Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tarikan Topeng Sidakarya Tak Sembarang, Butuh Persiapan Sekala-Niskala

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 26 Juni 2021 | 19:11 WIB
Tarikan Topeng Sidakarya Tak Sembarang, Butuh Persiapan Sekala-Niskala
Tarikan Topeng Sidakarya Tak Sembarang, Butuh Persiapan Sekala-Niskala

DENPASAR, BALI EXPRESS-Tari Topeng Sidakarya merupakan tarian yang cukup sering dipentaskan sebagai pamungkas dalam upacara yadnya. Tarian ini terkait cerita kesaktian Brahmana Keling yang dimuat dalam Lontar Bebali Sidakarya.


Dikisahkan pada awalnya Brahmana Keling tak diakui saudara oleh Dalem Waturenggong. Namun akhirnya karena kekuatan dan kehebatan sang brahmana dan atas petunjuk Ida Bhatara Besakih, sang brahmana pun diakui oleh Dalem Waturenggong. Hingga pada akhirnya untuk kesuksesan upacara yadnya, tarian Sidakarya disarankan untuk dipentaskan.


Tentunya setiap tarian sakral memiliki kisah tersendiri. Demikian juga penarinya mendapatkan pengalaman dan kesan tersendiri saat menarikannya. Bahkan, tak jarang ada pengalaman magis di luar nalar yang kadang mengundang rasa penasaran, antara percaya dan tak percaya.


Jro Mangku I Made Dwipayana Satria mengungkapkan kisahnya yang cukup menarik sebagai penari Topeng Sidakarya. Dituturkan beberapa tahun lalu dirinya sempat terkesan dengan beberapa buah topeng di sebuah griya yang ia rahasiakan namanya. 


“Tyang (saya) memang biasa tangkil ke griya tersebut, karena Ida Pedanda sebagai nabe tyang. Nah suatu ketika tak sengaja melihat beberapa tapel (topeng), salah satunya tapel Sidakarya. Tyang terkesan dan tertarik dalam hati, tapi tidak sampai keluar lewat ucapan,” ungkapnya, pekan kemarin.


Hari-hari pun berlalu. Hingga pada suatu hari sang sulinggih lebar (wafat). Tiba-tiba Jro Mangku pun bermimpi. Dalam mimpinya, ia didatangi sosok sulinggih.  Sosok tersebut kemudian memberikan sebuah katung (tempat topeng). Saat dibuka, benar saja isinya beberapa topeng. “Sosok tersebut kemudian masuk ke dalam kamar suci dan menghilang,” ingat pemuda asal Banjar Panti Gede, Desa Pemecutan Kaja, Denpasar ini.


Sekitar satu minggu kenudian, Ida Pedanda Istri menelepon paman dari Jro Mangku Dwi. Melalui pembicaraan di telepon, Ida Pedanda Istri berpesan agar Jro Mangku Dwi segera ke griya. Setibanya di griya, laki-laki kelahiran 29 Oktober 1991 tersebut, kemudian diberikan topeng-topeng yang dahulu sempat membuatnya terkesan. 


Selain Topeng Sidakarya, dirinya juga diberikan Topeng Tua, Topeng Keras, dan Topeng Penasar. “Tak hanya topengnya, tapi berikut pakaiannya,” ujar Jro Mangku Pura Maospahit tersebut.


Dari hal itu, keinginannya untuk menarikan topeng-topeng itu kian kuat. Jro Mangku yang kesehariannya membuat topeng ini pun terdorong belajar. Hal yang menarik kembali terjadi. Sempat mencari guru penari topeng, tapi beberapa kali gagal. Justru akhirnya tamatan IHDN Denpasar (kini UHN IGB Sugriwa) tersebut diajari salah seorang teman, yang juga pamangku.


Hal itu juga bermula tanpa kesengajaan. Lantaran gagal mendapatkan guru, temannya yang bernama Jro Mangku Pande Made Purnatha sempat menawarkan mengajarinya menari. 


Tawaran yang dibumbui kelakar itu ternyata menjadi serius. “Akhirnya tyang diajari beliau, bahkan secara cuma-cuma,” kenangnya. Setelah sekian lama berlatih, akhirnya Jro Mangku Dwi mulai menarikan Topeng Sidakarya sejak 2018.


Lantas, apa saja yang perlu disiapkan menarikan Topeng Sidakarya? Persiapan utama seorang penari, menurutnya adalah mental. “Mental ini penting, yakni kesiapan kita bertemu dengan audiens. Kemudian basik menari, seperti tandang, tangkep, tangkis,” katanya.


Selanjutnya harus ada proses penyucian diri berupa pawintenan bagi penarinya. Sehingga, selain kematangan olah lahiriah, maka secara batiniah juga sangat penting. “Jadi tidak boleh sembarangan. Harus punya kematangan spirit. Kalau tyang pribadi kebetulan sudah mawinten mangku. Sedangkan penari pada umumnya, biasanya mengikuti pawintenan di griya,” paparnya.


Lantaran Tari Topeng Sidakarya berkaitan dengan bagian khusus dari upacara yadnya, maka menurutnya, tak boleh sembarang orang yang menarikan. Misalnya, kata dia, memahami dan menguasai ucap-ucap atau hal yang diucapkan saat menari. Ucap-ucap tersebut biasanya dicapkan biasa atau dilantunkan dengan tembang tertentu. “Ada tanggung jawab besar muputang wali (menyelesaikan ritual). Jadi harus punya skill,” katanya. 


Ada pengalaman yang masih melekat dalam ingatan Jro Mangku Dwipayana, saat menari Topeng Sidakarya di Pura Uluwatu baru-baru ini. Di sela-sela menari, ia melihat sebuah sinar di meru salah satu palinggih. 


“Sinar tersebut turun perlahan. Mulanya tyang kira pantulan cahaya, tapi ternyata bukan,” ungkapnya.


Sinar tersebut bergerak perlahan. Awalnya turun di atas meru. Meski siang hari, sinar tersebut terlihat olehnya sangat jelas. Dirinya pun merasa takjub dan sempat memperhatikan sinar tersebut. “Setelah beberapa lama, sinar tersebut kembali naik dan menghilang,” katanya.


Ternyata sinar aneh tersebut hanya dilihat dirinya. Beberapa teman yang diajak ngayah saat itu tak melihat. Hingga kini sinar tersebut masih menjadi misteri. Namun dirinya benar-benar terkesan. “Pengalaman itu masih teringat jelas hingga saat ini,” katanya. 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #pura #tradisi