Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Ciri Penjelmaan Panca Kumiligi Akibat Perilaku Seks Bebas

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 28 Mei 2021 | 18:23 WIB
Ini Ciri Penjelmaan Panca Kumiligi Akibat Perilaku Seks Bebas
Ini Ciri Penjelmaan Panca Kumiligi Akibat Perilaku Seks Bebas

SINGARAJA, BALI EXPRESS- Melakukan hubungan seks tanpa etika, bebas, tak mengenal tempat, sangat fatal akibatnya bagi anak yang lahir. Dalam sastra Hindu banyak tersurat soal aturan bersanggama. 


Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawijaya, S.Ag, M.Fil.H mengatakan, dalam teks berbentuk prasi yang berjudul Dampati Lalangon atau kesenangan suami-istri, dilukiskan mereka yang mengejar kepuasan seks belaka. Meskipun telah terikat dalam suatu pernikahan, namun bisa memiliki risiko melahirkan anak penjelmaan dari Sang Kumiligi.


Dikatakan Tirta, Kumiligi adalah roh-roh tingkat rendah yang berada di bawah alam manusia. Kumiligi dialamnya, lanjutnya, berebut naik untuk bisa menjelma menjadi manusia guna menebus papa kelahirannya itu. 


Dalam hukum penyempurnaan semesta, makhluk dalam tingkatan rendah akan berusaha untuk menjadi lebih sempurna,


“Kumiligi berusaha menjadi manusia. Demikian juga manusia, berusaha untuk menjadi dewa. Dan dewa berusaha untuk menyatu dengan Brahman,” ujar Titra kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.


Dalam usaha si Kumiligi menjadi manusia, dewa menganugerahkan kepada mereka kesempatan menjadi manusia. Kesempatan ini akan datang, apabila manusia dalam melakukan hubungan seksnya, lepas dari arahan Kama Tattwa.


Menurut Tirta, pasangan yang menganggap pelajaran seks Kama Tattwa tidak perlu untuk dipelajari, maka ini adalah kesempatan baik bagi si Kumiligi untuk lahir menjadi manusia. Sebab, mereka yang tidak tahu manfaat teks Kama Tattwa, memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan seks buta yang hanya mengejar kenikmatan belaka.


Dicontohkannya, kehamilan di luar nikah merupakan kesempatan utama dan penjelmaan Panca Kumiligi. Demikian juga dengan hubungan yang dilakukan di tempat tidak layak yang akhirnya menyebabkan kehamilan.


Panca Kumiligi adalah lima macam roh tingkat rendah, yakni I Nguntang, I Nganting, I Bongol, I Tundik, dan I Ngulaleng. I Nguntang disimbolkan dengan perwujudan tangan manusia, I Nganting dengan simbol kaki, I Bongol dengan tubuh tanpa kepala, I Tundik dengan wujud bhuta dengan posisi tangan menunjuk, dan I Ngulaleng diwujudkan sebagai Bhuta Sungsang/terbalik.


Jika I Nguntang dan I Nganting yang menjelma, dicirikan dengan anak yang apabila marah justru menyiksa diri sendiri. Sedangkan jika I Bongol yang menjelma, maka anak tidak pernah menghiraukan larangan orang tua dan nasihat yang diberikan dianggap angin lalu.


Bila I Tundik yang menjelma, si anak sering minta sesuatu pada orang yang bertamu ke rumahnya. Ciri parah dan penjelmaan I Tundik, si anak memiliki sifat suka mencuri. Namun, jika I Ngulaleng yang menjelma, anak sering berlari keluar rumah. Bila sudah agak besar, si anak lupa segalanya kalau sudah bermain.


Kesempatan lain bagi Kumiligi bisa menjelma menjadi manusia apabila ada pasangan manusia melakukan hubungan seks di luar norma. Seperti misalnya seks di lapangan umum, di bawah pohon angker, di pinggir pantai dekat pura, di sungai yang disucikan, dapur, tempat permandian, kandang sapi/babi, atau tempat-tempat yang dianggap di luar kelayakan.


“Jika diaktualisasikan dengan kondisi sekarang, seks di kolam renang umum, lapangan umum, dapur, gudang, mobil, di atas kapal umum, WC, dan segala jenis hubungan seks yang dilakukan pada tempat-tempat diluar kelayakan dan etika,” jelasnya.


Demikian juga kelahiran anak yang disebabkan perselingkuhan, hamil luar nikah, pemerkosaan, kehamilan yang tidak diketahui siapa yang membuahi. Semua itu merupakan kesempatan emas bagi si Panca Kumiligi untuk menjelma menjadi manusia. 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #upacara #hindu #tradisi