Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sarasamuccaya (23) : Brata Sang Brahmana

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 3 Juni 2021 | 15:45 WIB
Sarasamuccaya (23) : Brata Sang Brahmana
Sarasamuccaya (23) : Brata Sang Brahmana

DENPASAR, BALI EXPRESS-Kitab Sarasamuccaya yang membahas perihal kehidupan dan moral umat, melaui Catur Warga atau Catur Purusaartha (Artha, Kama, Dharma, dan Moksa, salah satu kitab penting bagi umat Hindu.


Buku Sarasamuccaya yang diterjemahkan oleh I Nyoman Kajeng Dkk ini, diserikan untuk menambah wawasan umat tentang agama Hindu.


V. Catur Warna. Brahmanah ksatriyo vaisyastrayo varna dvijatayah, caturtha ekajatiyah sudro nastiha pancamah.


Brahmanah adining warna, tumut ksatnya, tumut waicya, ika sang warna tiga, kapwa dwijati sira, dwijati ngaraning ping rwa mangjanma, apan ri sedeng niran brahmacari gurukulawasi kinenan sira diksabratasangkara, kaping rwaning janma nira tika, ri huwus nira krtasangskara, nahan matangnyan kapwa dwijati sira katiga, kunang ikang sudra kapatning warna, ekajati sang kadi rasika, tan dadi kinenana bratasangskara, tatan brahmacari, mangkana kandanikang warna an pat, ya ika caturwarna ngaranya, tan hana kalimaning' warna ngaranya.


Terjemahan : Brahmanah adalah golongan pertama, menyusul ksatria, lalu wesia ; ketiga golongan itu sama-sama dwijati ; dwijati artinya lahir dua kali, sebab tatkala mereka menginjak masa kelahiran yang kedua kali, adalah setelah selesai mereka menjalani upacara pensucian (pentahbisan).


Itulah sebabnya mereka itu ketiga-tiganya disebut lahir dua kali. Adapun sudra yang merupakan golongan keempat, disebut ekajati. Lahir satu kali, tidak boleh dikenakan kepadanya bratasangskara. Tidak diharuskan melakukan brahmacari. Demikian halnya keempat golongan itu, itulah yang disebut caturwarna, tidak ada golongan yang kelima.


Adhiyita brahmano vai yajeta dadyadiyat tirthamukhyani caiva, adhyapayedyajayecchapi yajyan pratigrahan va vihitanupeyat.


Nya dharma sang brahmana, mangajya, mayajna, maweha danapunya, magelema atirtha, amarahana, wikwaning yajna, mananggapa dana.


Terjemahan : Berikut inilah dharma sang brahmana, mempelajari Weda, mengadakan upacara kebaktian atau pujaan, memberikan amal sosial, berkunjung ke tempat tempat suci, memberikan ajaran-ajaran (penerangan agama), memimpin upacara dan dibenarkan menerima derma.


Dharmasca satyam ca tapo damasca vimatsaritvam hristitiksanasuya, yajnacca danam sa dhrtih kaamaca mahavratani dvadasa vai brahmanasya.


Nyang brata sang brahmana, rwa welas kwehnya, pratyeknaya, dharma, satya, tapa, dama, wimatsaritwa, hrih titiksa, anasuya, yajna, dana, dhrti, ksama, nahan pratyekanyan rwawelas, dharma, satya, pagwanya, tapa ngaranya sarira sang sosana, kapanasaning sarira, piharan, kurangana wisaya, dama ngaranya upasama dening tuturnya, wimatsaritwa ngarani haywa irsya, hrih ngaraning irang, wruha ring irang wih, titiksa ngaraning haywa gong krodha, anasuya ngaraning haywa dosagrahi, yajna magelem amuja, dana, maweha danapunya dhrti ngaraning maneb, ahning, ksama ngaraning kelan, nahan brata san brahmana.


Terjemahan : Ini adalah brata sang brahmana, duabelas banyaknya, perinciannya dharma, satya tapa, dama, wimarsaritwa, hrih, titiksa, anusuya, yajna, dana, dhrti, ksama. 


Itulah perinciannya sebanyak dua belas, dharma dari satyalah, sumbernya. Tapa artinya 'Carira sang-cosana, yaitu dapat mengendalikan jasmani dan mengurangi nafsu. Dama artinya tenang dan sabar, tahu menasihati dirinya sendiri. 


Wimatsaritwa artinya tidak dengki-irihati. Hrih berarti malu, mempunyai rasa malu. Titiksa artinya jangan sangat gusar. Anasuya berarti tidak berbuat dosa. Yajna adalah mempunyai kemauan mengadakan pujaan. 


Dana adalah memberikan sedekah. Dhrti artinya penenangan dan pensucian pikiran. Ksama berarti tahan sabar dan suka mengampuni. Itulah brata sang brahmana. 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #hindu #tradisi