GEROKGAK, BALI EXPRESS - Pura Segara Rupek yang terletak di kawasan Hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), tepatnya Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Pura ini juga menjadi batas Pulau Jawa dan Bali.
Pura ini tidak bisa dilepaskan dari kisah spiritual Mpu Sidhi Mantra dan anaknya Manik Angkeran, yang kemudian menjadi legenda terpisahnya Pulau Jawa dan Bali.
Mitologi terpisahnya Pulau Jawa dan Bali, bahkan sangat erat kaitannya dengan tapa brata Mpu Sidhi Mantra sebagai konsekuensi karena anaknya gemar berjudi sabung ayam.
Bila nangkil ke Pura Segara Rupek memang penuh perjuangan. Sebab, akses jalan menuju pura melewati kawasan hutan Bali Barat yang masih asri.
Pamedek pun harus rela melintasi jalan bebatuan sepanjang 15 kilometer dari areal jalan utama, Singaraja-Gilimanuk.
Bali Express (Jawa Pos Group) saat nangkil ke pura ini beberapa waktu lalu, butuh waktu tempuh 1,5 jam menyusuri jalan bebatuan.
Namun pamedek tidak usah risau. Pasalnya, di sepanjang jalan bisa menikmati keindahan flora fauna yang terdapat di kawasan hutan yang dilestarikan ini.
Seperti Kijang, Monyet, dan beragam jenis burung hingga pepohonan langka serta dilindungi bisa terlihat jelas di sepanjang jalan.
Belum lagi suguhan pemandangan lautan yang memisahkan Pulau Jawa dengan Bali begitu jelas terlihat.
Jika dilihat, areal Pura Segara Rupek sangatlah luas. Bahkan sampai 90 are. Pura ini dikelilingi hutan belantara.
Sedangkan sisi baratnya merupakan selat Bali, yang memisahkan Pulau Jawa dengan Bali.
Bangunan pura begitu megah. Dibangun dari material bebatuan. Sejumlah palinggih terlihat berdiri kokoh di areal utama mandala pura. Penataan pura pun tergolong rapi.
Selain itu, pangempon juga rutin membersihkan sisa persembahan, sehingga tetap terlihat bersih.
Jro Mangku Wayan Kutang, 57, salah seorang pangempon Pura Segara Rupek kepada Bali Express menuturkan, pura yang persis posisinya di ujung barat laut Pulau Bali ini, pujawalinya jatuh setiap Purnama Jyesta.
Tepatnya pada Bulan April-Mei. Pamedek dari beragam penjuru pun banyak yang nangkil hingga makemit.
Ada sejumlah palinggih di areal pura ini. Diantaranya Palinggih Bhtara Surya, Hyang Pasupati, Hyang Siwa Barung Geni, Palinggih Taksu, Ida Bhatara Lingsir Mpu Sidhi Mantra, Hyang Naga Basuki Raja dan Palinggih Rencang Ida.
Jro Mangku Kutang tak menampik, keberadaan Pura Segara Rupek tak bisa dipisahkan dari Ida Bhatara Lingsir Mpu Sidhi Mantra.
Ia berkisah, jika dahulu Pulau Bali masih mejadi satu dengan Pulau Jawa.
“Di Pulau Jawa ada seorang Rsi yang bernama Sidhi Mantra, atau lebih dikenal dengan sebutan Mpu Sidhi Mantra. Beliau tidak memiliki keturunan, kemudian suatu hari beliau melaksanakan upacara Yadnya Homa. Dalam prosesi upacara tersebut, tiba-tiba muncul manik berwarna merah dari api upacara tersebut, dan entah bagaimana cahaya merah itu berubah menjadi seorang anak kecil laki-laki yang kemudian diberi nama Ida Bang Manik Angkeran,” jelasnya.
Singkat cerita, Ida Bang Manik Angkeran beranjak dewasa.
Rupanya prilakunya tidak baik, Manik Angkeran sering mabuk-mabukan dan berjudi.
Suatu ketika Mpu Sidhi Mantra menasihati Ida Bang Manik Angkeran untuk tidak berjudi atau mabuk-mabukakan lagi.
Tetapi Manik Angkeran menanggapi nasihat ayahnya dengan perasaan tidak senang, lalu pergi.
Mpu Sidhi Mantra pun kebingungan memikirkan Ida Bang Manik Angkeran karena tidak tahu kemana perginya.
Beliau kemudian pergi mencari Manik Angkeran hingga ke Pulau Bali. Sampai di Bali, Mpu Sidhi Mantra pergi ke Gua Raja untuk bertanya kepada Hyang Basuki tentang keberadaan Ida Bang Manik Angkeran.
Hyang Naga Basuki memberi petunjuk bahwa Manik Angkeran sudah di rumah.
Mpu Sidhi Mantra kembali ke Pulau Jawa dan sampai di rumahnya beliau melihat Manik Angkeran sedang tertidur.
“Mpu Sidhi Mantra bercerita kepada istrinya bahwa ia bertemu dengan Hyang Naga Basuki dan diberikan segenggam emas, karena Mpu Sidhi Mantra telah menghaturkan Empehan atau sesaji untuk Naga Basuki,” tuturnya.
Cerita tersebut kemudian didengar Manik Angkeran yang sudah terbangun.
Manik Angkeran ingin berjudi lagi, namun ia tidak memiliki uang.
Terlintaslah dipikirannya tentang cerita Mpu Sidhi Mantra dan istrinya yang mendapatkan emas dari Naga Basuki.
Cepat-cepat Manik Angkeran mengambil genta milik ayahnya sebagai sarana untuk memanggil Naga Basuki.
Setelah berhasil menemukan genta, Manik Angkeran bergegas pergi ke Pulau Bali menuju Gua Raja untuk bertemu Hyang Naga Basuki.
Sampai di Gua Raja, Manik Angkeran melakukan pemujaan untuk memanggil Naga Basuki dengan menggunakan genta ayahnya dan menghaturkan sesajen.
Sang Naga Basuki pun keluar dari goa, karena Manik Angkeran sudah menghaturkan sesajen, Naga Basuki memberikan emas dua genggam kepada Manik Angkeran.
Naga Basuki pun kembali ke goa. Pada saat Naga Basuki kembali ke dalam goa, Manik Angkeran melihat ekor dari Hyang Naga Basuki berisikan permata, intan dan emas yang sangat indah.
Manik Angkeran berniat jahat, ia memotong ekor Naga Basuki dan segera pergi membawa potongan ekor yang berisi batu permata dan intan tersebut.
Hyang Naga Basuki sangat sedih dan marah karena Manik Angkeran telah memotong dan mencuri batu permata dan intan yang ada di potongan ekornya itu.
Naga Basuki mematuk jejak kaki Manik Angkeran, dan keluarlah api yang sangat besar. Kemanapun Manik Angkeran berlari api itupun mengikutinya.
Manik Angkeran bersembunyi di hutan cemara. Namun besarnya api tidak bisa dihindari lagi.
Mpu Sidhi Mantra kembali mencari Manik Angkeran hingga ke Pulau Bali dan di tengah hutan cemara ditemukan sosok mayat manusia yang sudah hangus.
Sedangkan genta milik Mpu Sidhi Mantra yang ditemukan disana merupakan bukti mayat tersebut adalah anaknya, yaitu Bang Manik Angkeran.
Mpu Sidhi Mantra sangat sedih melihat putranya sudah meninggal. Datanglah Hyang Naga Basuki menjelaskan semua yang telah terjadi.
Mpu Sidhi Mantra memohon kepada Hyang Naga Basuki agar bersedia menghidupkan kembali putranya.
“Hyang Naga Basuki bersedia dengan syarat jika Mpu Sidhi Mantra sanggup mengembalikan ekornya seperti semula, Hyang Naga Basuki bersedia menghidupkan kembali Manik Angkeran,” paparnya.
Mpu Sidhi Mantra segera menyanggupi permintaan Hyang Naga Basuki dengan mengucapkan mantra, dan seketika ekor Hyang Naga Basuki kembali seperti semula.
Hyang Naga Basuki pun mengeluarkan ajiannya untuk menghidupkan kembali Manik Angkeran. Manik Angkeran yang hidup kembali, meminta maaf kepada Hyang Naga Basuki atas perbuatannya itu.
Mpu Sidhi Mantra selanjutnya memerintahkan Manik Angkeran untuk mengabdi kepada Hyang Naga Basuki, agar bisa memperbaiki kebiasaan buruk yang selama ini selalu dilakukannya.
Setelah itu, Mpu Sidhi Mantra kembali ke Pulau Jawa.
Di tengah perjalanan, Mpu Sidhi Mantra menancapkan tongkatnya dan membuat garis, seketika itu keluarlah air, sehingga menjadi lautan, yang disebut dengan Segara Rupek, dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Selat Bali.
“Segara Rupek menjadi batas antara Pulau Jawa dan Bali. Beliau membuat batas seperti itu agar Manik Angkeran tidak dapat kembali pulang ke Pulau Jawa. Semenjak itulah Pulau Bali dan Jawa menjadi terpisah,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya