Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Warak Kruron Wajib Bagi yang Pernah Aborsi dan Keguguran

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 15 Juni 2021 | 14:24 WIB
Warak Kruron Wajib Bagi yang Pernah Aborsi dan Keguguran
Warak Kruron Wajib Bagi yang Pernah Aborsi dan Keguguran

DENPASAR, BALI EXPRESS-Bagi orang yang pernah aborsi atau keguguran, mestinya menjalani upacara Warak Kruron. Namun ritual itu seperti terabaiakan. Selain karena faktor ketidaktahuan, banyak yang masih enggan mengakui dirinya pernah melakukan aborsi atau keguguran, sehingga tidak menjalankan upacara tersebut. Padahal, efeknya akan sangat buruk bagi kehidupan orang yang abai akan hal itu.


Ida Pandhita Mpu Yogiswara dari Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Denpasar Selatan mengatakan, Warak Kruron dalam Lontar Senggara Bumi atau Lontar Bhama Kertih, dinyatakan 'kasiratin rah sekala dan niskala'. 


Rah sekala ada yang disebut dengan kruron atau gugur, baik dalam rentang waktu seminggu, dua minggu, atau lebih. Yang kemungkinan disebabkan kecapean, stress, atau karena belum siap untuk hamil, maka dari itu terjadilah aborsi atau keguguran. Hal ini dalam Bhuana Agung dinyatakan kaletehan atau kotor.


“Secara sekala, jika seorang perempuan mengalami keguguran, pasti ada proses pembersihan secara medis agar tidak menimbulkan penyakit lain, " paparnya. 


Jika di alam niskala, lanjutnya, ada di dalam pekarangan kita atau di dalam pekarangan tubuh manusia. "Itu bisa memberikan efek negatif kepada alam, dalam hal ini ibu dan ayah dari anak itu sendiri. Keduanya yang kena,” ujar Ida Pandhita Mpu Yogiswara kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.


Diterangkan Ida Pandhita Mpu Yogiswara, upacara Warak Kruron atau Pangepah Ayu tidak hanya bagi mereka yang pernah melakukan aborsi, tapi juga bagi keluarga yang kandungannya gugur sebelum dilahirkan. Keguguran yang disengaja atau keguguran yang tidak disengaja, seharusnya melakukan upacara.


Ida Pandhita Mpu Yogiswara menjelaskan, jika manusia sudah masuk ke dalam lingkup rumah tangga atau grhastha. Siwa Guru memberi suatu benih yang disebut Rare Cili. Beliau memberikan petuah kepada manusia. Jika mereka dengan benar merawat benih yang diberikan, benih tersebut akan tumbuh menjadi manusia. Jika mereka gagal atau menggagalkan, mereka akan terkena musibah, jika tidak mengembalikan unsur tersebut dengan ritual.


“Cara melakukan ritual Warak Kruron, yakni dengan memberikan lelaban. Kalau kejadiannya baru, diberikan saji putih kuning. Kalau sudah lama, diberikan saji layaknya seperti Pangabenan kalau sudah lebih dari tiga bulan,” ungkap Ida Pandhita Mpu Yogiswara.


Dikatakannya, energi buruk akan menghantui apabila tidak dilakukan pembersihan atau upacara Warak Kruron. Energi buruk itu bisa berwujud anak bayi yang melintas di dalam pekarangan rumah. Di sanalah muncul energi buruk, seperti sakit, banyak kerjaan, tapi hasil kerjaan tidak memuaskan, dan efek negatif lainnya. Namun, jika upacara dilakukan, maka atma dari anak itu akan kembali pada sumbernya.


“Itu semua karena mereka telah terkena kutukan. Maka hal ini harus cepat diproses dengan ritual di tepi segara atau tepi pantai. Tepi pantai merupakan cikal-bakal adanya alam beserta isinya. Karena datangnya dari segara (laut), maka harus dikembalikan di segara,” terangnya.


“Ayah dan ibunya juga perlu dilakukan penyucian. Ayah dan ibunya dilakukan Pangalukatan Panca Maha Bhuta yang dilakukan sulinggih atau Hyang Sang Yogiswara. Nantinya Pangalukatan dengan tirta Siwa Guru. Setelah malukat, barulah dilakukan ritual bebantenan,” bebernya.


Ditegaskannya, upacara Warak Kruron bukan berarti membenarkan praktik aborsi, karena aborsi illegal tetaplah tindakan yang salah. “Dalam ajaran agama Hindu, aborsi disebut dengan Dhanda Bharunana. Sedangkan keguguran yang tidak disengaja disebut Warak Kruron. Meski sebutannya berbeda, namun dampak yang dialami ibu maupun ayah sang calon janin akan merasakan akibat yang sama,” ungkapnya. (ika)



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #tradisi