GIANYAR, BALI EXPRESS – Piodalan di Pura Suci, Banjar Mas, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar berlangsung Rabu (23/6). Rentetan upacaranya dibarengi dengan beberapa tarian, mulai dari Rejang Dewa, Baris, Topeng hingga Rejang Kesari.
Khusus untuk tarian Rejang Kesari, ditarikan oleh para pemudi Sekaa Teruna (ST) Bina Warga Banjar Mas. Pementasan rejang itu pun bukan tanpa makna, melainkan lambang kesuburan. Khususnya di wilayah Desa Sayan yang kini masih terdapat areal persawahan, perkebunan hingga saluran irigasi yang sangat memadai.
Sehingga di tengah pandemi saat ini, warga masih bisa bertahan hidup memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari hasil perkebunan yang ada. Sebagai ungkapan bhakti dan rasa syukur atas apa yang diperoleh saat ini, tarian itu pun sebagai simbolnya.
Pelatih tari, Ni Ketut Maskar Denawangi, S.Sn, menjelaskan, Rejang Kesari adalah filosofi atau manifestasi dari Dewi Sri. Dewi Sri merupakan lambang kesuburan, khusus di Desa Sayan sebagai daerah yang masih agraris. Meski beberapa lahan sudah beralihfungsi menjadi akomodasi pariwisata, khususnya vila.
Lahan hijau yang tersisa saat ini pun dipandang perlu dipertahankan dan disyukuri di tengah pandemi. “Sangat tepat mementaskan Rejang Kesari untuk memohon kesuburan dan kerahayuan jagat,” paparnya.
Ditambahkannya, Rejang Kesari adalah rejang baru diciptakan Ida Ayu Made Diastini. Kesari berarti sakti dari Kesawa (Wisnu) atau Kresna, yakni Dewi Sri dalam manifestasinya sebagai dewi kesuburan.
“Untuk busana penarinya seharusnya memakai kebaya kuning, kamen kuning selendang putih. Namun, karena yang dimiliki oleh pemudi kebaya putih, sehingga kami gunakan yang ada tanpa menghilangkan makna tarian itu sendiri,” sambungnya.
Maskar juga menyampaikan, umumnya untuk tata rias rambut ada bedanya dengan remaja dan ibu PKK. Penari yang sudah berumah tangga memakai sanggul biasa dilengkapi dengan untaian padi lima untai diikat benang tridatu, dan bunga sandat sebagai filosofi hijau tanaman padi.
Sementara penari remaja atau yang belum berkeluarga, memakai pusung oncer dilengkapi untaian padi lima ikat menggunakan benang tridatu dan bungai sandat sebangai lambang hijaunya padi. “Penarinya saat ini dari pemudi berjumlah 11 orang,” imbuh perempuan yang juga sebagai guru tari di SMP Negeri 2 Ubud ini.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya