabulkan. Walau tidak seketika. Semua kan butuh proses,” ungkap Kadek Pasek Sujana.


Sejauh ini tidak ada larangan khusus. Kecuali seseorang yang mengalami cuntaka tidak diperbolehkan masuk ke areal pura. Kadek Pasek Sujana mengaku tidak pernah mengalami keanehan selama menjadi pangayah pura. 


Namun, ia mengakui aura magis di pura itu memang sangat kuat. “Selama ngayah tidak ada hal aneh yang saya alami. Cuma auranya memang sangat kuat. Aura magisnya kalau sudah disana merasa merinding. Bukan karena tempatnya dingin ya, beda rasanya,” ujarnya.


Diungkapkan pula, pada saat piodalan di pura itu akan selalu ada seekor kera dengan ukuran besar berkeliaran di tempat tersebut. Ukurannya besar dengan ekor yang lumayan panjang. Warna bulunya pun sedikit berbeda dengan kera pada umumnya. 


“Kalau sudah odalan pasti selalu datang dan selalu ada disana. Besar sekali. Ekornya panjang. Bulunya sekilas memang terlihat sama seperti yang biasa dilihat. Tapi kalau diperhatikan, itu beda,” tambah Dewa Gede Pustaka.




 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya