SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sanggah Kamulan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, tergolong unik. Sebagai salah satu Desa Bali Mula di Buleleng, Sanggah Kamulan di Les wajib dibangun menggunakan struktur pohon Dapdap. Jika dilanggar, maka dipastikan berakibat fatal.
Sanggah Kamulan sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Pada ruang sebelah kanan diyakini adalah linggih Dewa Brahma, ruang sebelah kiri adalah linggih Dewa Wisnu dan ruang tengah linggih Dewa Siwa.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) setiap rumah di Desa Les terdapat Sanggah Kamulan dari pohon Dapdap yang tumbuh subur. Sanggah Kamulan itu rata-rata dikelilingi tembok panyengker.
Kelian Desa Adat Les, Made Adiarta menjelaskan, penggunaan pohon Dapdap sebagai bahan utama Sanggah Kamulan memang sudah dilakukan secara turun-temurun.
Tidak ada catatan tertulis, sejak kapan itu dilaksanakan. Namun, bukan tanpa pertimbangan, mengapa para pendahulunya di Les memilih pohon Dapdap.
Pohon Dapdap ini juga sering dimanfaatkan sebagai tanaman penyela atau perindang. Bahkan, secara medis, daun Dapdap yang sering disebut daun sakti ini, juga kerap dijadikan bahan ramuan obat.
“Menurut para leluhur kami, menggunakan pohon Dapdap, agar pohon ini dirawat selalu. Berarti di rumah selalu ada orang. Karena kan disiram setiap hari. Ini secara filosofis agar kami selalu eling setiap hari dengan Sanggah Kamulan,” ujarnya, Selasa (15/6) siang.
Selain menggunakan pohon Dapdap, struktur Sanggah Kamulan juga menggunakan anyaman bambu berupa Klatkat yang diikat dengan tali bambu atau tali ijuk.
Menariknya lagi, Sanggah Kamulan ini tidak boleh memakai paku atau tali plastik. Tetapi tetap harus menggunakan tali bambu atau tali ijuk sebagai pengikat.
“Sanggah Kamulan kami tidak boleh dibuat dari beton dan kayu berukir seperti umumnya Sanggah Kamulan di Bali. Inilah keunikannya. Kalau dilanggar, biasanya dampaknya secara niskala. Bisa penghuni rumah itu kesakitan, rumah tangga tidak harmonis, dan gangguan niskala lainnya,” imbuh Adiarta.
Sanggah Kamulan masyarakat Les memakai ukuran tapak kaki pemiliknya. Biasanya menggunakan hitungan 11 x 7 tapak. Dimana, jarak Utara-Selatan 11 tapak, dan jarak timur-barat 7 tapak.
Pemakaian tapak kaki pemiliknya dan bukan tapak kaki orang lain didasarkan kepada keputusan Sang Hyang Anala : Muwah kengetakna, yan ri kalaning kita ngawe sukat wewangunan tulakakna ring buana sariranto, para ikang mamet, sakeng rika juga pasuk wetunia, yata urip lawan patinia, paweh lawan walinia, suksma mwah maring nguni.
Artinya, yang patut diingat, pada waktu Anda membuat ukuran bangunan, ukurlah diri Anda, dari sanalah diambil bagian-bagiannya, sebab dari sana jugalah keluar masuknya, demikian pula hidup dan matinya, memberi dan mengembalikannya, pada akhirnya kembali musnah pada asalnya dahulu.
Bangunan Sanggah Kamulan beruang tiga ini, lanjutnya, wujud fisiknya berupa dua ruang bertempat di atas menggunakan pohon Dapdap dengan Klatkatnya, diantara kedua sanggah pohon Dapdap itu, yaitu pada bagian bawah diletakkan batu yang posisinya agak menonjol. Batu itu harus muncul sekitar 5 cm di permukaan tanah, yang tempatnya persis di tengah-tengah.
Ruang di sebelah kiri dan kanan terbuat dan pohon Dapdap dan Klatkatnya, sedangkan pada bagian tengah diantara kedua sanggah dan pohon Dapdap tersebut berupa batu. Sanggah itu terdiri atas 4 batang pohon Dapdap yang tingginya disesuaikan dengan tinggi pemiliknya.
“Keempat pohon Dapdap ini dihubungkan dengan Klatkat yang diikat dengan tali bambu atau ijuk ” bebernya.
Terkait ritual pemujaan, Adiarta menjelaskan, masyarakat Les senantiasa menghaturkan banten saiban atau ngejot setiap hari setelah selesai memasak. Ini sebagai wujud bakti dan ingat kepada leluhur.
Selain itu, padagingan Sanggah Kamulan disimpan dalam tiga kotak di atas tempat tidur utama yang diletakkan dalam Pelangkiran. Kotak stana Ida Bhatara disebut Panegtegan.
Pelangkiran yang berada di atas tempat tidur utama terdiri atas tiga kotak. Kotak pertama terletak di sebelah timur berisi uang kepeng 1700. Uang kepeng 1700 ini terdiri atas delapan ikat dan 100, sebab masing-masing ikat isinya 200.
Delapan ikat ini melambangkan delapan penjuru mata angin. Sedangkan 100 itu simbul uang sebagai lambang permohonan rezeki. Kotak yang di tengah berisi uang kepeng 700, dengan tujuan agar bisa memberi kesuksesan atau hasil sebagaimana yang diharapkan.
“Kotak yang ketiga, di sebelah barat berisi uang kepeng 225 atau satu ikat ditambah 25. Jumlah ini mempunyai makna yang sama, yaitu untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Pada Panegtegan paling Utara stana Bhatara Wisnu, di tengah Bhatara Siwa, dan di Selatan Bhatara Brahma,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya