Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sarasamuccaya (25) : Dapat Menasihati Diri Sendiri

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 7 Juni 2021 | 15:52 WIB
Sarasamuccaya (25) : Dapat Menasihati Diri Sendiri
Sarasamuccaya (25) : Dapat Menasihati Diri Sendiri

DENPASAR, BALI EXPRESS-Kitab Sarasamuccaya yang membahas perihal kehidupan dan moral umat, melaui Catur Warga atau Catur Purusaartha (Artha, Kama, Dharma, dan Moksa), salah satu kitab penting bagi umat Hindu.


Buku Sarasamuccaya yang diterjemahkan oleh I Nyoman Kajeng Dkk ini, diserikan untuk menambah wawasan umat tentang agama Hindu.


Brahma ksatram vaicyavarnam ca sudrah kramenaitan nyayatah pujyamanah, tustesvetesvavyatho dagdhapapastyaktva deham siddhimistamllabheta.


Yapwan ulahaning sudra, bhaktya sumewa ri sang brahmana, ri sang ksatriya, ring waisya, yathakrama juga, paritusta sang telun sinewakanya, hilang ta papanya, siddha sakaryanya.


Terjemahan : Akan perilaku sang sudra, setia pengabdi kepada brahmana, ksatria dan waisia, sebagaimana harusnya. Apabila puaslah ketiga golongan yang dilayani olehnya, maka terhapuslah dosanya dan berhasil segala usahanya.


Raja bhirur brahmanah sarvabhakso vaicyo'nihavan hinavarno'lasasco, vidvanacilo vrttahinah kulinah bhrasto brahmanah stri ca dusta.


Hana pwa mangke kramanya, ratu wedi-wedi, brahmana sarwabhaksa, waicya nirutsaha ring krayawikrayadi karma, sudra alamen sewaka ring sang triwarna, pandita dussila, sujanma anasar ring maryadanya, brahmana tan satya, stri dustra dussila.


Terjemahan : Jika ada hal yang demikian keadaannya : raja yang pengecut, brahmana doyan segala makanan, waisya yang tidak ada kegiatan dalam pekerjaan berniaga, berjual beli dan sebagainya, sudra enggan, tidak suka mengabdi kepada triwarna, pandita yang bertabiat jahat, orang yang berkelahiran utama nyeleweng dari hidup sopan santun, brahmana yang curang dan wanita yang bertabiat nakal dan berlaku jahat. 


Ragi muktah pecamanah svahetormurkho vakta nrpahinam ca rastram, ete sarve cocyatam yanti rajan yascamuktah snehahinah prajasu.


Waneh. wanaparsthadi, sawakaning mataki-taki kamoksan tatan hilang raganya, masuruhan maphala ryawaknya, swartha kewala wih, inahakan patirthana, panamwana warawarah, ndan murkha, tan panolih sukhawasana, kadatwan tan paratu, grhastha tan masih ring anak, tan huninga ring rat kuneng, samangkana lwirning kawlas arep, niyata wi panemwanya hala.


Terjemahan : Lain lagi wanaprastha dan sejenisnya, yaitu orang orang yang mempersiapkan diri untuk memperoleh kelepasan (Moksa), akan tetapi orang itu tidak lenyap nafsu berahinya, malahan ia memasak makanan hanya bagi kepentingan dirinya sendiri saja, mencemarkan tempat-tempat suci, yaitu tempat memperoleh ajaran-ajaran suci, angkara murka, tidak mengindahkan segala yang mengakibatkan kebahagiaan, kerajaan tanpa raja, seorang kepala rumah tangga tidak mengasihi anak-anaknya, juga tidak mempedulikan keadaan masyarakat, sedemikian banyaknya hal-hal yang menimbulkan prihatin. Terang nyata mereka itu pasti akan menemui malapetaka. 


Arjavam canrcamsyam ca damaccendriyanigrahah, esa sadharano dharmascaturpvarnye bravinmanuh. Nyang ulah pasadharanan sang caturwarna, arjawa, si duga-duga bener, anrsansya, nrcansya ngaraning atmasukhapara, tan arimbawa ri laraning len, yawat mamuhara sukha ryawaknya, yatika nrcansya ngaranya, gatining tan mangkana, anrsansya ngaranika, dama, tumangguhana awaknya, indriyanigraha, humrta indriya, nahan tang prawrtti pat, pasadharanan sang caturwarna, ling Bhatara Manu.


Terjemahan : Inilah perilaku keempat golongan yang patut dilaksanakan arjawa, jujur dan terus terang. Anrcangsya, artinya tidak nrcangsya. Nrcangsya maksudnya mementingkan diri sendiri, tidak menghiraukan kesusahan orang lain, hanya mementingkan segala yang menimbulkan kesenangan bagi dirinya.


Itulah disebut nrcangsya. Tingkah laku yang tidak demikian, anrcangsya namanya. Dama artinya dapat menasihati dirinya sendiri, Indriyanigraha, mengekang hawa nafsu, keempat perilaku itulah yang harus dibiasakan oleh sang caturwarna, demikian sabda bhatara Manu.


Ahinsa satyavacanam sarvabhutsu sarjavam ksama, caivapramadasca yasyaite sa sukham bhavet. Nihan temen-temening yogya kawasakena, ahimsa, satya, si tan kira-kira kahalan ning sarwapreni, si klan, si tan paleh-paleh, sang makadrbya ika kabeh, sira prasiddha ning sukha ngaranira.


Terjemahan : Inilah yang benar-benar harus dikuasai, ahimsa, yakni tidak menyakiti atau tidak membunuh. Satya, berkata benar, tidak berniat jahat terhadap makhluk apapun, siklan, tahan uji, si tan paleh, tidak alpa/lengah, orang yang memiliki semuanya itu, sesungguhnya telah mendapatkan kebahagiaan. 




Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #hindu #tradisi