Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Belajar Basa Bali, Uning Ring Basa, Uning Ring Rasa

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 31 Mei 2021 | 22:37 WIB
Belajar Basa Bali, Uning Ring Basa, Uning Ring Rasa
Belajar Basa Bali, Uning Ring Basa, Uning Ring Rasa

DENPASAR, BALI EXPRESS -Meski zaman terus berkembang, bahasa dan aksara Bali masih lestari hingga kini. Hal ini tak lepas dari masyarakat yang masih menggunakan Bahasa (basa) Bali dalam percakapan sehari-hari. Apalagi aksara (tulisan) Bali juga ditampilkan di tempat-tempat tertentu, menyusul Pemprov Bali mendorong pembiasaan penggunaan bahasa dan aksara Bali.


Namun tak dipungkiri pula, Bahasa Bali yang digunakan kini dalam percakapan sehari-hari telah bercampur dengan berbagai bahasa. Salah satunya Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional. Belum lagi istilah-istilah yang muncul dari pergaulan anak muda. Perpaduan ini perlahan menjadi kebiasaan juga. Sehingga ketika masyarakat dihadapkan pada Bahasa Bali sesuai pakem, akan grogi, terbata-bata, atau bahkan sulit berkata-kata.


Berkaitan dengan masalah tersebut, Pusat Pengembangan Bahasa Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Minggu sore (23/5) memuat tema menarik dalam kegiatan belajar dan diskusi bahasa daring Widyagocara bertema  'Anggah-Ungguhing Basa Bali Ngwangun Luihing Laksana Para Jana'. 


Kegiatan sederhana yang diipandu moderator I Kadek Widiantana, S.Pd.B. M.Pd dan MC Ni Putu Yoni Serlina ini, dibanjiri pertanyaan peserta yang sebagian besar mahasiswa. Mereka yang rata-rata generasi milenial sangat antusias. 


I Nyoman Ranem, S.Pd.B. M.Pd.H selaku Narawakya alias narasumber, menerangkan pentingnya bahasa, khususnya Bahasa Bali. “Yaning nenten uning mabasa, nenten uning ring rasa," ungkapnya. Maksudnya, jika tidak tahu berbahasa, tidak tahu rasa.


Jadi, penggunaan bahasa yang baik dan benar merupakan salah satu bentuk nilai rasa atau menghargai lawan bicara. Bahasa Bali dalam keseharian memang biasa saja. Namun, jika berpedoman pada anggah-ungguhing basa atau sor singgih basa, maka lumayan kompleks. Sebab, ada pakem yang mesti diikuti. Salah satunya kata yang ditujukan kepada orang lain akan berbeda dengan kata untuk menyatakan diri. 


Untuk orang lain, terlebih dalam strata sosial yang dianggap lebih tinggi, maka digunakan kata yang halus. Namun, untuk diri sendiri digunakan kata yang andap atau kelasnya di bawah.


Misalnya kata ngelah, madrebe, dan madue yang sama-sama berarti punya. Penggunaannya berbeda, sesuai dengan lawan bicara.


Pertanyaan peserta pun bermunculan. Ada yang menilai penggunaan Bahasa Bali yang sesuai pakem susah diucapkan. Hal ini tak ditampik Ranem. 


Menurutnya, pembiasaan salah satu kuncinya. Mulai dari lingkungan keluarga, penggunaan bahasa Bali ini perlu digunakan sehari-hari. “Jika di rumah masing-masing dibiasakan menggunakan bahasa Bali, banyak kata-kata yang bisa diketahui,” ujarnya.


Ia pun mendorong generasi muda untuk intens praktik. Selain di rumah, saat bergaul di banjar, terutama ada sangkepan atau paruman (rapat), hendaknya berbicara menggunakan sor singgih basa. Sehingga kata-kata yang sesuai, secara tak langsung bisa hafal. “Ini akan menghilangkan hambatan-hambatan dalam berbicara,” katanya.


Sering membaca tulisan yang menggunakan Bahasa Bali juga disarankan. Membaca, tegasnya penting. Sebab dari membaca, kita bisa menulis. “Kalau takut membaca, maka akan susah. Semakin banyak membaca tulisan Bahasa Bali, maka kita akan terbiasa,” ucapnya.


Kemudian menulis. Misalnya membiasakan menulis pesan singkat dengan Bahasa Bali. Juga menerjemahkan Bahasa Indonesia ke Bahasa Bali. Dalam menerjemahkan perlu merujuk pada kamus Bahasa Bali yang kini bisa didapat dengan cukup mudah. Bahkan, banyak aplikasi, baik di gawai maupun untuk penulisan aksara di komputer. 


“Bisa juga saat menggunakan media sosial berbicara dengan Bahasa Bali. Bertemu dengan teman-teman berbicara dengan Bahasa Bali,” terangnya. 


Bahkan, di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar (dahulu IHDN Denpasar), beberapa tahun belakangan membiasakan mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Bali menyajikan skripsi dengan Bahasa Bali. 


Ketentuan penulisan ilmiah masih diterapkan, namun istilah-istilah di dalamnya dipadankan dengan Bahasa Bali. Misalnya kata penelitian dipadankan dengan seseleh, latar belakang dengan wiwilan, rumusan masalah dengan unteng wicara, dan sebagainya.


Cara seperti itu diharapkan juga menguatkan kemampuan mahasiswa. Sehingga penyandang gelar sarjana pendidikan, khususnya Bahasa Bali betul-betul menuangkan kemampuan bahasanya di samping isi penelitian.


Tak hanya itu, karena kemampuan tersebut akan diuji nantinya saat mahasiswa memaparkan penelitiannya di hadapan dosen penguji. Tentunya dengan Bahasa Bali pula. Ini akan memantapkan kemampuan yang bersangkutan dari segi teori dan praktik.


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #upacara #hindu #tradisi #uhn i gusti bagus sugriwa