DENPASAR, BALI EXPRESS-Kitab Sarasamuccaya yang membahas perihal kehidupan dan moral umat, melaui Catur Warga atau Catur Purusaartha (Artha, Kama, Dharma, dan Moksa), salah satu kitab penting bagi umat Hindu.
Buku Sarasamuccaya yang diterjemahkan oleh I Nyoman Kajeng Dkk ini, diserikan untuk menambah wawasan umat tentang agama Hindu.
Vaisyoshitya bramanat ksatriyadva dhanaih kale sambivhajyacritamsca, tretapurvan dhumamaghraya punyam pretya svarge devasukha bhinukte.
Nihan ulaha sang waicya, mangajya sira ri sang brahmana, ring sang ksatriya kuneng, mwang maweha dana ri tekaning danakala, ring cubhadiwasa, dumdumana nira ta sakwehning mamarasraya ri sira, mangelema amuja ring sang hyang tryagni ngaranira sang hyang apuy tiga, pratyekanira, ahawaniya, garbhaspatya, citagni, ahawanidha ngaranira apuy ning asuruhan, rumateng i pinangan, garhaspatya ngaranira apuy ning winarang, apan agni saksika kramaning winarang i kalaning wiwaha, citagni ngaranira apuy ning manunu sawa, nahan ta sang hyang tyagni ngaranira, sira ta pujan de sang waiya, ulah nira ika mangkana, ya tumekaken sira ring swarga dlaha.
Terjemahan : Yang patut dilakukan oleh sang waisya, ia harus belajar pada sang brahmana, maupun pada sang ksatria dan hendaklah ia memberikan sedekah pada saatnya. Waktu persedekahan tiba, pada hari yang baik, hendaklah ia membagi-bagikan sedekah kepada semua orang yang meminta bantuan kepadanya, dan taat mengadakan pujaan kepada tiga api suci, yang disebut Tryagni, yaitu tiga api suci, perinciannya adalah Ahawaniya, Garhaspatya dan Citagni.
Ahawaniya artinya api tukang masak untuk memasak makanan. Garhaspatya artinya api upacara perkawinan. Itulah api yang dipakai saksi pada waktu perkawinan dilangsungkan. Citagni artinya api untuk membakar mayat, itulah yang disebut tiga api suci. Api itulah harus dihormati dan dipuja oleh sang waisya. Perbuatannya demikian itu menyampaikan dia ke alam sorga kelak.
Brahma ksatram vaicyavarnam ca sudrah kramenaitan nyayatah pujyamanah, tustesvetesvavyatho dagdhapapastyaktva deham siddhimistamllabheta.
Yapwan ulahaning sudra, bhaktya sumewa ri sang brahmana, ri sang ksatriya, ring waisya, yathakrama juga, paritusta sang telun sinewakanya, hilang ta papanya, siddha sakaryanya.
Terjemahan : Akan perilaku sang sudra, setia pengabdi kepada brahmana, ksatria dan waisia, sebagaimana harusnya. Apabila puaslah ketiga golongan yang dilayani olehnya, maka terhapuslah dosanya dan berhasil segala usahanya.
Raja bhirur brahmanah sarvabhakso vaicyo'nihavan hinavarno'lasasco, vidvanacilo vrttahinah kulinah bhrasto brahmanah stri ca dusta.
Hana pwa mangke kramanya, ratu wedi-wedi, brahmana sarwabhaksa, waicya nirutsaha ring krayawikrayadi karma, sudra alamen sewaka ring sang triwarna, pandita dussila, sujanma anasar ring maryadanya, brahmana tan satya, stri dustra dussila.
Terjemahan : Jika ada hal yang demikian keadaannya : raja yang pengecut, brahmana doyan segala makanan, waisya yang tidak ada kegiatan dalam pekerjaan berniaga, berjual beli dan sebagainya, sudra enggan, tidak suka mengabdi kepada triwarna, pandita yang bertabiat jahat, orang yang berkelahiran utama nyeleweng dari hidup sopan santun, brahmana yang curang dan wanita yang bertabiat nakal dan berlaku jahat.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya