Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nginang, Cara Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut yang Terpinggirkan

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 28 Juni 2021 | 18:07 WIB
Nginang, Cara Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut yang Terpinggirkan
Nginang, Cara Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut yang Terpinggirkan

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Nginang merupakan salah satu aktivitas yang dahulu banyak dilakukan masyarakat di Bali. Namun, kini semakin jarang dilakukan, dan yang tersisa lebih banyak dilakukan lansia. Padahal, Nginang bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut.


Praktisi usada Bali, Gede Sutana, S.Kes, M.Si mengatakan, Nginang adalah aktivitas mengunyah daun sirih yang biasanya ditambahkan dengan kapur tohor, biji pinang, dan gambir. Tradisi Nginang dapat menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kapur tohor yang dicampurkan pada sirih merupakan bahan kimia yang bersifat basa.


“Sekarang ini, mungkin sudah jarang atau bahkan ada yang tidak pernah mendengar istilah Nginang. Padahal, Nginang merupakan kebiasaan warisan leluhur yang sudah sangat langka dan hampir punah di Bali,” jelasnya.


Dikatakan Sutana, peminatnya sangat sedikit dan hanya dilakukan orang-orang tertentu saja. “Mungkin jorok, itu alasan kenapa Nginang atau menyirih menjadi tidak begitu populer bagi generasi saat ini,” kata Sutana.


Selain itu, gencarnya iklan pasta gigi yang dipromosikan perusahaan dan pegiat kesehatan, menjadi penegas lain bahwa cara menjaga dan merawat gigi yang baik adalah dengan menggosok gigi dengan pasta gigi, bukan dengan Nginang.


Di Bali, Nginang ini biasanya dilakukan orang-orang yang sudah tua (lansia). Selain itu, juga disuguhkan kepada para tamu, para sulinggih dan pamangku yang disebut Macanangan. Pacanangan (bahan-bahan untuk Macanangan) itu biasanya menjadi rayunan (suguhan) untuk seorang sulinggih.


Selain untuk pergaulan sosial, Pacanangan di Bali juga digunakan masyarakat untuk alat upakara (banten) dan disuguhkan kepada para leluhur. Bahkan, pada hari suci tertentu, penggunaan Pacanangan begitu vital.


Sutana menambahkan, secara umum Nginang dilaksanakan dengan cara meletakkan kapur sirih (Calcium Hidroksid) dan beberapa potongan kecil buah pinang (Areca Catechu) di atas lembaran daun sirih (Piper Betle Leaves). Terkadang ditambah campuran lain, seperti gambir (Uncaria Gambier).


Daun sirih dilipat bersamaan dengan campuran lainnya, selanjutnya dimasukkan ke dalam mulut di antara gigi dan pipi, kemudian dikunyah. Gumpalan tembakau digosok-gosokkan pada permukaan labial gigi dan mukosa bukal sambil mengunyah campuran daun sirih. 


Saliva (air liur) hasil menginang yang berwarna merah, ada yang dibuang dan ada juga yang ditelan para penikmat Nginang. Bahan-bahan yang digunakan dalam Nginang dipercaya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan gigi dan mulut. 


Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengemukakan, kebanyakan para penginang memiliki mulut yang sehat, gigi yang kuat, jarang lubang, dan jarang tanggal, bahkan sampai tutup usia, walaupun gigi mereka berwarna agak kekuningan/kemerahan.


Hal tersebut memiliki korelasi terhadap kesehatan gigi dan mulut. Sebab beberapa campurannya, yakni gambir serta daun sirih dikenal sebagai antiseptik. “Senyawa fitokimia yang terkandung di dalamnya dapat mencegah pertumbuhan kuman-kuman penyebab sakit gigi dan bau mulut,” ujarnya.


Selain itu, nginang juga menggunakan endapan kapur sebagai campuran. Endapan yang telah membentuk pasta ini mengandung kalsium yang diyakini punya manfaat bagi kesehatan gigi dan tulang. “Sedangkan tembakau dapat digunakan sebagai obat luka, karena mengandung alkoida, saponin, flavonoida dan polifenol,” bebernya. 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #tradisi