Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Manik Dalang Sebagai Taksu

Nyoman Suarna • Sabtu, 7 Agustus 2021 | 12:53 WIB
Manik Dalang Sebagai Taksu
Manik Dalang Sebagai Taksu

MENJADI seorang dalang tentu harus memiliki Manik Dalang sebagai Taksu. Simbolnya pun bermacam-macam. Ada yang berbentuk Wayang Ismaya (Tualen) dan Sang Hyang Siwa (Bhatara Guru).


Jro Dalang Putu Ardiyasa mengaku, Manik Dalang sudah disungsung sejak dirinya mawinten sebagai dalang. Taksu itulah yang memberikan energi positif sebagai seorang dalang, sehingga mampu mementaskan Wayang lewat beragam lakon cerita dengan baik.


“Saat diwinten juga sudah ngelinggihang taksu dalang lanang dan istri. Itu yang kami maknai sebagai manik dalang. Dan itu adalah taksu dari Ida Sang Hyang Ringgit,” jelasnya.


Selama sudah menjadi dalang, biasnaya ada saja hal unik yang didengar saat hari-hari tertentu. Namun bukan dirinya yang melihat maupun mendengar secara langsung. Sebab, Jro Dalang memang tinggalnya di Singaraja. Sedangkan Wayangnya berada di kampungnya, Desa Selunglung, Kecamatan Kintamani, Bangli.


“Ibu saya yang pernah mendengar langsung. Pernah kejadian saat lupa menghaturkan sesajen, ternyata Ibu saya mendengar seolah wayang sedang mesolah di kamar suci. Sehingga ibu saya langsung bangun dari tempat tidur dan melakukan persembhayangan,” paparnya.


Jro Dalang Ardiyasa yakin, jika nyungsung taksun dalang, memang memiliki tanggungjawab yang sangat besar. Ia mengaku jika seluruh ritual pemujaan terhadap Dewa Iswara sebagai Dewaning Pewayangan adalah untuk memohon keselamatan, wara nugraha, kerahayuan serta menjaga hubungan dengan taksu yang distanakan agar tetap harmonis. “Kelak saat saya mendalang agar beliau selalu hadir dan membawa energi positif kepada tiang,” pungkasnya. (habis)

Editor : Nyoman Suarna
#sesajen