Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Maling-Malingan Agar Warga Adat Tenganan Tak Mencuri 

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 5 Juni 2021 | 17:06 WIB
Tradisi Maling-Malingan Agar Warga Adat Tenganan Tak Mencuri 
Tradisi Maling-Malingan Agar Warga Adat Tenganan Tak Mencuri 

AMLAPURA, BALI EXPRESS — Krama Adat Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, memiliki tradisi Maling-Malingan. Salah satu tradisi yang rutin digelar di Desa Bali Aga itu memiliki makna yang sangat dalam, yakni mengimbau agar warga tidak melanggar ketentuan adat. Salah satunya mencuri di wilayah desa.


Tradisi Maling-Malingan digambarkan dalam rentetan prosesi Usaba Sambah. Bahkan digelar beberapa hari sebelum tradisi Geret atau Perang Pandan dilangsungkan. 


Kelian Satu Desa Tenganan Pegeringsingan, I Putu Madri Atmaja menjelaskan, Maling-Malingan digelar menggunakan daging babi sebagai salah satu sarananya.


Babi yang disembelih, dagingnya dihaturkan untuk upacara, dan sisanya dipakai untuk Maling-Malingan. Ditambah beberapa jenis makanan. 


Setelah sarana siap, daging yang dipakai beserta beberapa jenis makanan itu digantung di atas atap Bale Agung dan Bale Patemu Klod Desa Adat setempat. Tepatnya di pinggir bale.


Empat krama berperan sebagai maling dengan memakai pakaian adat khas Tenganan. Mereka dibagi. Dua diantaranya berperan mencuri tulang rusuk, daging, dan makanan lain yang digantung di Bale Agung, dan dua krama lagi mencuri di Bale Petemu Klod.


Setelah dimulai, warga lainnya mengejar empat krama yang mencuri itu. Setelah ditangkap, krama adat memberi sanksi sosial dengan diarak keliling desa. Kepala serta kakinya diikat keraras (daun pisang) berisi ikan. Badan dan wajahnya dicoret kapur.


Usai tradisi Maling-Malingan, warga berkumpul di sekitar Bale Patemu Klod ikut Magibung atau makan bersama dalam satu tempat secara berbagi. Harapannya mempertahankan dan mempererat kembali solidaritas antara masyarakat di Tenganan Pegringsingan. “Ini sebagai edukasi dan memberi efek jera warga,” kata Atmaja.


Atmaja mengingatkan, tradisi Maling-Malingan ini sekaligus sebagai edukasi agar warga takut lakukan perbuatan negatif. Seperti mencuri. Sehingga masyarakat tetap merasa aman dan nyaman. “Tradisi ini sudah digelar sejak nenek moyang, rutin untuk mengingatkan masyarakat agar tak mencuri di manapun,” pungkasnya. 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #karangasem