Desa Bebetin, Kecamatan Sawan memiliki tradisi Sapi Gerumbungan yang diwariskan sejak ratusan tahun silam. Krama meyakini, Sapi Gerumbungan mampu memberikan hasil panen yang berlimpah kepada para petani.
Sampi Gerumbungan tradisi yang berkembang dari tradisi petani Bali ketika membajak sawah diperkirakan telah ada jauh sebelum tahun 1910-an. Istilah Sampi Gerumbungan berasal dari ‘gerumbungan’ yaitu genta kayu (keroncongan) berukuran besar yang dikalungkan pada leher sapi dan menghasilkan suara khas.
Sejarah tentang Sampi Gerumbungan tidak banyak tercatat dalam dokumen tertulis. Namun diyakini jika Sampi Gerumbungan sebagai perayaan dan olahraga untuk menyenangkan dewa-dewa yang dilakukan oleh para petani kaya di Bali Utara.
Namun, diyakini tradisi lokal pada masa lalu dimana sebelum membajak sawah atau metekap. Dimana, para petani mendandani sapi-sapinya sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewa yang mereka puja yaitu Dewa Rare Angon. Usai didandani baru diberi sesaji dengan harapan hasil panen nantinya akan lebih baik dari sebelumnya. Setelah itu, baru para petani akan membajak sawah secara gotong royong.
Kelian Desa Adat Bebetin, Made Sudiasa, 68 mengatakan Sapi Gerumbungan di Desa Bebetin menggunakan sejumlah perlengkapan. Diantara lain adalah uga, lampit, penyelah, penanggu, pot, kober, rumbing, badong, keroncongan, dan gelang sapi atau gongseng.
Uga adalah alat yang diletakkan pada leher sapi. Pada uga terpasang komponen-komponen lain yaitu penyelah yang berada di tengah-tengah, penanggu yang diletakkan pada ujung kirikanan uga, pot dan kober (umbul-umbul kecil) berada di antara penyelah dan penanggu yang berfungsi untuk meramaikan komposisi hiasan pada uga.
Sedangkan akesoris yang terpasang pada sapi diantaranya Rumbing, Badong, Keroncongan dan gongseng. “Rumbing ini hiasan yang dipasang pada kepala sapi, badong dan keroncongan pada leher sapi serta gongseng pada kaki begian depan,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (13/8) siang.
Sapi yang digunakan untuk Sampi Gerumbungan sebut Sudiasa biasanya adalah sapi khusus yang memiliki ciri berupa perawakan yang tegap, kepala yang terangkat, tidak memiliki cacat, dan mudah dikendalikan oleh joki.
Desa Bebetin sebut Sudiasa mempunyai semboyan Wiwit Merta Sari. Menurutnya, semboyan Wiwit Merta Sari ini mempunyai arti bahwa bibit-bibit sapi yang baik ini membawa rejeki bagi masyarakat di Desa Bebetin.
Untuk itu, sapi yang akan digunakan untuk Sampi Gerumbungan dipilih yang memiliki ekor tegak ke atas. Bahkan, pada saat berjalan kepalanya mendongak adalah sapi yang langka dan tidak seperti sapi biasanya.
Sapi ini diistilahkan sebagai Sapi Penumbrag yang berasal dari kata tumbrag yang artinya terjang. Karena adanya kriteria-kriteria khusus yang harus dimiliki sapi untuk menjadi bibit Sampi Gerumbungan maka hal ini membuat harga sapi tersebut menjadi lebih mahal dari sapi biasanya.
“Sapi yang baik itu tergantung dadi bibitnya. Betina dan pejantan itu memang dari bibit yang unggul, dan bisa dijamin untuk sapi gerumbungan. Saat hari tumpek kandang juga sudah pasti dibuatkan bantennya,” ungkapnya. (bersambung)
Editor : Nyoman Suarna