SINGARAJA, BALI EXPRESS-Dang Hyang Nirartha yang lebih dikenal masyarakat Bali dengan julukan Pedanda Sakti Wau Rawuh adalah tokoh besar yang jejak peradabannya banyak ditemukan di Bali. Tokoh legendaris dan orang suci (pendeta) dari Kerajaan Majapahit akhir ini, juga dijuluki Bhagawan Arthati dan Mpu Kupa.
Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardhiyasa M.Pd mengatakan, menurut Babad Brahmanawangsa Tattwa, Dang Hyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1498 masehi. Saat itu, Bali diperintah dinasti Kresna Kapakisan di bawah Raja Sri Aji Dalem Waturenggong Kresna Kapakisan (1460-1550) yang berstana di Kraton Swecchalinggarsapura atau Gelgel.
Dalam Babad Brahmanawangsa Tattwa, Dang Hyang Nirartha sendiri adalah guru negara di Kerajaan Majapahit dan Bali Rajya. Ketika meninggalkan Daha (Majapahit) menuju Pasuruhan, dan dari Pasuruhan menuju Blambangan, beliau tidak diikuti istri. Sedangkan kedatangan Dang Hyang Nirartha di Bali disertai istri yang berasal dari Blambangan, yakni Patni Kaniten dan seluruh putra-putrinya berjumlah 9 orang.
Keberangkatan Dang Hyang Nirartha ke Bali ditandai peristiwa-peristiwa menarik dan simbolik, yang menyatakan ketinggian ilmu kerohanian yang dimiliki beliau.
Ketika beliau mengarungi Segara Rupek atau Selat Bali dengan memakai perahu dari sebuah buah waluhpait (labu pahit) bekas kepunyaan orang Mejaya, kaki tangannya dipergunakan sebagai dayung dan kemudi.
“Berkat ketinggian batin dan kemurahan Tuhan, beliau sampai dengan selamat di Pantai Kapurancak, pada eka tunggal catur bumi, yaitu Saka 1411 atau 1489 Masehi. Itu terungkap dalam Babad Dalem,” ujar Suka pekan kemarin.
Sedangkan istri beserta sembilan orang putra beliau diyakini menaiki sebuah perahu bocor. Ajaibnya, perahu tidak tenggelam. Rombongan keluarga Dang Hyang Nirartha pun sampai di tepi Pantai Purancak dengan selamat.
Rupanya, saat beliau kebingungan arah, seekor kera memberi petunjuk ke arah timur. Berkat jasa kera tersebut, beliau berjanji dengan seketurunannya tidak akan menyakiti kera walaupun berdalih untuk memelihara sebagai binatang kesayangan.
Dalam perjalanan Dang Hyang Nirartha sesampainya di Bali, juga sempat memasuki mulut seekor Naga dan memetik bunga teratai tiga warna. Yakni hitam, merah, dan putih. Bunga terarai yang berwarna putih beliau pegang. Sedangkan yang merah disumpangkan di telinga kanan, dan yang hitam di telinga kiri.
Setelah keluar dari mulut Naga, wama tubuh beliau berubah-ubah, hitam, merah, dan putih kekuning-kuningan. Hal inilah yang membuat istri dan putra-putri beliau lari tunggang langgang karena ketakutan. Namun, Dang Hyang Nirartha berhasil mengumpulkannya semua, kecuali Lila Swabhawa, Putri Daha.
Dang Hyang Nirartha memanggi-manggil putrinya, yang akhirnya ditemui dalam keadaan lesu pucat pasi. Ida Swabhawa mohon kepada Dang Hyang Nirartha untuk diajarkan ilmu gaib. Setelah mendapatkan semua itu, maka lenyaplah lda Swabhawa berbadankan niskala dan disebut Bhatari Melanting. Bhatari Melanting tidak dikenai oleh umur tua dan kematian atau kekal abadi.
Demikian juga istri Patni Keniten. Karena merasa kepayahan ingin pula dianugrahi ilmu gaib. Dang Hyang Nirartha mengabulkannya. Beliau pun disebut lda Dalem Ketut. Yang disungsung penduduk Desa Pohlaki, yang sekarang dikenal dengan nama Pulaki.
Dalam Babad Darmayatra disebutkan, penduduk desa setempat yang berjumlah kurang lebih 8 ribu orang dengan rasa bhakti dan tulus diubah statusnya menjadi makhluk yang tidak dilihat orang. Mereka menjaga istri dan putranya.
Dalam perjalanannya di Desa Gading Wani, Dang Hyang Nirartha sanggup melenyapkan wabah penyakit yang menimpa Desa Gading Wani. Beliau juga menganugerahkan ajaran kerohanian kepada Bendesa Gading Wani.
Kabar kedatangan Dang Hyang Nirartha rupanya didengar Pangeran Bendesa Mas di Desa Mas. Sang Bendesa masih ada hubungan famili dengan Bendesa Gading Wani. Karena itu, Bendesa Mas segera mengutus seseorang untuk menjemput sang pendeta.
Dang Hyang Nirartha pun meninggalkan Desa Gading Wani menuju Desa Mas. Perjalanan Dang Hyang Nirartha dari Desa Gading Wani melewati beberapa daerah. Beliau mengajarkan pengetahuan suci Weda kepada masyarakat setempat.
“Karena terjadi suatu peristiwa yang gaib, dimana tempat beliau beristirahat dan mengajarkan masyarakat, akhirnya didirikan sejumlah pura untuk memuja Dang Hyang Nirartha,” imbuh pria yang juga dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini.
Selain sebagai pengarang yang produktif, beliau juga memiliki konsep vidoner dalam pembinaan dan pengembangan agama Hindu.
Suka Ardhiyasa menyebut, bangunan-bangunan suci yang didirikan atas anjuran beliau ternyata mampu membentengi Bali dari keterkikisan jati diri.
Setelah Dang Hyang Nirartha diangkat menjadi padiksyan Dalem Waturenggong, maka beliau melakukan perjalanan suci sebagai wujud tanggung jawab sebagai padiksyan.
“Perjalanan mengelilingi Pulau Bali yang dilakukan Dang Hyang Nirartha bertujuan melakukan penataan kehidupan keagamaan di Bali. Perjalanan yang dimulai dari ujung Barat Pulau Bali dengan cara menyusuri pantai,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya