Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Hari Baik Jadi Panduan Aktivitas Masyarakat Hindu Bali

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 7 Juni 2021 | 15:57 WIB
Ini Hari Baik Jadi Panduan Aktivitas Masyarakat Hindu Bali
Ini Hari Baik Jadi Panduan Aktivitas Masyarakat Hindu Bali

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Padewasan bagi masyarakat di Bali sangat vital. Hampir seluruh akivitas tidak lepas dari ala ayuning dewasa (baik buruknya hari). Mulai dari aktivitas sosial keagamaan hingga pekerjaan, tak luput dari perhitungan padewasan dalam kalender Bali. Pustaka universal ini secara esensial merupakan kebutuhan primer bagi umat Hindu di Bali saat ini.


Dosen Wariga STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H, M.Ag., mengatakan, padewasan merupakan pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari buruk dalam melakukan suatu aktivitas. Penggunaan padewasan sangatlah menonjol dan penting bagi semua kalangan umat Hindu di Bali.


“Dalam menjalankan aktivitas sosial keagamaan, masyarakat senantiasa berpedoman dengan kalender Bali. Dalam kalender Bali dijabarkan berbagai ala ayuning dewasa,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Grpup) belum lama ini.


Padewasan bisa dilihat berdasarkan Triwara. Dimana saat Pasah baiknya melakukan upacara yang ditujukan kepada dewa. Kemudian Beteng baiknya melakukan upacara yang ditujukan kepada manusia, dan Kajeng baiknya melakukan upacara yang ditujukan kepada bhuta.


Sedangkan Padewasan berdasarkan Saptawara dibagi menjadi tujuh. Saat Redite baiknya menanam tumbuhan berbuku/beruas. Soma baiknya menanam tumbuhan berumbi. Lalu Anggara baiknya menanam daun-daunan. Budha baiknya menanam bunga-bungaan. Kemudian Wraspati baiknya menanam biji-bijian. Sukra baiknya menanam buah-buahan, dan terakhir Saniscara baiknya menanam tumbuhan melilit/turus.


Adapun beberapa aktivitas sosial keagamaan yang diatur dalam kalender Bali dan sering dilaksanakan umat Hindu di Bali beserta dewasa ayu-nya yang tertuang dalam kalender Bali. 


Meliputi hari baik untuk mengadakan gotong-royong dan kampanye, yakni Semut Sedulur. Kemudian hari baik untuk melantik pengurus organisasi atau pejabat, yakni Dasa Guna, Kala Raja, Kala Wisesa, Ratu Ngemban Putra. Hari yang patut dihindari yakni Prabu Pendah, Ratu Megambahan, dan Titibuwuk.


Hari baik untuk membentuk perkumpulan atau organisasi, yakni Semut Sedulur, dan Tunut Masih. Hari baik untuk membuat peraturan atau awig-awig, yakni Dauh Ayu, Kala Guru, Kala Panyeneng. Hari yang patut dihindari yakni Ratu Megambahan.


“Hari baik untuk membuat larangan atau tata tertib yakni Kala Demit. Hari baik untuk memulai pekerjaan yang bersifat gaib, yakni Kajeng Kliwon Enyitan, dan Tutur Mandi. Hari baik untuk membuat benda yang menakutkan, yakni Kala Macan,” imbuhnya.


Hari baik untuk membuka sekolah atau perguruan yakni Tunut Masih. Hari baik untuk memulai suatu kegiatan penting, yakni Kala Wisesa dan Ayu Nulus. Hari baik untuk mengadakan pertemuan atau rapat, yakni Kala Katemu. Hari baik untuk mengadakan sabung ayam atau tajen adalah Kala Jengkang, dan Kala Pati Jengkang.


Hari baik untuk menyusun rencana penting, yakni Subacara. Hari baik untuk melakukan segala aktivitas, yakni Ayu Nulus. Hari baik untuk bersedekah madana punia adalah Ayu Dana dan Rekatadala Ayudana. 


Hari baik untuk mengangkat sentana atau anak angkat, yakni Ratu Ngemban Putra. Hari baik untuk menjalin persahabatan adalah Sri Bagia.


“Selain digunakan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan, Kalender Bali juga dilengkapi dengan padewasan dalam berbagai bidang profesi, seperti pertanian, peralatan, keahlian, bangunan dan lain sebagainya,” ujarnya.


Padewasan  juga menjadi tolok ukur dalam menjalankan aktivitas profesi atau mata pencaharian. 


Made Gami Sandi Untara  mengatakan, ada beberapa acuan padewasan dalam bidang profesi yang tertuang dalam Kalender Bali.


Diantaranya dewasa ayu untuk bercocok tanam, secara umum antara lain, Amerta Gati, Amerta Kundalini, Amerta Masa, Ayu Badra, Ayu Dana, Dewasa Tanian, Istri Payasan, Jiwa Menganti, Kala Matampak, dan Pamacekan.


Dewasa ayu untuk membuka lahan pertanian dapat menggunakan Kala Pepedan. Kemudian dewasa ayu untuk menanam pohon kelapa, yaitu Kala Alap, Ratu Magelung, Ratu Manyingal, Srigati Turun. 


Sedangkan hari yang dihindari, meliputi Babi Munggah, Geni Rawana, Gni Rawana Jejepan, Kajeng Uwudan, Kala Mereng, Kala Muas, Kala Sor.


Selanjutnya dewasa ayu untuk menanam padi, jagung atau kacang-kacangan, meliputi Asuajeg Turun, Sampi Gumarang Munggah, Sampi Gumarang Turun, Srigati Jenek, Srigati Munggah, Srigati Turun. 


Dewasa ayu untuk menanam tanaman beruas, seperti Dadig Krana, Rekatadala Ayudana. Lantas ada juga dewasa ayu untuk membuat alat-alat pertanian, antara lain Kala Sapuhau.


Dewasa ayu untuk membuat alat-alat berdagang, yakni Srigati Turun. Dewasa ayu untuk membuat tempat berdagang, yakni Sedana Yoga. Dewasa ayu untuk membuat alat-alat penangkap ikan, antara lain Kajeng Kipkipan, Kala Capika, Kala Caplokan, Kala Cepitan, Kala Dangastra, Kala Geger, Kala Jangkut, Kala Jengkang, Kala Mina, Kala Ngamut, Kala Rebutan, Macekan Lanang, Macekan Wadon, Pamacekan.


Kemudian, dewasa ayu untuk membangun bangunan suci, yakni Amerta Dewa, Dasa Guna, Dewa Ngelayang. Dewasa ayu untuk membangun rumah antara lain, Amerta Masa, Amertayoga, Ayu Badra, Dauh Ayu, Derman Bagia, Dewasa Mentas, Dewasa Ngelayang, Guntur Umah/Graha, Kala Empas Munggah, Kala Graha, Kamajaya, Ratu Ngemban Putra, Sampi Gumarang Turun, dan Siwa Sampurna.


Dewasa ayu untuk membangun sumur, kolam dan perairan irigasi, meliputi Banyu Milir, dan yang patut dihindari adalah Banyu Urug, Kala Awus, Kala Beser, dan Kala Olih. Dewasa ayu untuk membangun tembok panyengker antara lain Kala Dangastra, Kala Demit, Kala Ngadeg, Kala Pager, dan Sarik Ketah.


“Selain itu, ada juga dewasa ayu untuk melatih hewan bekerja, yakni Tunut Masih. Dewasa ayu untuk memulai memelihara ternak adalah Kala Upa.  Dewasa ayu untuk menangkap ikan adalah Kala Mina,” pungkasnya.


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #tradisi