Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Matuun, Ritual Kematian di Desa Les

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:36 WIB
Matuun, Ritual Kematian di Desa Les
Matuun, Ritual Kematian di Desa Les

TEJAKULA, BALI EXPRESS - Desa Les di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, memiliki tradisi unik dalam kaitan upacara Pitra Yadnya. Sebagai salah satu Desa Bali Mula yang ada Buleleng, tradisi pelaksanaan Pitra Yadnya ini sudah dilaksanakan secara turun temurun dan menjadi dresta masyarakat setempat.


Kelian Desa Adat Les, Made Adiarta mengatakan, upacara Pitra Yadnya dimulai dengan melaksanakan Nyubrahma Daki (Ngatelunin), Nyubrahma Telah (Ngarorasin), Matuun, Malukat, sampai Nebas.


Penguburan sawa di Desa Les, memiliki tata cara yang berbeda. Pasalnya, penguburan sawa dapat dilangsungkan dalam satu tempat di Setra. Titik kuburan ini dimiliki satu keluarga, boleh lebih dari satu sawa.


Petulangan di dalam liang kubur dapat disisihkan ke samping, untuk selanjutnya ditaruh lagi sawa yang baru. “Upacara di Setra ini dihaturkan Jro Balian yang khusus bertugas di Setra Gremet, di Pura Dalem Gremet,” jelasnya.


Dikatakan Adiarta, bentuknya seperti gudang tertutup, dan suatu saat jika ada sawa baru, maka gudang itu di buka kembali. Hal ini mungkin berlaku sampai tiga tahunan, atau sudah dapat dibuka kembali untuk diisi sawa baru keluarga yang meninggal.


Kemudian dilanjutkan dengan upacara tiga hari yang disebut upacara Nyubrama Daki. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara dua belas hari disebut dengan upacara Nyubrama Telah. 


Masyarakat setempat mengartikannya sebagai upacara penyucian. “Biasanya dini hari atau setelah pagi hari, keluarga yang bersangkutan mempersiapkan banten Bebangkit, yang fungsinya untuk memanggil Hyang Pitara untuk hadir, karena akan dibuatkan upacara pebersihan (Matuun),” imbuhnya.


Ciri utama dari banten Matuun adalah menggunakan celeng bebangkit muani (babi jantan). Sarana yang sejenis dengan sate isi memiliki hitungan ganjil. Mulai dari hitungan tiga, lima, tujuh, sebelas, hingga tiga puluh tiga. “Ini adalah simbol dari Nawa Dewata, sebagai saksi pelaksanaan upacara,” bebernya.


Secara umum di Les tidak mengenal Ngaben. Namun, ada upacara Matuun yang identik seperti Ngaben. Setelah Matuun, barulah dilaksanakan Mamarek dan Ngalukat. Mamarek dilakukan di sejunlah pura di Desa Les, seperti Pura Dalem Gremet (Dalem Mrajepati) memohon penyucian dari Dalem Mrajepati sebagai Bethari Durga.


Upacara Mamarek di Pura Dalem Suci (Dalem Pingit) bertujuan memohon penyucian kepada Dewa Siwa. Selanjutnya memohon penyucian di Dalem Suan Anyar, dan dilanjutkan dengan Ngalukat ke segara. Disimbolkan dengan perahu berlayar di segara dan melepas pitik selem (ayam hitam/putih) ke segara.


Upacara berlanjut dengan Ngalukar Jemekan sebagai simbolis Dewa Pitara di rumah. Mamarek dilakukan untuk memohon agar Hyang Pitara dapat ngayah kepada Dewa Siwa dan Dewi Durga yang dimohonkan di Pura Dalem Gremet dan Dalem Suci.


Upacara terakhir adalah Nebas. Pelaksanaannya bisa dilakukan satu tahun dari tegak upacara Matuun. Hal ini tergantung kemampuan keluarga yang bersangkutan untuk melaksanakan. 


“Beberapa diantara keluarga di Desa Les, sudah ada yang melaksanakan upacara Matuun diikuti dengan upacara Nebas pada tiga hari setelah tegak upacara Mamarek dan Matuun. Upacara ini dimaksudkan untuk ngalinggihang Dewa Hyang di Kamulan masing-masing keluarga,” pungkasnya. 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #dresta #hindu #tradisi #buleleng