SINGARAJA, BALI EXPRESS-Tradisi Weda telah membumi dalam kehidupan Hindu Bali. Juga mewarnai kehidupan masyarakat Bali kuno. Salah satunya adalah tradisi perayaan Purnama-Tilem dan menyembah leluhur dengan sesaji dari beras dan tumpeng.
Filolog Naskah Lontar Bali dan Jawa Kuno, Sugi Lanus mengungkapkan, sembahyang yang berpatokan pada Purnama dan Tilem dalam tradisi Weda disebut sebagai Darsapurnamasa. Tradisi ini adalah tradisi yang sangat kuno yang disebutkan sangat jelas sebagai bagian tradisi Hindu kuno.
Darsapurnamasa berasal dari kata darsa dan purnamasa yang mengacu pada Tilem dan Purnama. Di Bali disebut sebagai diwasa Purnama dan Tilem. Sesuai tradisi persembahyangan dalam Weda kuno, ada pembagian yang membedakan upakara Tilem dan Purnama.
Upakara Darsa dilakukan pada bulan mati atau Tilem dan hari berikutnya. Purnamasa dilakukan pada hari bulan Purnama dan hari berikutnya. Dalam tradisi Weda, prosedur kedua persembahyangan dilengkapi dengan jaja uli, gipang, dan berbagai jajanan dari beras, yang dikenal sebagai Purodasa (kue beras).
Kemudian dipersembahkan kepada Bhatara Indra dan Hyang Agni (Hyang Api dan Bhatara Surya) saat Tilem (Darsa). Sedangkan ketika Purnama (Purnamasa) banten yang sama dihaturkan kepada Hyang Agni (Hyang Api dan Bhatara Surya) dan Hyang Soma (Bhatara Chandra).
“Menurut tradisi Weda, leluhur dipuja ketika Purnama dan Tilem. Pemujaan leluhur yang dilakukan dalam melengkapi Purnama-Tilem ini dikenal dengan nama Pindapitryajna : Mendoakan nenek moyang sampai tiga generasi ke atas. Pindapitryajna dengan sarana nasi kepel dan tumpeng ketika Tilem,” ujar pria yang juga mengoleksi ratusan cakep lontar Usada ini.
Persembahyangan pemujaan leluhur dengan nasi kepel ini merupakan salah satu dari berbagai ritual yang disebutkan dalam Vaikhanasagrhyasutra (yaitu, vaikhanasa-grhya-sutra) yang ditulis dalam kelompok Weda Taittirya bagian dari Krsaayajurveda, yang dijabarkan dalam Grhyasutra, bagian dari Vaikhanasa yang terdiri dari sebelas bab atau prasna, dibagi lagi menjadi sub-bagian yang disebut khanda.
Tujuh bab pertama yang membahas bagian Grhyasutra berisi pengaturan pemujaan pada leluhur atau Pindapitryajna, salah satu dari tujuh Pakayajna. Sebelas bait dari Rgveda, bersumber dari Mandala Ketiga, menyebutkan upakara ini.
DI Bali tradisi ini dikawal dengan sumber lontar Bhagawan Garga. Lontar ini tidak hanya memberikan pedoman Purnama-Tilem dan wariga yang lain. Tetapi juga mengandung pesan pelaksanaan puja Purnama-Tilem.
Kalender ritual desa-desa Bali kuno yang disebutkan dalam berbagai prasasti Bali kuno yang terbit jauh berberapa abad sebelum era Majapahit, telah mengagendakan persembahan Widhi dengan kalender Purnama-Tilem dengan istilah Sanskerta.
“Raja Jayapangus secara jelas menyebutkan, pedoman pemerintah kerajaan yang dipimpinnya memakai pedoman kitab Manawa Dharmashastra. Secara sangat jelas Manawa Dharmashastra menyebutkan kewajiban persembahan Purnama-Tilem,” ungkap Filolog Naskah Lontar Bali dan Jawa Kuno, Sugi Lanus.
Secara tradisional dari turun-temurun disebutkan, aturan persembahyangan berdasar Purnama-Tilem ini kemungkinan didasari Sastra-Parwa. Khususnya Adi-Parwa yang dipercaya perkembangannya jenis sastra ini telah dimulai ada senjak zaman Raja Udayana abad ke 11.
Kitab Brahmananda Purana yang ditemukan secara utuh di dalam bentuk lontar di Bali memakai bahasa Jawa Kuno pun menyebutkan persembahyangan Purnama-Tilem.
Secara tradisional kitab Brahmananda Purana dipercaya dibawa ke Bali oleh Mpu Kuturan sekitar tahun 1001 Masehi. Demikian juga kitab sastra Parwa dan Kanda.
Lontar-lontar pedoman kependetaan pemangku Sangkul Putih dan Kusumadewa secara umum memberikan pedoman piodalan dan persembahan yang kalendernya jatuh berdasar pertimbangan Purnama-Tilem dan pawukon.
“Tradisi odalan dan puja Purnama-Tilem yang kita warisi entah sadar atau tidak disadari oleh generasi sekarang, entah dipahami atau tidak, adalah pengejawantahan dan pembumian, bukan sekadar tutur dan wacana, tapi telah menjadi laku-tindak, menjadi kalender karya-odalan-pamujan di berbagai parahyangan (pura) di seantero Pulau Bali,” imbuhnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya