SINGARAJA, BALI EXPRESS-Krulut merupakan wuku ke-17 dari jumlah 30 nama wuku yang ada. Pada wuku ini, diperingati Tumpek Krulut, yang jatuh pada Sabtu atau Saniscara Kliwon. Masyarakat Hindu Bali meyakini Tumpek Krulut identik dengan hari untuk menyucikan perangkat gamelan. Bahkan, ada pula yang meyakini sebagai hari kasih sayang atau valentine versi Bali.
Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Putu Ariyasa Darmawan, M.Ag. menyebut, bukan tanpa dasar jika Tumpek Krulut dijadikan momentum penyucian gamelan hingga disebut hari 'Valentine' versi Bali.
Pria asal Banjar Sedahan, Gulingan, Mengwi, Badung ini, mengatakan, ada beberapa sumber sastra berupa lontar yang menguraikan seluk beluk seni Karawitan ini. Diantaranya Lontar Aji Ghurnnita dan Tutur Tabeh tabehan.
Karawitan merupakan seni suara instrumental dan vokal yang menggunakan laras (tangga nada) pelog dan selendro. Karawitan instrumental Bali disebut gambelan, dan Karawitan vokal disebut tembang atau sekar.
Sementara gambelan merupakan orkestra yang terdiri dari bermacam-macam instrumen yang terbuat dari batu, kayu, bambu, besi, perunggu, kulit, dawai, dan lain-lainnya dengan menggunakan laras pelog dan slendro.
Gambelan juga merupakan bagian dari Panca Suara. Yakni lima suara yang harus hadir dalam setiap pelaksanaan upacara yajna, yaitu suara genta, suara mantra, suara kidung atau kekawin, suara tetangguran atau gambelan, dan suara kulkul atau sunari.
Hal ini menunjukkan gambelan itu tidak hanya sebagai sebuah hiburan, namun sebuah seni yang melengkapi sebuah upacara.
Lontar Aji Ghurnnita menguraikan hal tersebut secara detail mengenai waktu, sarana penyucian, siapa yang dipuja, dan tata cara menyucikan masing-masing barungan gambelan.
“Upacara penyucian gambelan Bali dilaksanakan setiap Sabtu Kliwon wuku Krulut atau Tumpek Krulut yang jatuh setiap 210 hari sekali,” jelas Ariyasa.
Dalam Lontar Aji Ghurnnita, diungkapkan : Mwah yaning angupakara salwiring tatabuhan, rikala wuku Kruḷut, ring dina, Sa, ka, babantenya, kang inareparep, sasayut, pangambyan, pras, panyeneng, sodayan, dakṣina, blabaran, katipat gong, kelanan, canang lenga wangi burat wangi, pasucyan, rantasan, kumkuman, saha panyamlehan, mwah pangulapan, pangenteg, prayascitta saking sang wiku. Lyan sake rika, sakarepta ngawewehin wnang, nanghing anutakna. Mwah rikala mangkana sang wruh atatabuhan, asuci laksana.
Jika diartikan, ketika membuat persembahan tetabuhan, pada wuku Krulut, pada hari Sabtu Kliwon, segala tetabuhan diupacarai dengan sesayut, pangambeyan, pras, panyeneng, soda, daksina, blabaran, katipat gong, kelanan, canang lenga wangi burat wangi, pasuciyan, rantasan, kumkuman, dan penyamblehan, serta pengulapan, pangenteg, prayascita dari sang pandita.
Dikatakannya, dalam uraian Lontar Aji Ghurnnita juga secara jelas menyebutkan, waktu penyucian gambelan Bali beserta sarana upacaranya. Tak hanya itu, bagi penabuh juga ikut menyucikan diri, karena antara perangkat atau barungan gambelan dan penabuh gambelan saling berkaitan.
Tata cara penyucian gambelan, lanjut Putu Ariyasa Darmawan, semua anggota sekaa ikut memberikan sembah bhakti tiga kali. Pertama memakai bunga kehadapan Sang Hyang Agni, Surya, Candra, Lintang dan kepada Sang Hyang Akaaa, karena beliau mengetahui, menciptakan semesta, sebagai bukti persembahan.
Selanjutnya memakai bunga lima warna, ditujukan kepada Sang Hyang Bayu, Sabda, Idep. Beliau merupakan jiwa dari diri manusia, yang menghidupi tubuh. Kemudian memakai kwangen dipersembahkan kepada Sang Hyang Menget.
Setelah itu, semua memohon tirta kumkuman, dipercikkan di kepala tiga kali, diminum tiga kali, diusap ke tubuh tiga kali. Setelah itu, mempersembahkan sembah tanpa sarana satu kali, ditujukan kepada Sang Hyang Gangga, karena Sang Hyang Gangga merupakan dasar kumkuman tersebut.
Estetika gambelan Bali tidak lepas dari konsep estetika Hindu Satyam, Siwam, dan Sundaram. Satyam atau kebenaran adalah dasar filosofi, sejarah, etika, kutukan, dan ajaran seni karawitan Bali bersumber dari Lontar Aji Ghurnnita.
Pengaruh Lontar Aji Ghurnnita terhadap seni Karawitan di Bali sebagai guru utama dalam membuat sebuah karya, dan berfungsi sebagai dasar berkarya.
Siwam atau kesucian seni Karawitan Bali dalam Lontar Aji Ghurnnita tersirat adanya dewa dewi penguasa masing-masing suara gambelan, dan adanya proses penyucian dari perangkat gambelan serta guru atau sekaa gong.
Sundaram atau keseimbangan seni Karawitan Bali dalam Lontar Aji Ghurnnita banyak tertuang pada konsep keseimbangan dua dan tiga, yaitu Rwa Bhineda dan Tri Angga.
Terkait kesucian gambelan, bahwa sebenarnya setiap bilah atau daun gambelan itu mengandung filosofi dewa yang dipuja. Bilah atau dauh gambelan itu memiliki dua laras, yaitu pelog dan selendro.
Keduanya memiliki dewa masing-masing yang disebut Panca Swara. Jika laras pelog yaitu dang (A) Dewa Iswara, deng (E) Dewa Brahma, dong (O) Dewa Mahadewa, dung (U) Dewa Wisnu dan ding (I) Dewa Siwa.
“Sementara laras selendro Panca Swaranya ndang (A) Dewi Mahadewi, ndeng (E) Dewi Saraswati, ndong (O) Dewi Gayatri, ndung (U) Sri Dewi, dan nding (I) Uma Dewi," pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya