SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pura Puseh Penegil Dharma atau Pura Penyusuhan di Desa Pakraman Kubutambahan, menyimpan banyak misteri. Entah sejak kapan itu dimulainya tak ada yang mengetahui. Hal-hal aneh yang tidak bisa diprediksi dan dijelaskan pun kerap terjadi.
Pura yang disungsung oleh krama desa Pakraman Kubutambahan ini pun menyimpan beragam keunikan. Selain itu, pura ini juga dikenal keramat. Tidak sembarang orang dapat memasuki areal pura. Dalam areal pura terdapat lima pelinggih pokok. Yang paling utama adalah Ratu Hyang Pingit. Pada pelinggih ini umat dapat memohon tirta sanjiwani yang dikenal pingit dan tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Lalu ada pelinggih Ratu Ngurah, Pelinggih Ratu Penataran Agung yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya para dewa. Selain itu ada pelinggih Ratu Ayu Mutering Jagat yang diyakini sebagai dewa rejeki, yang menguasai bidang perekonomian. Dan Ratu Gede Petengan Agung. “Masing-masing itu memiliki tupoksinya. Kalau Ratu Hyang Pingit bertugas untuk mengeluarkan tirta Sanjiwani. Tirta ini adalah pingit. Tidak sembarangan bisa di tunas. Dipingitkan karena dijaga oleh seorang pendeta. Orang hamil tidak boleh nangkil di Ratu Hyang Pingit dan tidak boleh memohon tirta disana. Sebab bisa keguguran. Kalau nunas tirta itu harus pemangku yang kajumput oleh Ratu Hyang Pingit. Khusus ada mangkunya,” kata Klian Maksan Pura Penyusuhan, Jro Ketut Arcana Dangin
Jro Arcana pun membeberkan salah satu keanehan yang terjadi saat ada pemedek yang hendak memohon tirta Sanjiwani di Ratu Hyang Pingit. Saat itu, tirta yang diambil tidak melalui pemangku, namun diambil sendiri. Tamun tak disangka, bukan air tirta yang didapat, tapi segerombolan semut yang berukuran cukup besar memenuhi ember. Sontak pemedek itu pun terkejut. “Pernah ada yang nunas dulu tidak sesuai prosedurnya. Maka bukan tirta yang didapatkan dari sumur di sebelah pelinggih itu, melainkan gerombolan semut yang diangkat dari sumur itu. Akhirnya minta maaflah dia dengan pemangku dan juga di Ratu Hyang Pingit. Ulang lagi mohon tirtanya,” ujarnya.
Editor : Nyoman Suarna