DENPASAR, BALI EXPRESS-Pisang merupakan tumbuhan yang multimanfaat dalam upakara Hindu dan adat di Bali. Mulai dari daun, buah, batang, bahkan bonggolnya.
Mulai dari tingkat upakara yang sederhana hingga besar, berbagai bagian tumbuhan yang mudah tumbuh di daerah lembab ini sangat vital perannya. Demikian pula dalam bidang kuliner, hampir semua bagian pisang bisa dimanfaatkan.
“Pisang atau biu dalam Bahasa Bali memang sangat penting fungsinya dalam adat maupun upakara umat Hindu di Bali. Tanpa pisang, maka upakara tidak lengkap rasanya, meskipun fungsi tanaman sebagai simbol dan sekaligus persembahan,” ungkap Jro Mangku Wayan Pada, Kamis (1/7).
Diterangkannya, hampir semua bagian pisang dimanfaatkan dalam upakara. Mulai dari daun dimanfaatkan sebagai alas canang, segehan, hingga pembungkus beberapa kelengkapan upakara. Misalnya tepung tawar dan encak-encakan yang ada dalam banten.
“Tak hanya daun yang segar, daun yang sudah kering atau disebut kraras juga digunakan dalam berbagai kelengkapan upakara,” ujarnya.
Kehadiran buah pisang juga kerap ditemui dalam canang, pajati, penjor, gebogan, dan sebagainya. Keberadaan pisang dalam berbagai bentuk persembahan itu memiliki makna masing-masing.
Dalam penjor misalnya, sebagai perwakilan pala gantung. Dalam banten pajati perlambang jari-jemari. Dari segi warna, pisang yang berwarna kuning juga kadang dijadikan simbol Mahadewa.
“Tergantung, buah pisang itu diletakkan di dalam banten apa, ia menjadi simbol tertentu. Bisa simbol kemakmuran karena merupakan hasil alam berupa buah, bisa simbol dewa, atau bahkan tubuh manusia. Seperti dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan, sahananing babanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning ida bhatara, pinaka anda bhuwana,” paparnya.
Batang pisang juga sangat penting dalam upakara. Biasanya dalam pembuatan gebogan, batang pisang yang masih kecil digunakan sebagai porosnya. Buah-buah yang ditata sedemikan rupa ditusuk dengan lidi atau bambu, kemudian ditancapkan pada batang pisang yang juga ditancapkan di bagian tengah dulang. Dengan demikian, buah-buah tersebut tersusun rapi. “Saat menggelar pertunjukan wayang, batang pisang juga digunakan untuk menancapkan wayang,” ucapnya.
Secara keseluruhan, biasanya juga digunakan Biu Lalung dalam upacara tertentu. Biu Lalung merupakan pisang yang lengkap dari daun, batang, buah, hingga jantung pisang. Umumnya Biu Lalung yang digunakan adalah pisang kayu.
Tak hanya untuk upakara. Pisang juga akrab dengan kuliner Bali. Bagian daun biasanya digunakan sebagai alas atau pembungkus makanan. Daun pisang akan menambah aroma dan cita rasa yang khas.
Dahulu, kata, Jro Mangku Wayan Pada, saat kertas minyak dan plastik belum mudah diperoleh seperti saat ini, daun pisang adalah alat pembungkus makanan atau alas makan yang digunakan masyarakat di pedesaan sehari-hari.
“Sebagai alas makanan, biasanya dilipat sedemikian rupa, sehingga menjadi tekor. Daun pisang juga untuk membungkus nasi, jajan, dan tape. Sementara kraras dipakai membungkus jajan mpuk emping atau gipang,” tutur Jro Mangku berusia 47 tahun ini.
Buah pisang, jika sudah masak, tentunya bisa dimakan langsung. Masyarakat biasanya juga mengukusnya atau campuran dalam membuat kue. Biasa juga dibuat kolak yang dicampur dengan gula merah atau digoreng untuk dijadikan keripik.
Menariknya, masyarakat Bali juga mengolah pisang batu yang masih muda untuk dijadikan lauk berupa tum. “Tum biu batu terkenal kenikmatannya di beberapa daerah di Bali. Bahkan ada juga yang menjadikan biu batu sebagai rujak,” katanya.
Batang pisang dalam kuliner biasanya dimanfaatkan untuk membuat jukut ares. Jukut ares berbahan utama bagian dalam batang pisang yang lebih lunak. Sementara kulitnya bisa dimanfaatkan dalam proses memanggang sate.
“Kulit dan pelepahnya juga bisa digunakan sebagai tali alami. Sementara parutan kulitnya sering digunakan sebagai obat tradisional penutup luka. Kulitnya juga bisa dilipat sedemikian rupa dan digunakan membungkus bibit tanaman agar tidak mudah layu,” ucapnya.
Nah, bagian bonggol atau bungkil pisang, kata Jro Mangku yang gemar membaca ini, digunakan sebagai bahan untuk kuliner pula, yakni tum bungkil. Untuk membuatnya, bungkil diparut dan diperas airnya. Setelah itu diseduh dan diperas lagi. Baru kemudian dicampur dengan daging, darah, dan bumbu.
“Ya, tum bungkil biasanya dahulu dibuat saat hari raya tertentu, seperti Galungan. Karena tum bungkil lebih tahan lama dan tidak mudah masam,” paparnya.
Ditambahkan jro mangku, tak hanya untuk bahan kuliner, pisang secara keseluruhan juga digunakan untuk pakan ternak. Di Bali, batang pisang diiris dan dijadikan dedak untuk pakan sapi, babi, bebek, dan lainnya. “Jadi sedemikian banyak manfaat pisang,” ujarnya.
Secara filosofi, pisang kata Jro Mangku Wayan Pada, sangat mulia. Andaikan manusia, kata dia, semua hal tentang pisang bermanfaat bagi kehidupan. “Ini bisa kita jadikan contoh. Meski tak berumur panjang, pisang sangat besar manfaat dan kegunaannya. Kita juga begitu, sebagai manusia tak pernah tahu kapan usia akan berakhir, tapi hendaknya berbuat secara optimal agar mendatangkan manfaat bagi keluarga dana masyarakat,” ungkap Jro Mangku Pada.
Pisang, lanjutnya, juga mengajarkan tekad dan prinsip yang kuat. Sebab, sekalipun batangnya berkali-kali dipotong, tunasnya senantiasa tumbuh kembali. Batangnya tak akan mati sebelum berbuah.
“Jika sudah berbuah, maka tanpa perlu dipaksa, batang pisang akan layu dan mati. Hal ini sebagai lambang tekad dan prinsip yang kuat bahwa kita manusia jangan gampang menyerah untuk mencapai tujuan. Jika suatu ketika napas berakhir, maka berakhirlah dengan terhormat,” tandasnya.
Jro Mangku asal Tabanan ini, berharap agar masyarakat yang masih memungkinkan untuk bercocok tanam, memanfaatkan sebagian lahannya untuk ditanami tanaman upakara.
“Tidak hanya pisang, tapi kelapa, bunga, dan sebagainya yang kita perlukan untuk upakara. Jangan sampai semuanya bergantung pada pasar. Bukan karena masalah uangnya, tapi tanaman upakara yang ditanam, dirawat, dan hasilnya dipetik oleh kita, akan berbeda kesannya. Ada nilai kasih sayang dan bakti yang sangat kental di dalamnya,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya