Pohon Intaran atau Mimba terbukti memiliki banyak khasiat untuk kesehatan seperti tersurat dalam Lontar Taru Pramana. Di Bali, Daun Intaran juga kerap dijadikan sebagai sarana upakara Yadnya khususnya upacara kematian.
Dosen STKIP AH Singaraja, Dra. Wayan Seriasih, M.Hum mengatakan, dalam Taru Pramana,disebutkan khasiat pohon intaran tersebar mulai dari kulit batang hingga daun. Karakter daun intaran
Daun mimba secara ilmiah mengandung senyawa-senyawa diantaranya seperti β-sitosterol, hyperoside, nimbolide, quercetin, quercitrin, rutin, azadirachtin, dan nimbine. Beberapa diantaranya diungkapkan memiliki aktivitas antikanker. Daun mimba mengandung nimbin, nimbine, 6-desacetylbimbine, nimbolide dan quercetin Tanaman mimba mempunyai beberapa kegunaan.
Di India tanaman ini disebut the village pharmacy. Dimana Intaran digunakan untuk penyembuhan penyakit kulit, antiinflamasi, demam, antibakteri, antidiabetes, penyakit kardiovaskular, dan insektisida.
“Daun mimba juga digunakan sebagai repelan, obat penyakit kulit, hipertensi, diabetes, anthelmintika, ulkus peptik, dan antifungsi. Mimba juga bersifat antibakteri dan antiviral,” ujar Seriasih
Selain bagian daun, seduhan kulit batangnya digunakan sebagai obat malaria. Penggunaan kulit batangnya yang pahit dianjurkan sebagai tonikum. Kulit batang yang ditoreh pada waktu tertentu setiap tahun menghasilkan cairan dalam jumlah besar.
Cairan ini diminum sebagai obat penyakit lambung di India. Daunnya yang sangat pahit, di Madura digunakan sebagai makanan ternak. Rebusannya di minum sebagai obat pembangkit selera dan obat malaria.
Daun digunakan untuk penambah nafsu makan,untuk menanggulangi disentri, borok, malaria, anti bakteri. Minyak untuk mengatasi eksim, kepala yang kotor, kudis, cacing, menghambat perkembangan dan pertumbuhan kuman.
Kulit batang digunakan untuk mengatasi nyeri lambung, penguat, penurun demam. Buah dan getah digunakan sebagai penguat. Sedangkan, untuk mengatasi disentri sepertiga genggam daun mimba, 2 jari batang mimba dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Kemudian direbus dengan 3 gelas air bersih sampai air tinggal 3/4 nya; setelah dingin, disaring dan diminum dengan gula seperlunya (2 kali sehari 3/4gelas).
“Jika mengatasi eksim, bisa dilakukan dengan 20 lembar daun mimba dicuci dan digiling halus. Daun kemudian diremas dengan air kapur sirih seperlunya, kemudian ditempelkan pada kulit yang terkena eksim dan dibalut (2 kali sehari sebanyak yang diperlukan),” imbuhnya.
Dalam Usadha Bali (lontar usadha buduh) fungsi daun mimba atau intaran tertuang pada Halaman 4a sebagai berikut: katumbah, musi, pada, 3 besik, isen, 3, iris, tutuhaknà ring irung , mwang ring kàrdna, ampasnyà anggen wdak angganyà sami. Ta, edan yanyà krêng ngigêl sambil matêmbang, sa, sêmbung bangke sêmbung gantung, liligundi, intaran, presama sakàmulan, tri katukà, weh cukà, hningnyà tutuhakna ring kàrdna mwang irung, ampasnya anggen pupur mwang wdak, ma, ong arah-àrah grêhà, ah teka sidhi swahà. Ta, edan matêmbang-têmbang raina wngi, sa, kejanti, cekuh, gamongan, bangle, jae, mica, tri katukà, bawang, isin rong, weh cukà, sidem, tutuhaknà ring kardna, ring irung, ampasnya anggen wdak. Ta, edan, yan ya ngamil-mil, sa, lengàwangi, sulasih
Terjemahan: Ketumbar, mungsi sama-sama 3 biji, lengkuas, 3 iris, teteskan pada hidung dan telinga, ampasnya dipakai membedaki seluruh badannya. Obat sakit gila dengan ciri suka menari dan bernyanyi, sarana: sembung bangke (jenis tanaman perdu yang tumbuhnya merambat, daunnya panjang dan runcing), sembung gantung, liligundi (vitek tripolia), intaran, bersama akarnya, tri ketuka, air cuka.
Beningnya dipakai menetesi telinga dan hidung, ampasnya pakai bedak dan boreh. Obat sakit gila dengan ciri bernyanyi-nyanyi siang malam, sarana: kejanti, kencur, lempuyang, bangle (sejenis temu rasanya pedas, pahit, bau kurang enak), jahe, merica, teri ketuka, bawang, sinrong (rempah yang biasa dipakai parem), air cuka, sidem (semut hitam pohon).
Teteskan pada telinga, pada hidung. Ampasnya pakai bedak. Obat orang sakit gila dengan ciri suka mengulum sesuatu, sarana: minyak wangi, sulasih Tumbuhan Intaran yang disebutkan dalam lontar Taru Premana.
“Jadi leluhur kita di Bali sejatinya sudah sangat paham dengan khasat daun intaran yang luar biasa untuk proses mengatasi kesehatan dan penyembuhan suatu penyakit. Asal konsisten dalam mengkomsumsi, telaten dan tepat dosis serta campuran bahan yang diperlukan,” imbuhnya.
Seriasih mengatakan, semua tumbuhan ini memiliki kandungan nutrisi dan mineral dalam jumlah yang bervariasi. Sifat dan kegunaannya juga berlainan, bergantung dari jenis herbal yang dikomsumsi.
Secara umum masyarakat menggolongkan penyakit kedalam tiga jenis golongan yang dominan dipengaruhi oleh gejala alam seperti panas, dingin/air, angin. Namun, yang didalam lontar pengobatan Taru Premana digolongkan kedalam tiga sifat tanaman yaitu memiliki sifat panas, dingin dan tis.
Pengobatan yang berasal dari ramuan tanaman mungkin tidak serta merta bisa diterima oleh para praktisi kesehatan modern dikarenakan sulit dijelaskan secara ilmiah dan efek kiminya yang rendah.
Namun kita harus mengakui bahwa pengobatan Taru Premana adalah pengobatan yang unik, holistik, dan kesejarahannya cukup panjang. “Kedudukan pengobatan alternatif atau pengobatan traditional ini didorong oleh beberapa hal yakni pengetahuan, kepercayaan, maupun pengalaman seseorang tentang penyembuhan senyakit,” ungkapnya. (bersambung)
Editor : Nyoman Suarna