SINGARAJA, BALI EXPRESS-Rerajahan (rangkaian aksara gambar magis) menjadi salah satu sarana ritual bernilai seni religius yang cukup sering digunakan umat Hindu di Bali. Meski tak lepas dari konsep Rwa Bhineda, benda sakral ini memiliki beragam wujud, mulai dari gabungan mantra, huruf suci, hingga gambar atau lukisan.
Umat Hindu juga mengenal jenis rerajahan yang digolongkan dalam rerajahan panenengen (kanan) atau white magic atau ilmu putih dan kiwa (kiri) alias black magic atau ilmu hitam.
Yang dimaksud dengan rerajahan white magic adalah kekuatan gaib ilmu putih yang biasa disebut aliran kanan (panengen). Fungsinya adalah untuk kebaikan dan kebenaran. Jadi white magic adalah merupakan kebalikan dari black magic.
Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H, M.Ag, mengungkapkan, ada sejumlah rerajahan yang digunakan sebagai sarana white magic, diantaranya Rerajahan Sang Hyang Karana, yang berfungsi sebagai penerang. Penerangan dilakukan dengan jalan melakukan doa atau berdoa kehadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Rerajahan Sang Hyang Resi Purwa Mandawa berfungsi sebagai pemunah dari guna-guna yang bertujuan untuk mencelakai. Sarananya adalah bebas, sedangkan penempatannya di hulu tempat tidur (ring damping masare).
Rerajahan Sang Hyang Taya Suksma Maya fungsinya dipergunakan untuk menolak atau menyembuhkan penyakit keras yang tak bisa disembuhkan dengan segala macam obat-obatan (penolak gering tan kenen tinamban).
Rerajahan Sang Hyang Meneng, dapat dipergunakan pada waktu menjalankan tugas perang. Fungsinya adalah supaya tidak dilihat oleh semua musuh (tan mawas dening satru kabeh). Sarananya adalah bebas.
Rerajahan Brare ini sejenis rerajahan yang biasa dipakai penjaga bumi (pengeraksa rat/jagat) dan bisa dipakai sebagai penolak mala, desti dan leak. “Sarananya adalah buah bungsil merajah brare. Tempatnya ditanam di tanah, kalau dipakai penolak desti dan leak, ditanam di bawah tempat tidur orang yang sakit. Rerajahan ini perlu disiram dengan air setiap hari,” katanya
Rerajahan Sang Hyang Uta Tuli fungsinya adalah untuk dipakai dalam peperangan terhadap orang yang berniat jahat. Rerajahan ini menyebabkan musuh menjadi buta dan tuli. Oleh karena musuh dalam keadaan buta dan tuli, maka niat jahat akan menjadi hilang dan musuh dengan mudah dapat dikalahkan.
Rerajahan Tatulak Tangguh, fungsinya adalah sebagai penolak tujuh teluh tranggana, maksudnya adalah sebagai pemunah desti/leak yang amat sakti. Sarana yang dipakai adalah peripih selaka.
Selain itu, ada pula rerajahan untuk black magic. Yang dimaksud dengan black magic adalah ilmu hitam yang mempunyai kekuatan gaib dan biasa disebut dengan aliran kiri atau kiwa. Fungsinya untuk kejahatan sebagai lawan dari kebaikan.
Rerajahan yang dipakai sebagai sarana dalam black magic seperti Rerajahan Paingkup Agung. Rerajahan ini adalah sejenis pematuh yang dipakai sebagai pangasih-asih. Maksudnya adalah kalau ingin menghendaki sesuatu terhadap orang lain yang semestinya tidak dikasi, karena pengaruh magic dari rerajahan itu, pasti akan diberikan.
“Jadi disini menyebabkan tingkah laku seseorang menjadi terbalik. Dimana dari semula niatnya jahat menjadi baik, benci menjadi kasih atau cinta dan senang jika memang itu yang dikehendaki,” imbuhnya.
Rerajahan Sang Hyang Maya Tan Katon fungsinya bisa digunakan untuk maya-maya, atau bisa tidak kelihatan dan bisa kelihatan. Rerajahan ini biasanya dipakai untuk melengkapi teluh, padestian, pangeleakan.
Kemudian Rerajahan Pasewakan, sarananya adalah sedah semu rose atau daun sirih yang uratnya sama atau simetris dan ujungnya ketemu. Fungsinya adalah agar pembicaraan pada waktu upacara peminangan seorang gadis (ngeluku) bisa berjalan dengan lancar. “Caranya sirih yang sudah dirajah dikunyah atau dikinang di depan orang yang diajak berbicara atau di depan acara peminangan,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya