Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bulu Gagak Nunas di Pura Alas Harum, Hanya Ada Enam di Bali

Nyoman Suarna • Rabu, 18 Agustus 2021 | 14:42 WIB
Bulu Gagak Nunas di Pura Alas Harum, Hanya Ada Enam di Bali
Bulu Gagak Nunas di Pura Alas Harum, Hanya Ada Enam di Bali

Bulu dari Barong umumnya terdiri dari dua jenis. Yaitu berwarna hitam yang terbuat dari bulu kuda, dan berwarna putih yang terbuat dari praksok maupun bulu burung bangau. Namun di beberapa pura di Bali, Barong yang ada memakai bulu gagak. Wujud dari Barong ini sama dengan Barong yang ada di Bali, yang membedakan hanyalah bulunya.


Putu Ariyasa Darmawan, M.Ag mengatakan, dari hasil penelusurannya, di Bali hanya ada enam Barong bulu gagak. Lokasinya tersebar di sejumlah pura. yaitu di Pura Dalem Kutuh Desa Adat Gulingan, di Pura Maspait Banjar Singgi Desa Pakraman Intaran.


Kemudian di Pura Dalem Arum Banjar Nyelati Desa Kuwum, di Merajan Puri Tegal Tamu Batubulan, di Pura Pererepan Banjar Bekul Desa Penatih Dangin Puri, dan di Pura Celangu Banjar Pekandelan, Desa Bedulu Gianyar.


Pria asal Gulingan, Kecamatan  Mengwi, Badung ini mengatakan semua Barong bulu gagak yang ada di Bali nunas atau memohon bulu gagak di Pura Alas Arum yang ada di tengah hutan yang disebut Alas Baha yang terletak di Desa Baha, Kecamatan Mengwi. Di hutan ini ada sebuah Pura tempat memohon bulu gagak.


Karena banyak terdapat burung gagak pada jaman dahulu di hutan ini. Sehingga sangat mudah mencari bulu gagak di sekitar Alas Baha, tepatnya di Pura Alas Arum yang terletak di sebelah Timur Laut hutan.


“Namun, jika sekarang di Alas Baha, tidak ada seekor burung gagak yang dapat dijumpai. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kenapa sekarang sulit ditemui Gagak di sana.,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (15/8).


Dosen Filsafat di Jurusan Brahmawidya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini mengatakan, pemakaian bulu gagak sebagai busana dari Barong. Sebelum tahun 1945 di Alas Baha banyak terdapat burung gagak yang bebas beterbangan yang jumlahnya mencapai ribuan ekor.


“Alas Baha merupakan pusat komunitas burung gagak. Burung gagak bebas beterbangan pada saat itu, maka bulu gagak bisa dipergunakan sebagai busana sebuah Barong,” imbuhnya.


Pertimbangan lain, pada waktu itu kondisi ekonomi masyarakat pada saat itu kurang memadai untuk membeli bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat sebuah Barong. Bahan-bahan alternatif bisa dipergunakan untuk melengkapi pembuatan sebuah Barong.


Uniknya, kala itu Pemangku yang ada di Pura Alas Arum menggunakan busana hitam. Konon tata cara memohon bulu gagak adalah dengan menghaturkan sesaji diPura Alas Arum. Maka besoknya akan banyak bulu gagak di sekitar Pura Alas Arum.


Masyarakat tinggal memungut bulu-bulu yang sudah tersedia untuk dibawa ke pura masing-masing dan dijalin menjadi bulu Barong. Jumlah bulu yang diperlukan untuk menjadi busana Barong tidaklah sedikit, perlu ribuan helai bulu gagak utuh.


“Memang ada beberapa Barong yang mengharuskan menggunakan bulu gagak sebagai busananya.,” paparnya. (bersambung)

Editor : Nyoman Suarna
#sakral #tradisi