Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nyumbah, Wujud Penghormatan kepada Orang Tua yang Tergerus

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 14 Juni 2021 | 13:04 WIB
Nyumbah, Wujud Penghormatan kepada Orang Tua yang Tergerus
Nyumbah, Wujud Penghormatan kepada Orang Tua yang Tergerus

TABANAN, BALI EXPRESS-Nyumbah menjadi sesuatu yang agak asing di telinga  masyarakat saat ini, terutama remaja. Peradaban zaman telah menggerus bentuk penghormatan kepada orang tua dengan cara menyentuh kaki orang tua ini.


Hal ini kembali digelorakan oleh Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB) Tabanan. Menurut Ketua APHB Tabanan, I Putu Heri Dianandika, S.Pd.H, M.Pd, perlu dibangun kembali tradisi Nyumbah atau menyentuh kaki orang tua. “Nyumbah ini penting,” ungkapnya, di sela kegiatan Pembinaan Keluarga Hindu Purusa Artha yang dilaksanakan di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, pekan lalu.


Kegiatan Nyumbah ini memang sekarang jarang dilakukan. Biasanya baru dilaksanakan saat upacara Mapandes atau Potong Gigi. Momentum tersebut pada umumnya akan membawa dampak emosional yang membuat orang tua dan si anak terharu.


Sementara menurut tradisi beberapa daerah lain, seperti Jawa misalnya, masih dikenal dan dilaksanakan Sungkeman. Ada pula yang hingga membasuh kaki orang tua. Momentum tersebut akan senantiasa dikenang, baik oleh anak maupun orang tua.


Berkenaan dengan itu, Nyumbah diharapkan Heri memperkuat jalinan kasih sayang dan penghormatan anak kepada orang tua. 


Demikian pula orang tua bisa menghargai dan tetap membimbing anak-anaknya seterusnya. Bahkan para peserta juga diputarkan film tentang pentingnya Nyumbah tersebut. “Jadi tradisi Nyumbah ini sebagai bagian dari pembangunan moralitas dalam keluarga,” ujarnya. 


Keluarga merupakan media penting dalam pendidikan karakter. Sebab dalam keluarga para generasi diajarkan dan dididik hal-hal mendasar tentang hidup sebagai manusia. Dengan demikian, keluarga diharapkan menjadi wadah dalam mencetak generasi yang unggul dan berkarakter.


Terkait hal itu, Heri  mengungkapkan, pihaknya tengah bersemangat menggelar kegiatan berupa Pembinaan Keluarga Hindu Purusa Artha. Seperti yang dilaksanakan di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Kamis (3/6) lalu. “Sebelumnya kami telah melaksanakan pembinaan terhadap para Sudhi Wadani. Sekarang kami lanjutkan dengan pembinaan keluarga,” ungkapnya.


Dijelaskan Heri, kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja APHB Tabanan yang sifatnya berkelanjutan. “Keluarga merupakan harapan utama sebagai wadah untuk membangun karakter anak bangsa. Melalui pengertian itu, kami sebagai organisasi kepemudaan merasa punya tanggung jawab moral untuk ikut mendukung terciptanya keluarga yang diharapkan itu,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Dalam kitab suci Weda, demikian banyak nilai-nilai luhur yang tertera. Utamanya dalam melaksanakan kehidupan sebagai manusia. Guna menjadi manusia yang berbudi, maka kekuatan moral sangat penting. 


“Melalui nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pustaka suci Weda, kami mendorong agar setiap keluarga membangun dan menjaga kekuatan moral sebagai landasan dalam mengupayakan pembangunan ekonomi, pendidikan, keharmonisan dan demokratis dalam keluarga,” jelas aktivis dan penulis yang tinggal di Desa Gadungsari, Selemadeg Timur, Tabanan.


Sebagai penunjang pembelajaran, dalam kegiatan itu, pihaknya juga membagikan buku-buku bacaan kepada 50 peserta yang notabane para ibu rumah tangga. Harapannya buku-buku itu dapat diberikan kepada anak-anak mereka untuk dapat menambah semangat belajar. 


Dalam kegiatan tersebut, APHB juga menggandeng salah satu perguruan tinggi Hindu yang diharapkan dapat memfasilitasi anak-anak muda dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan kuliah dengan fasilitas beasiswa bidikmisi maupun beasiswa lainnya. 


“Kedepan, saya berharap banyak kalangan yang bisa membantu kegiatan kami ini. Baik dukungan moral maupun yang lainnya,” harapnya dalam kegiatan yang melibatkan kepala desa, bendesa adat setempat, dan didukung oleh penyuluh agama Hindu non PNS itu.


Heri mengingatkan, pembinaan keumatan merupakan tanggung jawab bersama sebagai umat Hindu. Sehingga tugas pembinaan sehari-hari tak hanya dibebankan kepada lembaga keumatan.


Namun sesungguhnya, setiap umat hendaknya secara sadar saling membina kerukunan dan penguatan moral keagamaan dalam aktivitas di lingkungan keluarga maupun masyarakat. “Kami sangat menyadari bahwa kegiatan semacam ini merupakan tanggungjawab dan cita-cita bersama,” tandas alumni IHDN Denpasar (kini UHN I Gusti Bagus Sugriwa) ini. 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #tradisi