SINGARAJA, BALI EXPRESS - Dalam Lontar Bhama Kertih, sudah ada upaya menetralisasi dari masing-masing kondisi halaning palemahan (letak perumahan kurang bagus). Solusi ini bisa diterapkan jika penghuni sudah terlanjur membangun rumah di pekarangan yang panes (berenergi begatif) tersebut.
Menurut dosen di Prodi Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawijaya, S.Ag, M.Fil.H, untuk kondisi Karang Tledu Nginyah langkah yang dapat diambil untuk menteralisasi lahan itu adalah dengan jalan merelakan tanah atau pekarangan untuk diundur tembok penyengkernya agar sudut tanah atau pekarangannya tidak lagi berhadap-hadapan dengan tanah pekarangan yang di seberang serta ditambah upacara Pamahayu Karang.
Karang Tledu Nginyah bisa dimaknai tanah atau pekarangan dalam satu garis purusa yang letaknya berseberangan jalan atau gang. Dengan sudut tanah yang saling berhadapan satu dengan lainnya.
Kemudian untuk Karang Kalingkuhan, menetralisirnya dengan dibuatkan upacara pacaruan pamahayu pekarangan. Bagian luar tembok pekarangan atau di samping pintu masuk pekarangan dibangun palinggih Padma Capah, sebagai sthana Sang Hyang Indrablaka, dan Sang Hyang Kalamaya.
Karang Kalingkuhan artinya tanah atau pekarangan yang letaknya berada pada sudut pekarangan orang lain atau terdapat pekarangan orang lain yang mengitari pekarangan sendiri.
Khusus untuk menetralisasi dampak negatif Karang Sulanupi, dapat dibuatkan upacara pacaruan pamahayu karang dengan caru Jigramaya dan diluar tembok pekarangan pada areal sudutnya yang berhadapan langsung dengan pertigaan jalan dibangun Palinggih Padma Capah.
Karang Sulanupi dimana tanah atau pekarangan yang letaknya berada pada sudut pertigaan jalan atau gang, atau setengah dari sisi tanah pekarangan dilingkari oleh jalan, gang, got dan sungai atau tukad.
Sedangkan Karang Catuspata perlakuannya hampir sama dengan Karang Sulanupi, yaitu dengan melaksanakan upacara pacaruan pamahayu karang dan membangun Palinggih Padma Capah sebagai sthana Sang Hyang Idrablaka dan Sang Hyang Durgamaya. Karang Catuspata, tanah atau pekarangan yang terletak pada sudut perempatan jalan atau gang.
Kemudian Karang Suduk Angga, jika tanah atau pekarangan yang letak atau posisinya tertusuk (katumbak) jalan, gang, dan sungai. “Menetralisasi Karang Suduk Angga dilakukan dengan membangun Padma Capah. Posisinya harus tepat berada secara berhadapan dengan jalan yang menusuknya (numbak),” jelasnya.
Dalam Teks Bhama Kretih juga menyebutkan, ada dua jenis upakara yang dapat digunakan sebagai penawar bagi kondisi karang panes. Seperti jenis-jenis pekarangan yang telah disebutkan, yaitu dengan Caru Pamahayu Karang dan Caru Jigramaya.
Khusus Caru Pamahayu Karang atau Pengasih Bhuta, sarananya adalah sasenden anyar masurat surya lan candra, medaging tumpeng putih asiki, tumpeng kuning asiki, iderin antuk sarwa sekar, rakan nyane putih kuning, iwak ayam suddhamala pinanggang, bebek putih maguling, canang genten. Sawusan pinuja pendhem ring tengahing natar pekarangan. Phalanya Dewa teka asih, Bhuta teka asih.
Pujanya : Om, Indah Ta Kita Bhatari Durga, dening kita hanuduh I Bhuta mangsa, apan kita wus sinungan sajin nira. Om, Indah ta kita hangken sapenagkan ta paran-paranya, haywa ta kita hanglarani hangrubheda manusan nira, iki tadhah sajin nira, wus ta sira padha hanadhah saji, mundura ta sira maring pasenetan nira, kemiten manusan nira, siddha amagguhang dirghayusa paripurna. Om Sidhdhir astu ya namah.
Sedangkan untuk Caru Jigramaya, sarananya caru ayam putih mulus maolah dadi 5 tanding, malayang layang majejantah lembat asem padha makatih, urab barak, urab putih, tempengnya padha madanan, olahannya padha winadhahan sengkwi, sawusan pinuja, caru punika pendhem ring bilang bucuning pekarangan, layang-layang nyane pendhem ring tengah natar pekarangan nyane.
Pujanya : Ih, Kita Sang Bhuta Jigramaya, marupa manca warna, kita retuning Bhuta Kala Dhengen, makanak I Pamali Pulung raksa, I undar-andir, ekadasa rowing nira, kita anggawe kepanjingan Hyang lalah, kesandering glap, katiben amuk, kasiratin rah, salwiring cuntaka bhayaning pekarangan, kalebur kapunah de nira sang Bhuta jigramangsa. Om, Ang Ksama sampurna ya namah Swaha.
Penentuan pintu keluar dari sebuah pekarangan, sebut Titra, juga tak bisa diabaikan. Menurut teks Asta Kosala-Kosali dan Asta Bhumi, proses nyikut panyengker (mengukur tembok) adalah proses kedua setelah proses pemilihan tanah dan proses upacara Pengeruwakan Karang.
Sebab, untuk membuat pintu masuk atau keluar tidak boleh sembarangan. Karena pintu masuk merupakan sthana dari Sang Hyang Dorakala. “Secara etimologi, kata Dora artinya pintu (Lawang) dan Kala yang artinya waktu atau hari. Sehingga pintu berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari bagi penghuninya,” jelasnya.
Dalam teks Asta Bhumi, proses mengukur atau Nyikut Pamedalan diawali dengan melantunkan mantra 'Om Eka Dwaja Yo Nikretah' lalu membentangkan seutas tali sepanjang lokasi lahan yang akan dibangun lalu dibagi sembilan ruas. “Tiap-tiap ruas memiliki nilai baik atau buruk, sehingga pemilihan ruas yang tepat sangat diperlukan untuk menciptakan pamedalan yang bernilai baik,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya