Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sepenggal Kisah Magis Aksi Ki Barak Panji di Pura Segara Penimbangan

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 30 Juni 2021 | 19:48 WIB
Sepenggal Kisah Magis Aksi Ki Barak Panji di Pura Segara Penimbangan
Sepenggal Kisah Magis Aksi Ki Barak Panji di Pura Segara Penimbangan

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Pura Segara Penimbangan yang terletak di Pantai Penimbangan, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, diyakini sebagai pura penyeimbang Bali. Pasalnya, pura ini berada di tengah-tengah antara Buleleng Barat dan Buleleng Timur.


Meski secara administrasi terletak di Desa Baktiseraga, namun secara adat Pura Segara Penimbangan diempon Desa Adat Panji. Pujawali di Pura Penimbangan ini dilaksanakan setiap Purnamaning Sasih Kapat dan nyejer selama tiga hari.


Tidak sulit bagi pamedek untuk menjangkau Pura Segara Penimbangan. Lokasinya persis di sebelah timur obyek wisata Pantai Penimbangan. Pura Segara Penimbangan ini jaraknya hanya sekitar 5 meter dari bibir pantai.


Kelian Desa Adat Panji Gusti Ketut Susila Dharma, 50, mengatakan, tidak ada catatan secara tertulis tentang sejarah Pura Segara Penimbangan. Hanya saja, baru dilakukan perehaban pada tahun 1996 silam. Arsitektur pura ini pun sudah menggunakan ukiran dari Pasir malela. 


“Setahu tiang (saya) Pura Segara Penimbangan ini memang sudah ada sejak dahulu. Dikatakan Penimbangan, karena lokasinya pas di tengah-tengah. Kalau diukur sepajang Pantai Buleleng,” ujar Gusti Susila kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Ada sejumlah gugusan palinggih yang ditemukan di Pura Segara Penimbangan. Di sebelah timur terdapat tujuh buah palinggih dan di sebelah selatan dibangun sembilan buah palinggih. Sementara di jaba terdapat tiga buah palinggih. 


Palinggih di sisi timur merupakan linggih Ida Bhatara Ngurah Nyarikan, Dewa Bestala, Ngurah Pasek, Kebayan, Dewa Ngurah Agung Segara, Ulun Danu, dan Surya. Sementara, palinggih di Selatan merupakan Ida Bhatara Ayu Mas Taman, Ngurah Bukit, Dewa Ngurah Segara, Majapahit, Wahyu Mas Penganten, Dewa Ayu Manik Galih, dan Dewa Taksu. Sedangkan yang di luar panyengker pura, tepatnya di ujung selatan terdapat Palinggih Ida Bhatara Ratu Sapu Jagat.


Gusti Susila Dharma menyebut, di Palinggih Taksu ini terdapat sebuah arca batu yang dipahatkan menempel di Palinggih Taksu tersebut. Arca Cina yang berwujud seorang lelaki gemuk duduk bersila, berkepala gundul dengan perut buncit dalam sikap semadi menghadap ke laut Jawa. 


Palinggih Taksu ini merupakan Palinggih Ratu Bungkah Kaang. Konon arca tersebut sebagai peringatan nakhoda kapal milik Dampu Awang atau ada juga yang menyebutnya Empu Awang dari Cina yang pernah kandas di Pantai Desa Panji.


Keberadaan Palinggih Ratu Bungkah Kaang ini tidak terlepas dari kisah Ki Barak Panji Sakti. Satu-satunya palinggih ini yang diketahui sejarahnya. 


“Kalau Palinggih Ida Bhatara Dewa Taksu Bungkahing Kaang, memang sangat erat kaitannya dengan Ki Barak Panji Sakti. Itu sebelum Beliau menjadi Raja Buleleng, saat usianya masih remaja, ya sekitar 18 tahunan,” jelasnya.


Di mana pada masa itu seorang pedagang asal Cina yang hendak berdagang ke Buleleng menggunakan kapal. Saat kapal sandar di Pantai Penimbangan, tiba-tiba kapal dari Cina itu rusak dan karam di tengah laut. 


Pedagang ini berusaha meminta pertolongan masyarakat Panji dan sekitarnya, namun tidak mampu memperbaiki kapal yang mengalami kerusakan. Pemilik kapal kembali meminta tolong kepada Raja Panji Ki Pungakan Gendis. Namun juga gagal. 


“Sampai pemilik Kapal Cina itu bersayembara. Barang siapa yang mampu memperbaiki kapal laut yang karam hingga bisa ditarik ke tengah laut, maka akan diberikan imbalan seisi kapal itu,” imbuhnya.


Hingga akhirnya sayembara itu didengar Ki Barak Panji Sakti. Ia pun ikut dalam sayembara tersebut, dengan kemampuan gaib sebilah keris Ki Baru Semang yang dibawanya.


Ki Barak Panji Sakti kemudian mengacungkan tangannya ke arah kapal tersebut, dan perlahan-lahan kapal tersebut bergerak ke tengah laut. Seketika itu masyarakat yang menyaksikan bersorak mengelukan-elukan Ki Barak Pabji Sakti dan pedagang Cina itu pun memberikan semua isi kapalnya yang berupa emas, berlian, kain, beras dan lain sebagainya, sehingga membuat Ki Barak Pabji Sakti menjadi kaya-raya. 


“Setelah berhasil diselamatkan, pedagang asal Cina ini kemudian memberikan imbalan atas pertolongan itu. Kemudian dibangunlah sebuah palinggih di kawasan Pura Segara Penimbangan,” ungkapnya.


Atas kekuatan yang dimilikinya itu, dukungan rakyat menjadi semakin besar terhadap Ki Barak Panji Sakti. Tak pelak membuat Ki Pungakan Gendis kian murka, hingga pada akhirnya memutuskan untuk melakukan peperangan dengan Ki Barak Panji Sakti. Dalam peperangan itu Ki Pungakan Gendis tewas dan peperangan dimenangkan Ki Barak Panji Sakti.


Dengan gugurnya raja Pungakan Gendis itu, maka mulailah era pemerintahan baru di bawah kekuasaan Ki Barak Panji Sakti  yang kemudian dikenal sebagai I Gusti Ngurah Panji Sakti, yang setelah dinobatkan menjadi raja bergelar Anglurah Ki Barak Panji Sakti. Dengan begitu Desa Gendis pun berubah nama menjadi Desa Panji. 


Pamedek yang nangkil ke Pura Segara Penimbangan rupanya tidak hanya datang dari wilayah Panji dan sekitarnya. Namun juga berasal dari berbagai wilayah di Bali. Pura ini senantiasa ramai dikunjungi setiap hari suci, seperti Purnama dan Tilem.


Dikatakan Kelian Desa Adat Panji, Gusti Ketut Susila Dharma, pamedek yang nangkil ke Pura Segara Penimbangan memang senantiasa ramai. “Ya memohon keselamatan, kerahayuan, rezeki. Memang yang berstana di Pura Segara Penimbangan sangat pemurah,” ungkapnya.


Ia menyebut, ada kejadian mistis saat proses Ngenteg Linggih di pura ini beberapa tahun silam. Kala itu, duwe ida medal (keluar). Ukurannya, sebut Gusti Susila, sebesar kapal. “Duwe beliau seperti ikan hiu, tetapi bersinar. Saat Ngenteg Linggih ngaturang pakelem. Semua krama desa melihat kejadian itu,” akunya.


Sarana yang dihaturkan saat pujawali setiap Purnama Sasih Kapat dilakukan berupa sarana jangkep, yakni banten bangun urip maulu ajang. Serta menggunakan Guling Pedatengan. “Tidak ada pantangan sarana yang dihaturkan,” pungkasnya. 





Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #upacara #hindu #tradisi #buleleng